Tudung Seni

Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara

Sebuah impresi. Bukan resensi.

image

Sebuah sudut problematis dalam mata rantai kultural Tarling-Dangdut-Indramayu menjadi sorotan pementasan Teater Garasi kali ini. Wilayah di pesisir utara Jawa tersebut memang kontan tak sekedar menyuguhkan satu sisi warisan nenek moyang bernama seni. Melainkan juga deretan polemik hidup. Saling beririsan. Saling bergesekan. Saling tumpang tindih.

Di area pintu masuk, penonton disambut hangat dengan nuansa arak-arakan pengantin. Empat pria sebagai pagar bagus ramah menyalami penonton satu-persatu. Dentuman instrumental Tarling-Dangdut menyeruak kencang. Tak lama, sebuah tata panggung dinamis empat sisi berlatar rumpunan padi menguning terbuka. Tumpukan karung beras menjadi alasnya. Saya kagum sekali dengan interaksi yang dibangun para pemain. Sangat hidup. Sangat natural. Sangat melibatkan penonton itu sendiri.

Yudi Ahmad Tajudin, sang sutradara secara sederhana ingin menyampaikan sekelumit identitas dari tiap-tiap pusat kebudayaan lokal. Lewat teatrikal malam itu, tersirat pesan tentang betapa kini masyarakat tidak bisa lagi mengkotak-kotakkan jati diri. Eksistensi sebagai manusia normal dalam sistem lapisan sosial itu sendiri. Sebab kita pun sudah tidak berdaya melawan arus kompleksitas liar bernama globalisasi. Demikian hebat, demikian cepat. Sejenak mengingatkan saya pada konsep hasil buah pikir Marshall McLuhan, yang berimajinasi sejak berdekade lamanya mengenai balada global village. Esai pertunjukkan ini mengajak kita untuk sedikit melebarkan sudut pandang. Mengintip partisi lain dari individu-individu yang terikat pretensi peradaban. Menghindari kecenderungan kita yang seringkali berpikiran sempit dan apatis terhadap perubahan.

Soal pengiring, Teater Garasi kembali memadukan sentuhan lokal dan cita rasa internasional. “Jeritan TKW” (Een Klafinova), “It’s Not Up To You” (Bjork), “Rhizomatic” (Wangi Indriya), “Ketropak Kendhang” (Gunawan Maryanto), adalah sedikit dari cuplikan musik yang ditampilkan. Terasa pas. Tidak berlebihan. Apik.

Karya pertunjukkan ini juga didedikasikan sebagai sebuah penghormatan Teater Garasi kepada Mimi Rasinah dan Pina Bausch. Menyenangkan sekali melewati malam dengan sajian talenta berkarakter khas para seniman Jogja. Salute!

Andyna 

13 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s