Binar Bervakansi

10 Tips Nonton Formula 1 Singapore GP

Ada yang tergila-gila sama fiksi Antologi Rasa (Ika Natassa, 2011)? Dulu gara-gara baca buku itu, mulailah menari-nari khayalan bisa merasakan langsung perjalanan sensasional ala tokoh Harris dan Keara. Ain’t no other but the annual Formula 1 Singapore Grand Prix. And it finally happened!

Must say, this world wide racing festivity is enormously full of surprise. Niat awal mah cuma jejingkrakan buat Ariana Grande. Eh tapi ternyata, begitu masuk arena sirkuit, sinting banget ya atmosfernya! Terutama buat para adrenaline junkie, pastikan kalian datang ke sini suatu hari nanti. Bingung gimana persiapannya?  No worries, Birds and Bees! I won’t leave you clueless.

Also read ➸ Ariana Grande: The Honeymoon Tour: Jakarta 2015

SINGAPORE GP 13

SINGAPORE GP 18

1. Beli Tiket Sesuai Kebutuhan

Coba tanya dulu ke diri kalian masing-masing. What would you prefer to see the most? Kalau kalian segitu tergila-gilanya sama racing dan relatif jompo (LOL!), maka sila duduk manis di Paddock Club dan Grand Stand. Nah berhubung incaran utama saya lebih dominan nonton konser, maka pilihan saya jatuh antara Premier Walkabout dan Zone 4 Walkabout. Kita tetap bisa nonton racing kok, malahan dengan sudut pandang eye-level dan tidak usah nunduk-nunduk pakai binocular.

2. Masuk Sejak Sore

Diintip dari rundown, segmen-segmen inti memang cenderung disuguhkan pada malam hari. Namun jangan lupa mengestimasi waktu untuk proses penukaran tiket, hingga berjalan kaki menuju pintu masuk. Saran saya, usahakan maksimal jam 5 sore kalian sudah tiba di dalam. Selain mengantisipasi antrian yang panjang, berkeliling area Grand Prix selagi langit terang rasanya lebih memuaskan.

SINGAPORE GP 19

3. Ready to Walk Whole Day

Siapkan kaki untuk banyak berjalan sepanjang perhelatan. Pakailah running shoes, slippers, atau sneakers senyaman mungkin. Jika ingin membawa anak kecil, pastikan mereka sudah tidak memiliki ketergantungan dengan stroller sama sekali. Soalnya, perpindahan dari satu titik ke titik lain tidak selalu dilengkapi jalur mulus dan rata.

SINGAPORE GP 4

4. Download Singapore Grand Prix Mobile App

Manfaatkan kemudahan akses informasi berbasis digital. Dengan satu aplikasi ini, tidak perlu lagi repot mencari papan navigasi, bolak-balik bertanya jadwal acara, kebingungan mencari toilet, atau bahkan tersesat sekalipun.

SINGAPORE GP 1

5. Entertainment Highlight

Ini poin yang sempat bikin saya ngedumel. Padang Stage yang semestinya menjadi poros utama hiburan malam malah agak mengecewakan secara layout. Menurut saya, posisi barikade depan cukup jauh dari penonton. Jangan harap deh ada kesempatan high five. Moreover, if you’re planning to have some good pictures, try to stay as close as possible to the front.

SINGAPORE GP 9

SINGAPORE GP 8

6. The Night Race

At first I thought I would skip the race. But then I changed my mind. Ayo jadi saksi raung mesin mobil yang menggelegar dari segala penjuru. Bahkan di beberapa sudut, posisi penonton bisa sangat dekat dengan pagar pembatas lintasan. It was so intense. Pun ketika malam final, lintasan kontan diguyur hujan. Ngilu sih nontonnya, tapi sukaaaaaa! 😭😂😭😂

SINGAPORE GP 17

SINGAPORE GP 15

7. Alternatif F&B Yang Lebih Murah

Coba jalan santai ke arah Esplanade Waterfront. Di sana banyak alternatif food stall dengan harga yang lebih masuk akal. Pilihan menunya juga lebih variatif dibandingkan sekitar Market Street Global Cuisine atau Dockside-Portside Hawkers.

