Binar Bervakansi

Dieng Plateau: Rekam Jejak di Tanah Anak Gimbal

image

Tidak lengkap rasanya menutup pergantian tahun tanpa menyingkap kemolekan negeri ini. Di penghujung 2009 lalu, pilihan saya jatuh pada salah satu pelosok bersejarah dari peradaban Hindu di Indonesia, yaitu Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Dilihat dari sisi geografis, Dieng berada pada pusaran sentral di pulau terpadat negara kita. Konon, melekatnya nama Dieng sendiri diesensikan sebagai patahan bumi tempat persemedian para dewa. Tidak heran jika di dalamnya tersimpan ragam historikal, mitos, dan keunikan yang berkarakter kuat. Perlahan seiring perjalanan di sana, saya melihat-mendengar-merasakan sendiri kekuatan itu.

Memasuki area dataran tinggi ini saya dibuat terpongah dengan keanggunan Gunung Sindoro. Raksasa itu nampak biru berdiri menyambut dengan angkuh. Kaki-kakinya kekar tertancap sebagai tudung bagi hamparan ribuan terasering hijau di bawahnya. Puncaknya pun mengerling penuh malu karena diselimuti riak-riak awan putih. Ah,sambutan yang elegan sekali!

Berlanjut pada penelusuran sisa-sisa penginggalan kerajaan Hindu, kompleks percandian Dieng adalah saksi bisunya. Arjuna, Srikandi, Semar, Bisma, Dorowati, dan candi-candi lainnya, terdiam tegak dikelilingi juntaian perbukitan. Menjamah kawasan Dieng serasa menyelami palung pegunungan. Saya dimanjakan dengan gradasi hijau yang begitu natural sejauh mata memandang. Plus suhu saat itu yang mencapai 5 derajat celcius. Menurut informasi warga setempat, pada bulan Juli hingga Agustus, suhu bahkan bisa mencapai titik beku. Dingin sekali. Kabut pun sampai mengkristal di pucuk-pucuk dedaunan. Hmmm..seduhan teh herbal Purwaceng plus sajian Tempe Kemul panas khas Wonosobo benar-benar tepat dinikmati di sana.

The Gods Abode This Place

Potensi agraris dan geothermal dataran tinggi ini memang luar biasa. Mayoritas penduduk desa ini memanfaatkan ribuan hektar lahan untuk tanaman kentang, kol, dan jagung. Berkat hasil eksperimen penelitian mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung), hingga saat ini, Dieng tercatat sebagai penghasil kentang terbesar di tanah air. Ada pula, sumber uap panas bumi di bawah kelola Pertamina, yang didayagunakan menjadi sumber pembangkit tenaga listrik. Rangkuman keragaman alam tersebut bisa disaksikan melalui Dieng Plateu Theatre.

Letupan-letupan belerang panas dapat dijumpai di beberapa area. Seperti Kawah Sikidang, Sileri, Sinila, Pawuan, dsb. Kepulan asapnya berkolaborasi dengan kabut sekitar, tampak sangat cantik dari kejauhan. Khusus Kawah Sileri, Anda mintalah dampingan pemandu jika ingin mengunjunginya. Sebab kerap timbul kandungan gas beracun yang pekat bersifat mematikan jika tidak berhati-hati.

Selanjutnya saya melenggang pula ke sejumlah telaga dan danau. Tidak sulit berburu lokasi-lokasi wisata di Dieng. Selain jaraknya yang relatif berdekatan, ditambah banyak rental kendaraan roda dua yang bisa menemani seharian penuh. Danau Merdada, misalnya. Danau terbesar di kawasan Dieng yang sekaligus bersebelahan dengan pabrik jamur lokal. Lain lagi dengan Telaga Warna dan Pengilon. Siapkan mata Anda menghujam kedua telaga superior yang berdampingan ini. Faktor sinar matahari, cuaca, dan suhu udara mempengaruhi perubahan warna-warna di dalamnya. Ketika saya datang, saya mendapati warna hijau daun, biru, abu-abu, dan cokelat. Totally exquisite.

The 1st Sunrise in 2010

Tepat 1 Januari 2010 pukul 4 subuh, petugas homestay membangunkan saya. Ia menawarkan untuk mengintip terbitnya sang surya dari puncak Gunung Sikunir (2500 mdpl), sekitar 7 kilometer dari posisi homestay. To be honest, it was absolutely freezing. Tapi menyaksikan mentari perdana muncul di awal tahun sungguh terlalu menggoda.

Jalur pendakian lumayan terjal dan licin. Beruntung, mas Dwi, petugas homestay yang mendampingi saya, tak henti-hentinya bercerita aneka mitos dan legenda rakyat sepanjang perjalanan (saya berjanji akan membaginya dengan Anda suatu hari nanti). Sampai-sampai tidak terasa, saya tiba di puncak. Sambil mengatur nafas saya melemparkan pandangan di sekeliling. Buaian fajar tersipu pelan-pelan muncul dan menguning. Melekat mesra dengan sayup Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Bisma dari kejauhan. Aih..cantik..cantik bukan kepalang, Kawan!

