Di Belakang Panggung

Buku, Pesta, dan Cinta

image

Aisyah Pratiwi, sahabat yang tak habis pikir mengapa saya betah berpetualang di alam bebas. Sama seperti saya yang tak paham mengapa ia begitu tergila-gila dengan drama Asia. Tapi satu hal yang pasti, kami mengerti betapa kami saling membutuhkan. You are the sincere girlfriend ever.

Yuvantinus Effrem, anak rantau asal Flores yang sanggup membuat seisi kelas terpingkal-pingkal mendengar celotehan jahilnya. Dialah seniman reggae edan penganut kebebasan, pemberontak gegar budaya, juga sahabat sejati dengan tampilan apa adanya. Tetap sebarkan damai di muka bumi, Marley.

Amelia Virginia, potongan rambutnya mengingatkan saya pada A-list top model dunia, Agyness Deyn. Tapi jika ia sudah berbicara, seketika terlintas garis tegas dan impresi brilian ala Benazir Bhutto. Coba tengok pula deretan karya tulisnya, ah..saya makin kagum saja. Saya yakin, Amel terlahir sebagai perempuan yang mampu mengubah dunia.

Topan Nixon, sosok jenius hasil didikan kompleksitas Wilbur Schramm atau mungkin Stuart Hall. Kekuatan analisis dan argumentasinya lah yang menjadi magnet di mata saya. Betapa saya akan sangat merindukan diskusi cerdas dan frontal dengannya. Topan adalah pria yang akan selalu menempatkan teman-temannya di posisi istimewa. You are trully outshine yourself, Mr Nixon.

Syafiah Syifa, yang demikian tangguh berpijak dan melawan rasa sakit di raganya. Sering ia katakan, saya telah menyuntikkan semangat untuknya. Padahal Syifa tak sadar, di balik kerudung manisnya, justru dialah gadis yang memompa gejolak hidup saya. Bagai alarm jitu yang membuat saya berlari mengejar asa, cita, dan cinta.

Satya Prapanca, si adam yang tak henti memutar otak dalam kerumitan komunikasi dan filsafat. Namun, petikan gitar kala ia membawakan musikalisasi puisi begitu hebat menyihir saya. Panca adalah wujud konkret dari generasi muda lokal dengan cita rasa global.

Ani Nur Salikah, Iis Apriyanti dan Aesah Toha, tiga hawa yang tidak pernah lelah mengingatkan saya sembahyang. Bersujud pada Sang Khalik. Selalu menyelipkan waktu luang untuk bercanda di tengah jadwal kerjanya. Ani sangat teliti memilih serat dalam makanannya, sedangkan Iis dan Esa bisa melahap apa saja secara menggila. Stay healthy and happy, dear.

Fitria Eka Lestari, rekan sejawat sejak kami aktif di BEM UI 2005-2006. Meski terlihat lucu dan menggemaskan, namun pribadinya rapuh dan labil. Jangan biarkan satu insan pun di dunia ini berkata “tidak” pada mimpimu. Ingat selalu itu.

Deva dan Sarah, dua sejoli penjunjung tinggi eksistensi, penebar senyum dan sensualitas di tiap keberadaannya. Mereka lah sisi lain yang menjadikan Komunikasi Massa 2007 semakin berwarna.
Reiza Koesuma dan Viani Nurul Aulia, the Bonnie and Clyde of this community. Ternyata pasangan hasil korban panah sang Cupid ini benar-benar mengaplikasikan sub bab Komunikasi Interpersonal. Salute for both of you.

Alifia Cinte, dedikasi kariernya di tengah kesibukan kuliah benar-benar menjadi cambuk tersendiri bagi saya. Mengutip sebuah pesan seorang maestro mode dunia, Ralph Lauren, “I don’t design clothes, I design dreams”. And that is simply what she has been doing.

Arief dan Chaidir, pejantan yang berjuang bersama saya memecahkan rekor angka penganut TKA sepanjang sejarah Komunikasi Massa FISIP UI berdiri. We did it, brothers!

Popy Handini, dialah mahasiswi pertama yang saya kenal saat semua perjalanan ini dimulai. Garis tipis matanya setiap kali ia tertawa akan selalu lekat di benak saya. Hope you’ll become an inspiring photographer in the future, lady.

Dhani dan Ocky, manusia paling kontras yang pernah saya bandingkan. Dhani begitu tampak santun dalam balutan khas ala ikhwan. Di sisi lain, Ocky suka sekali menjerumuskan dirinya pada hal-hal konyol dan berakhir menjadi buah bibir seisi jurusan berbulan-bulan. But instead of that, I just cant stop loving you, gentlements.

Ririn K. Tyas, gadis belia berdarah Jawa dengan tubuh tinggi semampai. Ririn memberi saya pelajaran berharga untuk bangkit dari rasa kehilangan. Meski tidak mudah, saya tahu Ririn tidak akan menyerah berlari untuk cita-citanya.

Arnold Malau, sebut judul lagu apa saja, Arnold pasti hafal mati lirik sampai kunci gitarnya. Kepribadiannya ibarat dua sisi mata uang. Ia begitu tensional saat berbincang carut marut peta perpolitikan negeri ini, namun matanya segera bersinar lepas ketika denting musik dari senar string terdengar. Pria lembut ini mampu ‘dilemahkan’ dengan satu kata. Cinta.

Tak luput pula untuk satu gemintang, mas Firman Kurniawan. Dedikasinya, kesabarannya, keterbukaanya, dan gaya atraktif mengajarnya, membuat saya merasa amat rugi jika harus absen kuliah. Anda membuai daya pikir generasi ini hingga saya semakin jatuh cinta pada ilmu Komunikasi.

Dan masih ada puluhan karib lainnya yang tidak kalah istimewa di hati saya. Mereka lah yang mengguratkan keunikan masing-masing hingga menjadi semburat warna manis dalam mimpi saya. Mereka yang memeluk erat saat saya bahagia. Mereka juga yang tak bosan menepuk punggung ketika saya terjatuh dalam duka. Mereka lah simbolisasi intelektualitas, kreativitas, serta solidaritas dalam berbagi.

Terima kasih setulusnya untuk buku, pesta, dan cinta yang kita alami.

Andyna
17 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s