Binar Bervakansi

TERPUKAU PESONA ANAK KRAKATAU: Menyusuri Lestari Vulkanik yang Unik

Menilik kawasan pesisir Kabupaten Lampung Selatan menjadi pilihan yang sebaiknya dimasukkan dalam daftar agenda Anda. Apiknya kontur alam dan tata wisata bahari di sana memang benar-benar masih solid terjaga. Anak Krakatau salah satunya. Peninggalan letusan maha dahsyat sang induk yang akhirnya tenggelam di tahun 1883. Sampai hari ini, telinga dunia masih terus memantau perkembangan Anak Krakatau, baik untuk ragam observasi penelitian, maupun sebagai referensi pariwisata di ujung bawah Sumatera, Indonesia. Meski harus diakui, upaya pemda setempat masih demikian minim dalam mengoptimalkan akses dan sosialisasi informasi status area di sana. Tidak sedikit wisatawan yang masih menyangsikan niat kunjungannya karena alasan keamanan. Namun kali ini bersama 7 sahabat hidup, saya berkesempatan menjamah dan memulai petualangan di cagar alam vulkanik tersebut.

200620_10150141950113485_1393322_n

Mengetuk Bahari di Selatan Kota Siger

Perjalanan kami dimulai dari barat Pulau Jawa dengan menyeberang menuju pelabuhan utama Bakauheni. Penyeberangan dengan menggunakan kapal ferry di malam hari memang seolah memaksa penumpangnya untuk terlelap. Kami tidur berdekatan di deret geladak dalam. Menjelang fajar sayup mengintip di ufuk timur, kapal pun menepi. Jauh berbeda dengan kondisi saat arus mudik lebaran, kali ini Bakauheni terlihat amat lengang. Bahkan tak banyak pedagang berkeliaran menjajakan makanan.

206208_10150141947188485_7263917_n

Satu jam berikutnya kami sudah transit ke pelabuhan mungil bernama Canti. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum yang dapat dipesan sebelumnya. Mencapai region wisata bahari di sekitar Anak Krakatau paling ideal ditempuh dari Canti. Belum terlihat adanya sarana dan prasarana yang memenuhi standar kelayakan 7 sapta pesona seperti yang digembar-gemborkan sektor pariwisata daerah. Namun setidaknya akses  telah tersedia.

198611_10150141947938485_2010443_n

Cuaca, angin, dan kondisi laut di hari pertama amat bersahabat. Sebuah perahu kayu nelayan sepanjang 6 meter bermesin butut mengantar kami menuju pulau pertama. Kami duduk di bagian atas atap perahu mini. Sambil menikmati sarapan ala kadarnya, kami melempar pandangan sejauh horizon sekitar. Pantulan sinar matahari pagi seperti kristal di atas riak air lautan berwarna hijau tosca. Bening sekali. Lewati deretan pulau-pulau kecil liar tak berpenghuni.

Biota Sebuku Yang Menggoda

Tak lama, perahu kami membelah Selat Sebuku yang memisahkan antara induk Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Target lokasi snorkeling pertama ada di sini. Pulau Sebuku merupakan pulau kosong yang awalnya diberi nama Sebuku Lunik oleh warga sekitar. Dalam bahasa Lampung, kira-kira artinya sebuah genggaman kecil. Karakter tepi pantainya landai, mungil, berpasir amat putih, dan dikelilingi pepohonan tua dengan ranting-ranting menjulur panjang. Terumbu karangnya didominasi oleh jenis flat reef, koral muda berukuran sedang, dan karang hermatipik lebar. Mungkin ini yang juga menyebabkan variasi ikannya warna-warni beragam. Namun yang paling membuat saya tersenyum simpul adalah ketika berjumpa sekumpulan ikan badut (clown fish) persis seperti di film Finding Nemo.  Mereka berenang di balik lipatan-lipatan anemon. Tubuh gempalnya bermotif garis putih dan oranye. Panjangnya tak lebih dari jari kelingking manusia. Sesekali bersembunyi malu dan menjauh. Benar-benar menggemaskan.

205360_10150141947998485_6543114_n

188782_10150141948153485_4968556_n

Merebah Tenang Di Atas Omang

Selepas istirahat siang, target kedua diteruskan. Kami sempatkan pula singgah beberapa jam di Pulau Omang-omang atau Umang-umang (dialek asli penduduk Lampung biasanya menyebut “Omang”). Kontur bibir pantainya cenderung memanjang. Beberapa sudut menyundul bebatuan granit hitam setinggi tubuh orang dewasa. Patahan batu-batu granit ini menyembul dan membelah hampir di tiap siku pulau. Memecah ombak yang datang dengan begitu natural. Pasirnya lebih halus dan berwarna putih gading. Pulau Omang-omang memang tidak menjual sensasi bawah laut seperti di Sebuku tadi. Namun justru keunikan tipikal pantainya lah yang menjadi daya pikat terbesar. Hingga sore tiba rasanya enggan beranjak pergi. Nyaman sekali merebahkan tubuh berbalut butir lembut pasir di atas pulau perawan ini. Hutan hijau kecil di dalamnya pun dapat dilihat dengan berjalan kaki. Simply magnificient shore.