SINGAPORE GP 10

8. Free Flow Beer

Yap! Setelah jam 10 malam, mendekatlah sesekali ke arah Gate 3. Saya baru tahu di sana ada bule-bule berseragam yang suka nenteng cup holder berisi flavour beer dingin. Dan semua dibagikan secara gratis!

SINGAPORE GP 16

9. Tepat Memilih Akomodasi

Ada dua titik yang sangat saya rekomendasikan dalam hal akomodasi, yaitu kawasan Beach Road dan Bugis Street. Alasan pertama, karena faktor kedekatan jarak dengan Marina Bay Street Circuit. Saya hanya butuh waktu berjalan kaki 10 menit untuk pulang ke hotel. Second of all, these two will offer you more affordable but still a comfort place to stay.

9

10. Akses MRT

Daripada naik taksi atau bis, gunakan MRT sebagai prioritas transportasi. Selama 3 hari penuh, MRT akan menambah jam operasional hingga pukul 12:30 tengah malam. Praktis, cepat, hemat.

SINGAPORE GP 7

Dengar-dengar nih, Formula 1 Singapore Grand Prix diramalkan berakhir pada tahun 2021 loh. Yang artinya, sisa 4 tahun lagi. Oh no! Make sure you don’t wanna miss this one. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel ARTJOG 2017: 10 Etika Bervakansi Seni

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

24 September 2017

Lokasi: Marina Bay Street Circuit, Singapore

Foto: Andyna, Kevin Lim, Singapore GP

Binar Bervakansi

Beach Trash Wear

The more I go travel around Indonesia, the more I fell head over heels with this giant archipelago. In case you haven’t notice, our shoreline reached more than 59,000 miles, equals to 95,181 kilometers. If this was measured in Europe, our sea territorial would have covered England to Caspian Sea, next to Iran. Yeap! THAT HUGE, Blog Walkers!

tumblr_nrp9d60mGN1tg2ipio1_1280

We serve plentiful of the world’s finest beaches across the country. From Lonely Planet to National Geographic, they all worship it. Beach has always become one of the most irresistable tourism spots. But unfortunately, beach pollution also has turned into a crucial issue in Indonesia. In fact, tons of trashes have been thrown and stranded on the beach every single day.

IMG_7374

As a domino effect, it is so devastating knowing that many of valuable sea animals had killed because of trash. Sea Turtle, for instance, which always been mistaken to identify trash as a swimming Jellyfish (their favorite food obviously). Imagine when these endangered species have to digest a chemical and toxicity stuff into their stomach. No wonder it has lead us to 30% decline of underwater population for the past 10 years. If this terrible issue still on repeat, our grandchild might probably can figure out the existence of Sea Turtle only by the book or movie.

Crush

CleanAction, as one of the NGO that has a mandate for environmental protection, is having concern on a mission to bring cleaner beaches back to us. First, they have collected 2000 different trashes. Second, they pass the trash to a group of Volunteer Artists. Then these Volunteer Artists try to put an ink to the trash, and use it as a printmaking tool on a t-shirt. Henceforth, it simply became 2000 pieces of Beach Trash Wear. Guess what happened? All of them were sold in just one day.

IMG_7377

IMG_7376

IMG_7372

Each piece of Beach Trash Wear will be stamped with certain location where the trash was found, including the profound environmental impact to the beach pollution. Signed off with a plea for real action and build a momentum to stop this bad habbit of trash, once and for all. Talkin’ bout preservation in style? I’m so into it! Wanna get yours? Oh you can easily check out their website at www.beachtrashwear.com or come visit their offline store. Let’s save our beaches!

Read more about beaches ➸ MALDIVES: The Misconception

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

September 18, 2017

Illustration: Non-Sense Warehouse

Photo: Beach Trash Wear, Disney Pixar

Binar Bervakansi

Tanjung Puting: My Top 5 Highlight

Touch down, September! Kita sudah masuk bulan peralihan musim nih. Saya pun kembali iseng towel-towel Ibu Penyu. Kira-kira dia bakal main kemana ya? Lalu tersebutlah nama Taman Nasional Tanjung Puting di antara deretan destinasi mereka. Kawasan konservasi di tengah belantara Borneo ini ternyata sudah sangat mudah dan nyaman diakses loh. Wait! Memang apa serunya liburan ke tengah rimba tanpa sinyal 4G begitu? Nih, simak 5 alasan terbaik dari bingkai vakansi saya!

