Di Belakang Panggung

Syafiah Syifa

Tulisan ini dibuat oleh Alm. Syafiah Syifa,

pada hari Rabu, 20 Januari 2010, sekitar jam 2 siang.

image

Seorang teman baik saya, Andyna, memberikan DVD bertuliskan The Bucket List – The Movie dengan sebuah notes kecil di dalamnya. Belum sempat di tonton, sakit saya kambuh. Saya pun menelepon teman saya, dan meng-arrange beberapa jadwal jalan-jalan untuk mengalihkan rasa sakit saya. Dokter pernah mengatakan memang seperti buah simalakama. Jika saya diam di rumah dan merasakan sakit, sakit ini bisa semakin menjadi, namun jika saya terlalu letih, sakit juga bisa saja semakin parah.

Saya pernah mengambil keputusan gila pada suatu jumat di bulan November 2009, saya lupa tanggalnya kapan. Pada saat itu saya tidak dapat berjalan, saya pun harus menggunakan kursi roda. Dokter mengatakan saya harus cuti kuliah. Dengan sombongnya saya bilang, “ngga bisa dok, saya udah niat bawa kue untuk teman-teman sekelas saya.” Dalam hitungan beberapa detik, dokter, suster, dan kedua orang tua saya tertawa miris. Mungkin dalam hati mereka ini anak sombong bener. Lalu, dokter bilang lagi sambil sinis, “ya, ngga papa kalau kamu mau pakai kursi roda ke kampus, tapi yah jangan dulu lah.”

Namun, sesampainya di rumah, setelah sholat ashar dengan kekeh saya bilang lagi ke orang tua saya, “kakak mau kuliah.” Mereka cuma diam, entah tanda iya, atau menggerutu ini anak keras kepala bener.

Tapi, semua terbayar dengan senyuman mereka, terutama setelah makan kue pie buah dari saya. Walau besoknya saya tidak masuk kuliah, tapi dengan jujur hati tanpa terkena kucuran dana bank century, setelah masuk kuliah, keadaan saya membaik, hati dan pikiran saya terutama.

Besok seninnya, inilah awal Andyna menyuntikkan semangat ke saya. Ia menulis barisan kata di sebuah kertas hijau, yang menurut saya lebih mirip seperti kartu. Sedikit kata-kata, tetapi bermakna. Lalu, sekarang berlanjut ke The Bucket List. Akhirnya saya tonton film itu. Ceritanya tentang sebuah list yang ditulis Edward (Jack nicholson) dan Carter (Morgan Freeman) yang divonis mati oleh dokter. Sebuah daftar yang akan mereka lakukan sebelum akhirnya mereka menutup mata selamanya.

Tanya reaksi saya? sedih? ya iya jelas. Padahal dokter bukan Tuhan, tapi entah kenapa kata-kata dokter selalu menggelegar, walau tak ada secuil pun dengan kekuatan Tuhan. Namun, lagi-lagi, sifat syirik ternyata suka muncul tanpa disadari.

Saya masih ingat jelas ketika dokter memvonis saya Lupus. setelah itu satu orang aktivis lupus dan seorang volunteer menghampiri saya dan memberikan semangat –yang pada saat itu omongan mereka bak angin lalu, masuk ke kuping kanan, ke luar ke kuping kiri, begitu sebaliknya.

Tapi itu juga cerita lalu, rasa excited dan semangat saya lebih tinggi, saya ingin mensyukuri segala hal. Saya pernah dalam kondisi bernafas dengan selang oksigen di rumah sakit. Tapi, saya percaya masih banyak yang lebih menderita dari saya, tapi sedikit mengeluh, banyak bersyukur. Ketika fisik sakit tak mengapa, tapi hati yang mati karena tak mensyukuri? Ngeri rasanya. Toh sakit ini anugerah, mungkin biar saya ga pecicilan

This is the way God loves me. I trust Him. Membuat sebuah list? Saya rasa semua orang punya list di hidup mereka, tanpa harus menunggu divonis mati. Saya rasa sejak kita lahir, seharusnya kita juga siap mati, walau kenyataannya tak sejalan dengan ungkapan saya barusan. Andyna pernah menuliskan sebuah kalimat seperti ini, “Semoga cepet sembuh, biar Agustus tahun depan bisa wisuda bareng deh, rame-rame.” Yap, itu salah satu list saya, wisuda bersama teman-teman Kommas saya, amin . Saya bukan orang yang romantis, sungguh, tidak pernah pandai menuliskan kata-kata atau ungkapan perasaan. Tapi, list yang ingin saya wujudkan sekarang mudah-mudahan tidak terbaca gombal. Untuk kalian teman-temanku sayang, terima kasih sekali atas segala semangat dan kebaikan kalian. Suatu saat nanti, entah saya yang akan pergi lebih dulu atau kalian, semoga hal-hal yang pernah kalian lakukan untuk saya –senyuman, guyonan, sentuhan, tangisan, kritikkan, nasihat, pelukan, bantuan, keberadaan kalian– akan berbalas berjuta kebaikan bahkan tak terhingga untuk kalian.

“If I die tomorrow I’d be all right because I believe

that after we’re gone, the spirit carries on.”

Dream Theater

Syafiah Syifa

Untuk Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s