Keheningan Sebesi

Seiring senja datang, kami sudah sampai di pulau yang jika dilihat di peta akan berbentuk hampir bundar seutuhnya. Pulau Sebesi namanya. Berdiri dipayungi lereng Gunung Sebesi, dan masih tercatat sebagai bagian dari Kecamatan Raja Basa, dan masih terletak di gugusan Teluk Lampung. Di pulau inilah kami akan bermalam. Konon, karena jumlah dusun serta penduduknya yang relatif padat, pulau ini cukup rawan dan kerap mendapat status siaga. Penduduknya tak jarang harus diinstruksikan untuk mengungsi jika Anak Krakatau menunjukkan gejala ‘batuk’nya.

188506_10150141948838485_2586150_n

Dermaga Sebesi terbentang memanjang. Hanya perahu-perahu kecil nelayan yang berlabuh di sana. Mengantarkan stok logistik dan tentunya para wisatawan. Masyarakatnya sudah cukup berswadaya, terutama dari hasil tangkapan ikan dan pertanian. Ditambah lagi beberapa rumah penduduk sengaja dijadikan homestay bagi pengunjung. Sambutan dan pelayanannya pun demikian bersahabat dan membantu.

Kendala operasional di Sebesi saat ini terletak pada permasalahan pasokan listriknya. Pulau ini hanya mendapat jatah listrik dengan bantuan generator diesel yang menyala waktu maghrib tiba dan hanya sampai jam 12 malam. Sedangkan jangkauan sinyal telepon seluler sudah cukup baik. Jadi saya sarankan, pintar-pintar menggunakan baterai telepon seluler untuk kebutuhan yang benar-benar penting.

Saat matahari terbenam, semburat lembayung merah keunguan terlihat cantik sekali di kejauhan. Menyentuh samar bayangan puncak Anak Krakatau. Walaupun sempat gerimis, tapi nyatanya di malam hari ribu bintang cerah menghujam banyak sekali. Diiringi orkestra  alam dari suara bapak-bapak jangkrik. Sesekali kilau kunang-kunang juga menari di depan teras penginapan. Sepanjang malam kami habiskan dengan cerita dan canda. Hingga tak sadar terlelap pulas bersama.

Jejak di Atas Pasir Anak Krakatau

Penjelajahan menuju Anak Krakatau dimulai sejak pagi buta di hari kedua. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk berlayar kesana. Pengarungan pagi itu cukup berat dikarenakan arus laut yang tiba-tiba pasang. Gelombang besar, tinggi, dan ganas tak jarang masuk ke dalam perahu. Harus diakui tidak mudah terombang-ambing dengan kondisi tubuh setengah sadar setelah bangun dari tidur. Tak lama bertahan, kami pun memuntahkan rasa mual secara berjamaah. Amat serentak tak berdaya di pinggir jendela perahu. That moment noted as my first ‘jackpot’ while traveling so far.

Mendekati tujuan, 3 serangkai pulau akibat patahan letusan menyambut anggun, Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung. Menatap ketiganya terasa teduh sekali. Satu-persatu kami turun menginjakkan kaki di Taman Nasional Krakatau. Pasir hitam pekat dan tembusan hutan tua mengelilingi area vulkanik tersebut. Terlihat beberapa rombongan lainnya pula yang beruntung bisa berkemah di sana. Suasana sekitar gelap dan sedikit menegangkan bagi saya.

195907_10150141950558485_2600291_n

205621_10150141950288485_1160480_n

Pendakian setapak-demi setapak dilakukan dari sisi timur Anak Krakatau. Derajat kemiringan bahkan mencapai kisaran 45 derajat mencapai puncak. Kontur gunung berpasir yang terlalu halus bahkan nyaris tidak bervegetasi seperti ini, menyebabkan kami lebih mudah tergelincir. Keseimbangan tubuh hanya bisa ditopang dengan kedua kaki sendiri. Tidak ada bebatuan atau pepohonan yang biasanya memudahkan saat mendaki gunung biasa.

Setelah kurang lebih 30 menit tertatih, akhirnya kami sampai. Segala penat dan lelah selama mengarungi pasangnya lautan terbayar lunas. Tepian kawah bekas letusan terhampar megah berdampingan dengan puncak. Dari ujung ke ujung tak ada kumpulan manusia lain selain kami. Sambil mengatur nafas, perlahan bentang pandang mata pun sesak oleh lautan biru. Tiga pulau patahan mengintip dari utara, timur, dan barat. Asap belerang berkolaborasi dengan kabut di ketinggian 230 mdpl (akhir Maret 2011). Satu lagi poin unik Anak Krakatau, gunung berapi aktif ini masih kerap bertambah tingginya senti demi senti dari waktu ke waktu. 

205594_10150141949163485_7593268_n

Objek wisata Taman Nasional Krakatau sesungguhnya pernah dinominasikan sebagai kandidat baru The New 7 Wonders (Tujuh Keajaiban Dunia). Sejajar dengan Taman Nasional Komodo di Flores dan Danau Toba di Sumatera Utara. Sayang, lemahnya kampanye dan promosi mematahkan mimpi prestasi pariwisata internasional tersebut.  Namun tentu tidak mematahkan keinginan saya untuk menjejakkan kaki kembali disana. Sebagai ritual pribadi, agenda petualangan kali ini ditutup dengan senyum gemintang di wajah saya. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel stories Meminang Rupa Pulau Sangiang

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

13 April 2011

Lokasi: Krakatau, Sumatera Selatan, Indonesia

Foto: Muhammad Rafki

One thought on “TERPUKAU PESONA ANAK KRAKATAU: Menyusuri Lestari Vulkanik yang Unik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s