IMG_6987

IMG_6997

1. River Cruising

When was the last time you did something for the very first time? Well I just did. River Cruising smoothly on the deep, long, noiseless, crocodiles-invested water way of Kalimantan. Konsep trip ini sebenarnya mirip LOB (Living On Board). Klotok (kapal tradisional) bukan cuma jadi alat transportasi, tapi juga akomodasi, alias ya tidur, makan, bahkan mandi pun di situ. Terpikir bakal mati gaya, saya sampai bawa 2 buku dan obat penenang biar gampang ngantuk. But then I WAS WRONG! I did not touch them at all. Berlayar dengan Klotok ternyata rasanya sungguh wadidaaaw!

IMG_6980

IMG_6897

IMG_6964
Sepanjang jalur River Cruising, kita bakal sering banget dihampiri Bekantan, Kera, sampai Monyet liar di sisi kiri dan kanan.

2. Populasi Orang Utan Terbesar Dunia

Bagian menyenangkan berikutnya, tentu saja karena bisa ketemu langsung sama primata endemik yang tingkahnya super menggemaskan ini. Jadi, setiap pagi dan sore, kita singgah di beberapa camp bertepatan dengan jadwal feeding time. Saat itulah, mereka akan datang dengan lincah dari berbagai penjuru pohon. Terus rebutan pisang dan susu deh! Hihihi!

IMG_6988
He could eat at least 50 bananas in probably less than 5 minutes ya’ll. LOL!
IMG_6991
Rukun Tetangga.
IMG_6989
Kacong, alpha male pertama yang saya jumpai di Camp Tanjung Harapan.
IMG_6976
Tom (kanan), alpha male di Camp Tanggui.

Rasanya pengen banget saya pelukin Orang Utan di sana satu-satu. Tapi selain ranger dan peneliti, jarak aman bagi pengunjung yaitu minimal 5 meter dari Orang Utan. Makanya, ngaco banget kalau ada kebun binatang atau sirkus liar di luar sana yang memfasilitasi manusia buat gendong-gendong Orang Utan seenaknya. Ingat, jumlah mereka sudah nyaris punah. So it’s all nothing but animal abuse.

IMG_6977
Rawa, si kecil lincah di Camp Leakey.

IMG_6966

IMG_6986

3. Kok Bule Semua?

Serupa ketika saya berkunjung ke Taman Nasional Komodo, dimana 90% wisatawan justru datang dari Benua Eropa. Menurut cerita Pak Ponco Nugroho, pemandu kami selama di sana, ia sering sekali mendapat komentar dari para tamunya, “You, Indonesian people, are so lucky to have this kind of distinctive mother nature.” Bahkan tahun ini, jumlah turis asal Spanyol sedang meningkat pesat. “Nah mereka girang banget kalau saya fasih nyanyi lagu Despacito!”, sambung Pak Ponco terkekeh.

IMG_6978
Pak Ponco Nugroho hapal semua nama tanaman hutan dalam bahasa Latin. Jalan sama beliau kayak lagi jalan sama guru Biologi. Edyaaan!

4. Main Bareng Ibu Penyu

Banyak banget yang penasaran nanya, “Ndyn, asyik nggak sih main bareng Ibu Penyu?”. Dan tentu saja saya mengangguk dengan mata berbinar. Dari pemilihan pemandu, ranger, chef, sampai kru Klotok, semua kualitas yahud. They all became bubbly travelmates and storytellers at the same time.

IMG_6973
Ini dia kru yang selalu nanya, “Senang tak, Mbak Andyna?”

Soal makanan? Tidak usah ragu selera Ibu Penyu. Pagi hari, kami dibangunkan aroma setangkup roti bakar dan telur setengah matang. Tiap habis trekking, ada pisang goreng hangat atau mangga segar (yang baru keluar dari kulkas). Makan siang dan malam? Giliran aneka hidangan laut, sampai bebuahan segar dicocol sambal ebi siap disantap. Happy tummy is a guarantee.

IMG_6971

IMG_6975

5. Night Safari

Jelang petang, petualangan belum usai. Siapkan jaket, headlamp, dan mosquito repellent karena kita akan berjalan membelah kegelapan hutan untuk berburu  Tarantula, Semut Rangrang, sampai Kelelawar.

