Binar Bervakansi

KEMBALI MEMELUK BALI: Catatan Sederhana di Negeri Seribu Pura

image

Menjamah esai alam pulau tropis di gugusan tengah Indonesia yang satu ini memang sudah biasa. Tapi Kawan, coba rasakan sensasi spontanitas berpetualang bersama sekumpulan ‘manusia abnormal tak dikenal’ bertajuk backpacker. Indeed feels sensational. Satu bonus di penghujung tahun 2010 bagi saya, dan 28 petualang lain tentunya.

Menyisir Daratan Kolonial Bernama Jawa
Trip ini pada hakikatnya sengaja memanfaatkan libur nasional Tahun Baru Hijriah. Plus hari Senin yang katanya ‘kejepit’. Singkat kata, ajang penghabisan jatah cuti. Blessing in disguise, I should know. Mini bus membawa rombongan kami bergerak dari titik Jakarta tepat jam tujuh malam. Perjalanan darat menjadi pilihan, dengan kalkulasi anggaran yang lebih bersahabat ketimbang jalur udara. Dan ternyata, tiap-tiap kota yang dilewati menyuguhkan potret tersendiri dari balik jendela bis kami. You wont get any of it by swing in airplane directly, right?

Sabtu pagi buta, kota Tegal menjadi persinggahan pertama. Lepas sholat subuh, bis kembali melaju. Somehow we stopped for gasoline, meals, or even toilet. Menjelang siang, kami berlalu-lalang di tengah kepadatan Semarang. We’ve been passing some beautiful centralism parks over here. Sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah, wilayah ini kian padat dalam hal pembagian tata administratif. Tak banyak pula yang tahu bahwa nyatanya, Semarang ialah tonggak pertama pembangunan kereta api Hindia-Belanda dimulai saat era VOC Berjaya.

Sahut-sahutan canda, tawa, cerita, petikan gitar, dan nyanyian seisi bis menjadi warna sepanjang jalur Pantura. Oh ya, bicara soal rombongan, masing-masing dari kami memiliki multi latar serta karakter yang amat beragam. Ada ibu rumah tangga, guru, jurnalis, pegawai swasta, sampai mahasiswa. Ada yang pendiam, tak bisa diam, suka cekikikan, pemalu, sampai yang tak tahu malu. Saya beruntung menjadi yang paling muda di antaranya.

Sore hari, sisi timur daratan Jawa kian mendekat. Beberapa seperti Kudus dan Pati yang tak pernah berubah. Tak lekang tergilas trance budaya berkedok modernisasi. Kedua kabupaten ini bukan sekedar simbolisasi industri kretek, melainkan juga saksi bisu historikal dan kultural para sunan. Seingat saya, terdapat 2 makam sunan di sana, Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Saat singgah sejenak di Tanjung Kodok, hujan turun cukup deras. Prediksi selanjutnya, Surabaya bisa jadi macet di malam hari. Dan benar saja, meski perlahan langit mulai cerah, tepat di daerah Porong kami terjebak antrian panjang kendaraan cukup lama. It was pretty dark and dusty night though. So we all decided to just simply sleep till we get in touch to Ketapang.

Sebuah Harmoni Diatonis Bernama Bali

Penyeberangan Ketapang – Gilimanuk memang ultra kilat. Selama 30 menit kami sibuk berfoto bersama di atas dok dan mengabadikan pagi yang membiru. Hingga kapal ferry yang kami tumpangi merapat ke dermaga. Bali pun merekah dalam senyum sapa begitu menggoda. Voila!

image

Homestay yang kami tuju berlokasi di kawasan Kuta Raya. “Warung Ibu Ina”, begitu tulisan yang terpampang di terasnya. Tepat berada di sisi jalan, berseberangan dengan kawasan niaga dan pertokoan. Sepintas dari luar memang terlihat biasa. Namun ternyata tempat ini menyediakan sarana akomodasi yang sangat bersih, nyaman, cukup luas, dan pastinya harga terjangkau. It’s even completed with air conditioner. Nice, right. Especially for backpackers.

Lepas makan siang, kami kedatangan salah seorang karib lama. Aura Ravanova namanya. She’s been staying in Bali almost 5 months for her job. Hari itu, Aura membawa kami ke 3 lokasi wisata yang relatif berdekatan. Pura Luhur Uluwatu, Pantai Suluban, dan Pantai Dreamland. Ketiganya masih berada dalam satu regional, yaitu Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

image

image

Penyangga 9 mata angin. Konon itulah pengabsolutan nilai dibalik terjal dan tingginya batu karang Uluwatu. Pura-pura di sana berdiri kokoh setinggi lebih dari 90 meter di atas permukaan laut. Tepat sebelah ujung barat daya pulau Bali. Tak heran, angin kencang akan setia menghampiri Anda tiap pijak kaki menapak. Aroma buih lautan berkolaborasi dengan pucuk-pucuk ranum kembang setaman. Amat menyejukkan. Oia, jangan takut pula bila tiba-tiba kedatangan monyet-monyet lincah serta usil luar biasa. Mereka dengan senang hati mengambil barang apa saja yang kita bawa. I mean it, guys. Apa saja. Dua ekor monyet bahkan dengan ‘bahagia’ bergelantungan cukup lama di pundak saya. Trust me. It was sweet to memorize.