Tidak lupa saya pun melewati Danau Cebong tepat di kaki gunung. Cebong diambil dari nama binatang menyerupai kodok kecil yang ramai mengelilingi danau itu. Di sebelahnya, terdapat 1200 penduduk bermukim dengan nama Kampung Sembungan. Asal Anda tahu, Sembungan merupakan kampung dengan jumlah haji terbanyak di Dieng. How come? Panen kentang yang melimpah ruah lah rahasianya. Keunikan lain di kampung ini, yaitu adanya anak-anak berambut gimbal alami (shabby hair) yang dipercaya sebagai anak-anak istimewa. Lagi-lagi saya beruntung bisa berkenalan dengan mereka.

Sporadis Hidup Mengantar Kita Kemana Saja

Kehangatan penduduk sekitar kian melipatgandakan kenyamanan daerah ini. Mulai dari peladang, musisi jalanan, petugas homestay, penjaja kudapan, sampai polisi setempat, semuanya begitu bersahabat dan informatif. Tak terbesit sedikitpun guratan kecewa saya atas kunjungan ini. Benar-benar memuaskan. Agenda trip Dieng ditutup dengan gemintang senyum di wajah saya.

Berikut rincian budget yang sebaiknya kalian siapkan jika ingin berwisata ke Dataran Tinggi Dieng:

1. Transportasi dari Jakarta-Wonosobo menggunakan Bis AC P.O Dieng Indah. Tarifnya Rp 80.000/orang. Untuk reservasi bisa menghubungi mas Adon di nomor 081315380661.

2. Akomodasi di kawasan Dieng. Sudah cukup banyak homestay yang memfasilitasi para wisatawan di Dieng. Namun pilihan saya jatuh pada homestay atau penginapan “BU JONO”. Berlokasi tepat di pertigaan besar pintu masuk Dieng. Pelayanan penginapan “BU JONO” sangat memuaskan. Para stafnya demikian informatif dan gesit. Banyak pula paket kunjungan yang ditawarkan. Kondisi kamar yang saya ambil sangat bersih dan nyaman, yaitu VIP dengan harga Rp 200.000/malam (high season). Kapasitas bisa buat berempat. Lengkap dengan water heater dan TV. Jika tidak sedang musim liburan, harga per malam bisa lebih murah. Berkisar Rp 80.000-150.000/malam. Di lantai bawah, terdapat restoran dengan menu homemade berporsi jumbo dan harga terjangkau. Sarapan pagi misalnya. Anda bisa memilih Banana Pancake (Rp 12.000/porsi), kentang goreng (Rp 12.000/porsi), roti bakar (Rp 7000/porsi), dll.

3. Rental motor Rp 50.000/24 jam. Untuk mengunjungi berbagai objek wisata di sepanjang dataran Dieng, akan jauh lebih mudah dilakukan dengan berkendara motor.

4. Tiket masuk beragam objek wisata di Dieng relatif murah, bahkan ada yang gratis. Berkisar antara Rp 2000-8000/objek. Jangan lewatkan tempat-tempat ini. Air terjun Sikarim, Danau Cebong, Kampung Sembungan, Gunung Sikunir (for sunrise), Kawah Sikidang, Telaga Warna-Pengilon, Dieng Plateu Theatre, Dieng Wetan, Danau Merdada, Pabrik Jamur, Kompleks Candi Hindu, Kawah Sileri, Kawah Pawuan, Goa Jimat Kepakisan, Kawah Sinila, Kawah Candradimuka, Jalatunda, Hot Spring Pulosari (pemandian air panas), Danau Dringo, dsb.

5. Kuliner Tempe Kemul. Tempe khas Wonosobo yang menyerupai tempe mendoan, namun dengan cita rasa lebih garing dan tipis. Hanya Rp 500 saja. Nikmati selagi hangat!

6. Kuliner Mie Ongklok. Sajian racikan mie rebus dengan kuah jamur kental, sayuran, dan sate ayam. Rp 12.000/porsi. Takaran pedas bisa diatur sesuai selera. Pas sekali di tengah suhu super dingin Dieng.

7. Kuliner Ayam Goreng Bu Yati. Berlokasi 50 meter dari homestay “BU JONO”. Disajikan dengan pilihan tumisan, nasi putih, dan teh panas. Rp 12.000/porsi. Ada yang bilang ini ayam gunung, makanya beda dengan ayam biasa. Gurih dan empuk dagingnya membuat saya benar-benar ketagihan. Sangat enak!

8. Kuliner Bakso-Tahu Gejrot-Tempe Kemul. Bayangkan menu-menu itu diramu jadi satu. Awalnya saya juga ragu, tapi ternyata lezat bukan main. Rp 6000/porsi.

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s