IMG_6990

Right after night safari, a clean shower’s waiting. Yap! Jangan takut tidak bisa mandi. Setelah itu, area tengah Klotok ‘disulap’ jadi tempat tidur. Komplit dengan kasur empuk, bantal besar, selimut, dan kelambu. Tidur sepanjang malam ditemani kicau Burung Murai dan ratusan pendar Kunang-kunang. Kalian mesti coba!

IMG_6970
I-Woke-Up-Like this in my life will never be the same anymore.

Gimana? Tertarik liburan ke Tanjung Puting? Bulan Juli hingga September adalah musim kunjungan terbaik ke sini. Cuaca cerah, jalur trekking tidak becek. Volume air sungai pun normal, sehingga tanaman Bakung tidak menggenang menutupi akses Klotok. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

More travel stories from Kalimantan ➸ Danau Kakaban – Derawan

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

10 September 2017

Lokasi: Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Indonesia

Foto: Andyna, Atika Deviansi Wiguna, Ponco Nugroho

Binar Bervakansi

Cara Cerdas Nabung Ke Maldives

 “Travel is the only thing you buy that makes you richer!”

Hey LAFFs! Seminggu terakhir, saya menerima banyak sekali respon positif tentang cerita Maldives pertama, baik dari blog, sosial media, atau bahkan percakapan langsung. Rasanya kayak dikasih suplemen semangat berbotol-botol hahaha! Terima kasih teristimewa ya buat kalian.

Sekarang, saya lanjutin jilid cerita berikutnya di Republik Maladewa. Komentar instan yang biasanya terlintas di benak orang ketika mendengar destinasi ini adalah “Wah pasti mahal banget kan?”, atau mungkin “Gila! Khayalan dewa deh bisa ke sana!”, dan sebangsanya. At first, it all seemed so impossible for me too. Sampai suatu hari, saya menemukan pintu kemungkinan bernama Maldives Hemat di antara tumpukan feed Instagram.

IMG_5894

Bagaimana tahapan menabung dengan Maldives Hemat?

Pemikat utama dari Maldives Hemat adalah sistem rencana perjalanannya. Sejak awal berkonsultasi, saya selalu dibantu lewat skema cicilan yang sangat masuk akal. Guess what? Cukup dimulai dengan pembayaran DP sebesar Rp 500,000,- saja, nama saya sudah tercantum dalam daftar peserta. Tempting, I know!

Setelah itu, saya dibebaskan untuk mengatur pelunasan bertahap per bulan. Nah, taktik saya sih, coba deh tarik mundur kira-kira 6 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Misal, jika kita memilih jadwal trip di bulan Agustus, maka mulailah mencicil sejak bulan Februari sesuai dengan kemampuan. Kenapa begitu? Tujuannya supaya periode nabung kita lebih leluasa dan tidak tergesa-gesa. Oh ya, asyiknya lagi nih, Maldives Hemat juga suka kasih reminder biar kita terus konsisten nabung. Lihat Pricing Range di sini.

IMG_5884

Kenapa pilih Maldives Hemat?

Well prepare! Mereka punya standar persiapan dan fasilitas yang baik mulai dari pemilihan akomodasi, transportasi, konsumsi, dokumentasi, aktivitas trip, bahkan pemandu lokal. Saya tidak perlu pusing mikirin ini itu. Liburan jadi jauh lebih nyaman dan berkualitas.

IMG_5885

Kalau sendirian gimana?

Faktanya nih, saya pun memutuskan berangkat sendirian dan baru bertemu dengan peserta lainnya di bandara. Ternyata 70% isinya sama seperti saya. Completely perfect strangers, but it turned out to be one of the most memorable summer I’ve ever had. Percaya deh, merayakan perjalanan ke tempat asing dengan orang-orang baru itu justru terasa penuh sensasi dan kejutan. Tambah teman, tambah pengalaman.

2

Can we go extend?

Bisa banget! Maldives Hemat juga mengakomodir kalau kita ingin memperpanjang waktu liburan, special request for honeymoon, atau mungkin spesifik hanya memilih leyeh-leyeh resort day trip saja.