image

image

image

Beralih ke Pantai Suluban. Hanya butuh 10 menit dari Uluwatu. Pantai ini memang tersembunyi dari jalan besar. Jauh dari kebisingan. Suluban sendiri dalam bahasa Bali diartikan sebagai “lewat di bawah sesuatu”. Kami pun harus berjalan kaki sekitar 1 km melewati bagian bawah goa karang untuk mencapai lokasi. Guess it is pretty much explained the name itself. But as soon as we get there, we were all dazzled. This beach is simply surrounded by giant rough rocks. Tersusun tegak menudungi tepi biru bibir pantai di sekitarnya. Jalan menanjak dan berkelok mengikuti kontur perbukitan menjadi panorama magnetik yang mengagumkan. Karena jernihnya air laut dan kuatnya pusaran ombak, pantai ini juga sering dijadikan pilihan locus bagi ajang kompetisi selancar bertaraf internasional.

Petualangan sore itu akhirnya kami tutup di Pantai Dreamland. Kawasan ini berada dalam radius area Kuta Golf Link Resort, hasil garapan Tommy Soeharto. Mega proyek ini memang meredup dari sisi pembangunan karena faktor ekonomi. But please do not hesitate to visit this shore, I guarantee it is multiple worth it. Celah karang di sana-sini, dominasi pasir putih, tingginya lipatan ombak, sekaligus semburat jingga langit menjelang matahari terbenam. Indah tak terperi. Some of us took swim, some of us took captures, and some of us just laid back down the sand. Wonderful evening!

Di malam hari, kami hanya sempat mampir sejenak ke Monumen Bom Bali. Sebab tak lama kemudian, hujan deras mengguyur seisi Kuta Raya. One thing for sure, no matter how many times I got back to this island, I would never stop falling for the ambience, the laughs, the ethnical music, the people, or even the greets. Such a home!

The Land Spotted Us

Penjelajahan kami belum selesai. Hari berikutnya, Puputan Renon di kawasan Denpasar adalah sasaran pertama. Museum Perjuangan Rakyat Bali ini berdiri anggun di pelataran seluas hampir 140.000 meter persegi. Syarat akan arsitektur bangunan yang khas dan apik. Di era 1980, mantan Gubernur Bali, Dr. Ida Bagus Mantra, menggagas ide berdirinya museum tersebut. Di dalamnya terdapat sekitar 17 diorama yang memaparkan kisah perjuangan rakyat Bali di masa kemerdekaan. Termasuk salah satunya pahlawan nasional asal Bali, I Gusti Ngurah Rai.

image

Setelah berpanas-panasan dihujam terik matahari, ternyata di spot berikutnya kami justru kehujanan. Yak selamat datang di Tirta Empul. Nama tersebut didefinisikan sebagai “kolam suci yang airnya mengepul”. Sumber mata air ini menyimpan banyak sekali cerita magis. Salah satunya tentang 15 sumber mata air yang memiliki khasiat berbeda-beda. Persemedian para dewa, begitu rumornya. Objek wisata ini tidak terlalu luas dan bahkan dijaga cukup ketat. Sayang, saya pribadi tidak terlalu menikmati karena terlalu basah kuyub akibat hujan.

Sebagai klimaks, kami memilih Tanah Lot sebagai penutup trip ini. Obyek ini terletak di Desa Beraban. Di musim seremonial, seringkali diadakan upacara adat di sini. Sebelah utara terdapat pura tunggal di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan. Banyaknya tebing di area ini juga perlu diwaspadai. Sebab jika tidak berhati-hati, siap-siap tubuh Anda terpental hempasan ombak yang beradu dengan tebing. Seperti saya. It was away too crowded when we were there. But indeed, the sun was setting down so nice. Too nice to close this trip.

One Treasure Called New Family
Sekali lagi. Sporadis hidup mengantarkan kita kemana saja dan bertemu siapa saja. Senang sekali berkenalan dan mengeksplorasi alam negeri ini bersama para sahabat baru. Mereka lucu. Mereka gila. Mereka menyenangkan. Mereka tak henti membuat saya tertawa. Mereka lah enigma hidup sesungguhnya.

image

image

“Bali is a place where you can find a BALANCE of life or even love”
Elizabet Gilbert | Eat, Pray, Love

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

Desember 2010

Foto: Yanuarisan Maseh, Ikka Wuwiwa, Bayu Ismaya, Desi Lina, Licha Theresia, Sobar Sofyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s