Binar Bervakansi

mem-BIAWAK-kan diri

Biodiversity. Satu kata yang menurut saya tepat untuk merangkum sebuah maha karya wisata bahari, di utara pesisir kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pulau Biawak namanya. Terdampar cantik dengan luas total gugusan lebih dari 15.000 Ha. Merangkul potensi sekaligus ladang konservasi sedemikian magnetik, tak terkecuali bagi petualang muda, termasuk saya.

image

Traveler’s Tale Begins 

Harus saya akui, kali ini catatan perjalanan saya sulit dikatakan sederhana. Untuk mencapai lokasi pulau benar-benar menguras waktu dan tenaga. Bersama beberapa teman, Jumat 17 September 2010, kami berangkat tepat jam 08.00 malam dari titik terminal di Pulo Gadung. Kondisi jalan ramai lancar. Mungkin karena saat itu arus balik mudik masih belum mencapai puncaknya. Bis jurusan Pulo Gadung – Kuningan menempuh waktu hampir 3 jam hingga kami tiba simpang pertigaan Celeng. Mau tahu seperti apa landmark pertigaan ini? Tiga replika batu baterai raksasa ABC jawabannya.

Tengah malam di Celeng, dua buah angkutan lokal menjemput kami menuju rumah bapak nelayan. Keluarga beliau sangat kooperatif dan membantu persiapan pelayaran. Beliau bilang, sebaiknya kami menunggu hingga subuh tiba. Selain agar kami bisa beristirahat sebentar, beliau juga memperhitungkan sikon pasang surut air laut dan angin.

Into The Deep Blue See 

Perahu nelayan Karangsong kebanyakan memang masih semi tradisional. Hanya bermodal mesin tua, solar, dan GPS istimewa. Yang terakhir saya katakan GPS istimewa karena daya navigasi para nelayan di sana benar-benar luar biasa. Sebuah bendera berkain lapuk gontai menggantung di ujung atas bilah bambu. Kemana arah angin meniup si bendera, maka itulah yang jadi pedoman nelayan selanjutnya. Magnificent!

image

Rombongan kami sejumlah 29 orang dibagi ke dalam tiga perahu. Ditambah beberapa kru nelayan lainnya, juru masak, serta tumpukan logistik selama di pulau nanti. Ada satu kebiasaan yang selalu saya lakukan tiap kali berada di dekat laut. Mencari bintang. Biasanya ini jadi patokan pribadi saya apakah cuaca akan bersahabat atau tidak. Dan benar saja, dini hari itu langit terlalu gelap dan sesekali silau karena sengatan kilat. Belum satu jam kami berlayar, bahkan belum keluar dari muara sungai, gerimis pun turun.

Terombang-ambing di lautan lepas mungkin sudah biasa. Tapi Kawan, coba rasakan saat mesin perahu mati total tak berdaya. Sialnya, itu terjadi di perahu yang saya tumpangi. Hingga fajar terbit di pelupuk timur kami masih berada di titik yang sama. Walhasil kami harus menunggu perahu lain berputar arah untuk menjemput. Dua perahu terpaksa dipenuhi muatan beban ekstra. Terus mengarung sampai menjelang siang hari dengan ombak yang bergerak masif. Tantangan yang kian sempurna.

Island Hopper(s)

Setelah 7 jam lamanya berjuang menahan kantuk, panas, dan lelah di laut, akhirnya kami pun tiba. Pulau Biawak nampak anggun sekali berselimut hutan mangrove di sekelilingnya. Posisi dermaga terbentang cukup panjang menjauhi bibir pantai. Gradasi kedangkalan air di sekitarnya lembut memanjakan mata. Tepat di sentral pulau berdiri tegak 65 meter menjulang mercusuar sebagai sisa jejak rekam peninggalan bangsa Belanda. Tak lupa, seekor bangau putih melayang gagah di atas perahu kami. Kolaborasi sambutan yang tak terperi hangatnya.

image

Rencana awal mengintip pulau tetangga bernama Candikian terpaksa dieliminir, dikarenakan keterbatasan waktu penyeberangan. Setelah sempat beristirahat, merapikan logistik pribadi, dan makan siang, kami pun berlanjut menuju Pulau Gosong kisaran 1 jam dari Pulau Biawak. Too bad, seperti yang sering saya baca di ulasan-ulasan sebelumnya, vegetasi karang pulau ini justru biasa saja. Pulau Biawak lah yang paling baik dan masih terjaga. Konon akibat pengerukan oleh Pertamina sekitar 30 tahun silam. Cerita lengkapnya saya sendiri belum pernah dengar. So I thought we just had an ordinary snorkeling impression. Skala 1-10 Pulau Gosong saya beri 5.

Kembali ke Pulau Biawak bersamaan dengan tenggelamnya ufuk senja. Kami sengaja berlama-lama duduk di pinggir dermaga. It was nice though. Can even smell the unbreakable clean air like thousand times. Personally, I would call it as sunset groove.

Tidak sulit menemukan biawak-biawak berkeliaran di sana. Bahkan tak jarang mereka lah yang justru ‘ramah’ menghampiri. Saya sempat kasihan melihat seekor biawak tua di belakang rumah tempat kami menginap. Akibat gangguan pengelihatan, untuk melahap ikan di depan matanya pun sudah sangat kesulitan.

Morning Splash

Keesokan paginya, kami menapaki satu-persatu anak tangga dalam bangunan mercusuar. Meski masih aktif digunakan, namun harus ekstra hati-hati naik sampai ke puncak. Posisi liukan putaran tangga cukup terjal dan licin. Took me 10 minutes to reach on top. Dan seketika, semua itu terbayar lebih dari LUNAS di atas. Mungkin terdengar konyol, tapi entah mengapa saya merasa seperti memandang Jurassic Park landscape dari ketinggian. Juntaian hutan bakau sekaligus pinus terjalin solid memenuhi pulau. Absolut hijau. Kontras dengan biru perairan plus jingga matahari yang mulai mengintip. Truly God’s masterpiece.

image

Kami sempat mencoba menyusuri beberapa marka pulau. Sebelah kiri dari arah dermaga, terdapat bangunan-bangunan rumah dinas Kawasan Konservasi dan Wisata Laut Daerah (KKLD) serta makam Syeh Syarif Khasan. Sedangkan sebelah kanan dari arah dermaga hanya terdapat 1 makam Belanda.

Belum puas snorkeling di Pulau Gosong, saya dan 6 teman lainnya pun menjamah area depan Pulau Biawak yang biasa disebut Zona Penyangga. Ternyata varian ikan dan karangnyanya memang jauh lebih banyak dan berwarna. Spot di sini lebih bagus untuk snorkeling ketimbang di Pulau Gosong. Saya menjumpai banyak sekali kerapu hitam (Chremileptis altivella), zebra kuning hitam (Dendrichirus zebra), bahkan samandar (Siganus verniculator). But we really had to fight the stream tho.

Menjelang siang hari kami pun berkemas kembali ke Jakarta. Sekali lagi, sporadis hidup mengantar kita ke tempat yang tak pernah diduga. Agenda penjelajahan kali ini ditutup dengan senyum gemintang di wajah saya.

Andyna 

20 September 2010

Lokasi: Pulau Biawak, Indramayu Utara, Indonesia

Foto: Muhammad Rafki, Fajar NF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s