Di Belakang Panggung

SUMPAH ‘sembarang’ PEMUDA

Sekiranya Mohammad Yamin masih tegak berdiri dan berjuang saat ini, saya menduga beliau akan masih sangat lantang berorasi di jalan protokol ibukota hari ini. Di tengah guyuran hujan dan dinginnya lapisan udara. Tepat tanggal 28 Oktober 2011. Peringatan sejilid ensiklopedia bangsa persis seperti 83 tahun silam. Ketika ia merumuskan sekaligus memaparkan panjang kali lebar tentang isi teks Sumpah Pemuda. Ya, demikian disayangkan. Semangat juang pujangga angkatan sastra lama asal tanah Minang ini, tidak banyak dikenal anak bangsanya sendiri sekarang.

Sejak remaja, berkali-kali sering saya membaca ulang tiga butir deklarasi persatuan pemuda-pemudi versi orisinal tersebut. Mencoba mengurai implementasinya dengan kondisi negeri sekian puluh dekade kemudian, yaitu masa kini. Era dimana saya tumbuh menjadi bagian penerusnya. Hanya tiga butir, Kawan. Namun tak henti saya berdecak kagum betapa luar biasa pesan latennya.

Terus terang, seringkali saya merasa gerah dengan sempitnya perspektif segelintir orang. Yang mengukur kadar nasionalisme hanya dari sempurna atau tidaknya bahasa Indonesia yang saya gunakan. Yang mencibir level nasionalisme hanya dari kacamata profesi yang saya kerjakan sok kebarat-baratan. Oh Kawan, buka mata kalian. Nasionalisme tidak sesempit itu.

image

Sejatinya secara sederhana, saya berusaha mengejawantahkan pakem nasionalisme ke dalam abstraksi yang lebih realistis. Jauh lebih logis. Jauh lebih membumi. Saya lebih menyukai agenda penjelajahan pantai-pantai liar, bercengkerama dengan anak pulau terasing, mencium basahnya pucuk Edelweiss berselimut kabut di atas gunung, habiskan malam bertenda di tengah hutan bakau, menjajal riak dan jeram hulu sungai, menengok warna-warni anemon bawah laut, atau sekedar mencicipi pangan hangat pasar tradisional kala pagi buta. Saya mencatat itu semua dan membagi sisi Indonesia tersebut pada dunia. Ketimbang berkoar-koar memperdebatkan siapa pemuda yang paling nasionalis abad ini.

image

Contoh kecil lain, kita bisa mengapresiasi karya musisi lokal dengan tidak membeli CD album mereka versi bajakan. Berlibur akhir tahun menikmati karisma Pulau Samosir di bagian utara Sumatera. Bagi perempuan, kita bisa bangga melenggang anggun dengan busana tribal berkain batik Halmahera karya pribumi yang begitu digila-gilai pengamat mode berskala global. Memperkenalkan cara bermain congklak atau solmisasi musik angklung pada anak-anak kita. Ya. Sesederhana itulah wujud konkret nasionalisme.

Tidak perlu saya tutupi. Pekerjaan saya memang menuntut difusi kreativitas antara budaya lokal dan internasional. Bagi saya, inilah hakikat dari mobilitas budaya di Indonesia sendiri. Ia dinamis. Ia hidup. Ia bergerak. Ia berkolaborasi. Tentunya dengan tidak meninggalkan akar dan saripati darimana ia berasal. Tidak melupakan identitasnya. Dari situlah kekuatan kita bersatu sebagai pemuda-pemudi. Pendekatan terbaik untuk mengerti kompleksitas interkultural adalah melihat konsep kultur dari perspektif yang berbeda (J.N Martin dan T.K. Nakayama, 1999).

image

Jadi bermimpilah. Bangunlah. Berlarilah. Karena Sumpah Pemuda tidak remeh. Butuh kerja keras. Dan tidak mati di satu generasi saja. Bukan sumpah sembarang ala kadarnya.

Andyna 

28 Oktober 2011

Photos by: Muhammad Rafki & Fotopages.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s