IMG_5883

So you see? Siapapun punya peluang untuk bisa mewujudkan liburan idaman ini. Termasuk kalian. Minggu depan, saya mau berbagi aktivitas seru apa saja yang bisa kita lakukan selama di Maldives. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

[GIVEAWAY ALERT]

IMG_5874

Ada 1 paket oleh-oleh dari Maldives berupa pouch dan fruit tea bags untuk 1 orang yang beruntung. Caranya gampang! Cukup kasih komen di bawah. Kenapa kalian tertarik baca blog ini? Dari mana kalian tahu tentang blog ini? Let me know. Will announce the winner on Sunday (27/8/17). Good luck, Boogies!

[PENGUMUMAN PEMENANG]

Terima kasih tak terhingga buat kalian yang sudah membaca dan meramaikan tulisan ini. Komen yang terpilih dan berhak mendapatkan giveaway adalah Dian Puspita Sari. I will contact you through email and send the package right away. Congrats! Buat yang lain, jangan kapok tungguin giveaway berikutnya ya.

Read more about travelVietnam: My Top 5 Highlight

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

23 Agustus 2017

Lokasi: Maldives

Foto: Ishan ‘See From The Sky’, Bintang Angkasa, Andyna

Binar Bervakansi

MALDIVES: The Misconception

Sampai saat buka laptop dan ngetik tulisan ini pun, saya masih cubit-cubit pipi sendiri. Bohong kalau saya bilang saya tidak pernah mimpi bisa menjejakkan kaki di Maldives. Truth is, I have tighten that dream probably since I was early 20s. Negara tropis maha mahsyur yang dikepung kumpulan atol ini memang telak membius para pecumbu segara dari berbagai belahan dunia. And now, I can say it out loud to myself and to you, Blog Walkers, careful what you wish for cause you just might get it!

Karena ada cukup banyak sisi cerita tentang perjalanan di sini, saya pun terpikir untuk membaginya ke beberapa judul. Hal menarik pertama adalah sejumlah kesalahpahaman orang yang saya dengar dan rasakan langsung tentang Maldives. Ini dia diantaranya.

IMG_5771

1. Affordable Flight

Dengan perencanaan waktu yang matang, sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan harga penerbangan yang relatif terjangkau. Serius! Saya membeli tiket pesawat bulan April 2017, untuk keberangkatan bulan Agustus 2017. Melalui rute PP Jakarta – Kuala Lumpur – Male, total harganya yaitu US$ 306 atau kurang dari Rp 4,100,000. Yes, it is even cheaper than Japan in their Cherry Blossom season.

2. Tidak Butuh Visa

Ini pertanyaan yang paling banyak masuk via DM Instagram saya. Berapakah Visa yang harus dibayar? Jawabannya, tidak ada. Maldives benar-benar memberikan VOA gratis untuk warga negara Indonesia. Setibanya di bandara, kita cukup mengisi Immigration Arrival Card secara manual. And voila! You’re ready to explore.

3. Punya Bahasa Sendiri

Salah besar kalau kalian pikir Maldivian (penduduk lokal) berbicara dalam bahasa yang sama dengan India, Srilanka, atau Bangladesh. Meski memiliki aksen yang terdengar serupa, tapi mereka punya bahasa ibu sendiri yang disebut Dhivehi.

IMG_5609

4. Dollar is Well Received

Tidak usah repot menukarkan mata uang Maldivian Rufiyaa (MVR). Sebab kita bisa dengan mudah bertransaksi memakai dollar. Termasuk kalau kalian doyan jajan es krim lokal di warung-warung kecil kayak saya hehe!

5. Sopan Santun

Poin ini saya tujukan khususnya untuk pria Maldivian yang ternyata berperilaku sangat sopan dan santun terhadap wanita. Maka keliru jika ada persepsi yang bilang bahwa mereka menakutkan. Even when we were all in swimsuit and stuff, no man is gonna cat-calling or wolf-whistling at you like any other tourism place. Respect!

6. High Risk Geography

Penampilan Maldives memang prestisius dan mempesona. Namun, sebagai negara dengan level dataran terendah dan paling rata di dunia, wilayah kepulauan ini sudah dinyatakan beresiko tinggi tenggelam dari permukaan bumi akibat dampak perubahan iklim. “Mungkin nggak ya 10 tahun lagi kita ke sini, but then we found nothing?”, tanya teman saya berkenyit pada suatu malam. And it got me paralyzed.

IMG_5687

7. Tanah Tropis Tapi Kurang Subur

Awalnya saya heran setiap kali mampir ke grocery store di sini. Sebagian besar produk makanan mereka merupakan hasil impor dari Turki, Malaysia, bahkan Indonesia. Tak disangka, kondisi tanah Maldives justru kurang subur. Hanya varian buah-buahan dan umbi-umbian yang kualitasnya baik.

8. Impressive International Service

Maldivian memiliki kesadaran pariwisata yang luar biasa tinggi. Mulai dari resepsionis, pemandu, boatman, resort chef, sampai penjual kue jalanan sekalipun. Semua memberikan kualitas pelayanan internasional mumpuni.

9. Langka Alkohol

Saya sudah membayangkan betapa nikmatnya menemukan cool box kapal berisi tumpukan bir dingin seperti di Flores atau Lombok. Apalagi usai aktivitas snorkeling. Eh, ternyata nihil loh! Alkohol dilarang keras beredar selain di area private resort. Bayangkan, Pina Colada mereka saja tetap 0% alkohol. Jedar! 😂💣🔫

10. Dampak Tsunami

The last but not least misconception about Maldives is when people thought that they easily survive after the great tsunami back in 2004. Well, in fact is, they’re definitely not. Hingga kini, tidak sedikit pulau kosong yang bangunan resort-nya habis disapu gelombang. Menyisakan dataran tak berpenghuni yang dijuluki The Ghost Island.

IMG_5772

Benar ya kata pujangga lama. Traveling is an endless university. You will never stop learning and figuring out. Minggu depan, saya lanjutkan cerita Maldives bagian lainnya ya. Semoga kalian suka. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel2017 Summer Camp Essentials

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

17 Agustus 2017

Lokasi: Maldives

Foto: Christy Stefany Sasauw, Ishan ‘See From The Sky’, Andyna

 

Binar Bervakansi

TRAVEL 101: Disiplin Diri Saat Traveling

Hello there, Blog Walkers! How’s your weekend so far? Semoga sudah cukup memulihkan jiwa raga ya. Minggu ini ada tantangan tema dari #1Minggu1Cerita soal disiplin diri. Wah berat ya? Bahkan sampai sekarang pun, saya masih dalam proses pembelajaran menuju titik itu. Tak terkecuali dalam hal traveling. Ternyata, banyak loh travel habit yang bisa sangat relevan dengan kedisiplinan. Beberapa diantaranya ada di bawah ini!

FullSizeRender(12)

1. Terbiasa Membaca Peta

Saya suka sekali salah satu pesan seorang Tibetan Buddhist, Dalai Lama. Ia menyebutkan bahwa sekali dalam setahun,  pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Maka sungguh disayangkan kalau hari gini masih ada yang mengeluh takut nyasar. Living in a cyberspace era has changing the way we travel into simplicity. Termasuk memacu diri untuk terbiasa membaca peta. Kini sudah banyak aplikasi peta yang bahkan bisa kita simpan dalam menu offline, sehingga tanpa jaringan internet pun, peta tetap dapat diakses.

53a79b1180e1aaee94cf8849df5eaa2d

2. Jangan Tergantung Sama Orang Lain

Kalau sedang dalam perjalanan sama teman atau keluarga, kita punya kecenderungan buruk untuk jadi ignorant. Ngaku deh? Ya kan? Untuk sekedar menghapalkan posisi hotel atau bawa uang saku cadangan pun malasnya minta ampun. Masalahnya, gimana kalau tiba-tiba kita lepas dari rombongan? Atau yang lebih amsyong, ketinggalan pesawat kayak Macaulay Culkin di film Home Alone?

eb0f91d62a939618cdd179d46a85171c

3. Lebih Hati-Hati

Berapa kali saya sudah kecopetan gara-gara ceroboh pas lagi ngetrip? Tak terhingga! Percayalah, saya sama sekali tidak bangga. Hahaha! 😂😂😂 Until today that is, I am still trying so hard to be more careful with my belongings. Mulai dari memilih tote bag yang ada ritsleting, tidak asal meletakkan dompet di meja makan, sampai menyimpan kembali kamera ke tas saat naik-turun kendaraan umum.

64b4f3cfa58977083a96edf9247c9844

4. Beradaptasilah

Contoh paling gampang nih. Soal makanan. Pernah dong jalan sama orang yang, kapan pun, dimana pun, pasti pesan makannya nasi goreng atau pasta? Eternal template alias begitu melulu. Alasan klasiknya, play save, takut kalau menu lain tidak sesuai selera.

Coba pikir lagi deh. Bukankah berpergian justru momen yang baik untuk belajar beradaptasi? Alangkah sayang kalau pilihan lain tidak dicoba. Bagi saya sih, disiplin membuka diri lewat perbedaan sensasi kuliner tiap daerah itu meluaskan laci pikiran. Kenapa? Kalau kata film Tabula Rasa, karena tiap makanan adalah itikad baik untuk bertemu.

ffe115df0ebc2f2cb9fe2edf31a209c8

5. Waktu Tidur

Seringnya nih, anak gunung yang punya celotehan, “Tidur mah di rumah cuy. Masa di sini?”. Well, mari bicara secara logika. Kondisi fisik tiap orang kan beda-beda, karena itulah kebutuhan porsi istirahat kita pun tidak sama. Saya pribadi termasuk orang yang bakal cranky seharian kalau kurang tidur. Jadi buat apa memaksakan diri begadang? Doesn’t mean I would skip midnight madness tho. It’s just that after a glass of wine or two, I prefer to hit the bed on time. Jadi keesokan pagi, baterai tubuh sudah kembali penuh deh.

234468ec50a8ca954833c1dd566b7dfe

Gimana? Tidak susah kan mendisiplinkan diri tiap jalan-jalan? Ayo mulai pelan-pelan supaya petualanganmu jauh lebih menyenangkan. Kalian punya travel habit lainnya yang juga berhubungan dengan disiplin diri? Yuk selipin di kolom komen. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Also watch my travel vlogRammang-Rammang Maros Sulawesi Selatan

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

6 Agustus 2017

Foto: Yan Bachtiar, Pinterest Bihance, Chance Eastham

Ilustrasi: Nicole Larnie

Binar Bervakansi

Dlingo dan Koleksi Komorebi

Siang itu, tepat hari Minggu. Baskara di bawah tataran langit kembali berdiri tegak tanpa ragu. Sinar kuningnya terasa hangat, namun tak menyengat. Sebuah scooter matic putih sewaan sudah menunggu di parkiran. Aplikasi Google Maps dan streaming radio Swaragama FM diaktifkan dengan bantuan earphone. Ah, Kawan, saya sedang rindu motoran sendirian di Jogja.

FullSizeRender(9)

Setelah berkendara selama kurang lebih 1 jam, saya mendekati perbatasan Dlingo. Sebuah kecamatan paling timur dalam wilayah administrasi Kabupaten Bantul. Semakin ke dalam, gas motor semakin asyik saya tancap tanpa hambatan. Apalagi dengan keteduhan hutan padat kiri dan kanan.

FullSizeRender(7)

FullSizeRender(8)

Popularitas Dlingo memang semakin meroket 1 tahun terakhir. Salah satunya adalah Bukit Panguk yang saya singgahi ini.  Lokasinya berada dalam lingkar agrowisata berupa perkebunan buah. Hijau lekat sejauh mata memandang dari ketinggian. Jika sedang beruntung, kerapatan pohon seperti ini menghasilkan efek alam yang disebut sebagai Komorebi; istilah orang Jepang untuk menggambarkan sinar matahari yang menembus dedaunan. If I may suggest, better visit this place during sunrise moment. Karena menurut para penjaga di sana, kala itulah Dlingo akan menampilkan banyak koleksi Komorebi-nya.

beautiful-words-komorebi

FullSizeRender(5)

Selain Bukit Panguk, Dlingo masih punya deretan titik wisata serupa seperti Bukit Mojo, Tebing Watu Mabur, Tebing Menawa, hingga Puncak Becici yang sudah dikunjungi oleh Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama dan keluarganya Juni 2017 lalu. Nah giliran kalian kapan ke Dlingo? Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more mini travel stories ➸ Kopi & Toraja Utara

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

30 Juli 2017

Lokasi: Bukit Panguk, Dusun Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Foto: Andyna, Etsystatic