Binar Bervakansi

BROMO: Mendaki Tautan Bentang Montana

Sejauh ingatan saya, penghujung tahun selalu menyuguhkan eksplorasi alam penuh impresi. Di tengah intensnya curah hujan bulan Desember, kerap tersembunyi sisi mayapada lain yang menyenangkan. Tidak terkecuali yang satu ini. Bersama gerombolan petualang gila kaliber 1, Gebrakers, saya menapakkan kaki pertama kalinya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Sila ikuti jejaknya.

image

Hindu’s Foreground

Menyibak maha karya Bromo terasa seperti berpindah dimensi. Kawasan wisata stratovolcano ini bukan sekedar gunung berapi komposit ala kadarnya. Kita akan dimanja dengan varian multi objek disana-sini. Mulai dari alam, hingga hangatnya sambutan. Dalam literatur Sansekerta, Bromo mengadopsi nama salah satu Dewa prima dalam kepercayaan agama Hindu. Tidak heran, sampai sekarang, masyarakat Tengger sebagai suku asli yang mendominasi lingkungan ini, masih dikenal taat pada aturan dan ajaran Hindu.

Perjalanan darat via kereta Gaya Baru Malam Selatan memakan waktu tidak kurang dari 14 jam. Setelah tergelak meramaikan seisi gerbong dengan permainan kartu UNO, tibalah kami di Surabaya. Beruntungnya, disinilah kami bertemu dengan Iman Kurniadi. Salah seorang rekan Gebrakers yang berdomisili di kota pahlawan. Dengan sigap ia banyak membantu detail persiapan sampai eksekusi final trip ini. Gerimis mengantarkan penelusuran kami menuju Desa Ngadisari di radius Probolinggo. Melewati jalan raya menanjak dan erat tikungan tajam. Desa  ini merupakan desa terakhir sebelum turun ke lautan pasir yang menjadi lokasi utama Gunung Bromo.

image

image

Saat malam tiba, hujan deras, temaram lampu, dan bincang-bincang warung kopi menjadi warna tersendiri. Kami menginap di sebuah rumah warga dengan ’Sistem Umpel-umpelan’. Bonusnya, gaya tidur khas bolang seperti ini justru menguntungkan. Udara terasa lebih hangat sebab tubuh kami merapat satu dengan yang lain.

Tepat jam 2 dini hari, kami dibangunkan dan segera bergegas menyiapkan diri untuk pendakian. Deretan jeep melaju beriringan menembus kegelapan. Mengantarkan kami sampai menyentuh kaki gunung. Saya tidak bisa berhenti tersenyum takjub sekali saat mendongakkan kepala ke atas langit saat itu. Bahkan setelah diguyur hujan deras, atap Bromo tetap melemparkan tebar bintangnya. Memukau sedemikian sani di mata.

image

Tiga ratus anak tangga diselingi penerangan senter ala kadarnya. Kami terus menaiki pos demi pos. Semakin ke atas, anak tangga rupanya terhenti di tengah gunung. Untuk melanjutkan pendakian, hanya terdapat celah curam, terjal, dan sempit sebagai jalan setapak. Jika kurang berhati-hati, bisa dengan mudah tergelincir. Dengan nafas masih setengah tersengal, kami melempar pandangan sesampainya di atas. Segala peluh terbayar, mata spontan berbinar.

Dramatic Glance

Inilah maha karya Bromo. Tautan bentang montana yang diambil dari nama Brahma. Visualisasi apik dari hamparan lembah, ngarai, dan lautan pasir yang tersulam. Kami menanti munculnya sang rawi sembari tunaikan ibadah subuh. Tak lama, semburat jingga dan kebiruan mulai berbaur. Lembut menerangi tetangganya yang tak jauh bersinggungan, yaitu Gunung Batok, Kawah Bromo, serta puncak Mahameru. Sungguh merekalah juwita pagi itu, Kawan!

image

image

image

image

Usai sarapan ala kadarnya, kami meneruskan penelusuran.  Jalur masuk melintasi objek berikutnya cenderung berkerikil. Permukaan tanah lembab bercampur dengan gundukan pasir. Mayoritas vegetasi sekitar kering berguguran akibat erupsi baru-baru ini. Tibalah kami di lokasi Pasir Berbisik. Sebuah kaldera atau lautan pasir yang terperangkap. Sesekali saat berpijak, saya memperhatikan beberapa sudut pasir mengeluarkan asap putih tebal. Sekelilingnya hanya dipagari perbukitan dengan rona cokelat kehijauan. Puas sekali rasanya berlari-lari di tengah gurun ini. Tekstur pasir amat bersih, hitam, pekat, bahkan mengkilat terkena bias matahari pagi. Pas menjadi alas dari beberapa jeep yang parkir berkoloni.

image

image

image

image

Lalu, jangan pikir hanya belantara Afrika Selatan yang punya padang savana. Bromo pun mampu menyajikannya. Padang Savana Bromo terjalin solid dengan Bukit Teletubbies. Dinamakan demikian karena kontur bukitnya begitu hijau, rapi, dan hening. Tersusun tanpa berundak. Persis taman bermain Teletubbyland di serial TV anak Teletubbies. Sebagian sisi dihiasi tebing hitam tipis. Kumpulan ilalang juga mengayun manja searah hembusan angin pagi itu. Sekilas landscape ini mirip Desa Edensor di Derbyshire – Inggris, seperti yang pernah dideskripsikan Andrea Hirata dalam salah satu tetraloginya.

image

image

image

Sisanya, kami bermain di kisaran bibir kawah, kaki Gunung Batok, dan Pura Luhur Kahyangan. Jeep yang kami tumpa memasang tarif Rp 410.000,- untuk sampai ke titik-titik utama tadi. Tak lupa, oleh-oleh Teh Candi Wayang kami borong sebelum beranjak pergi. Kami tergoda jahil menyebutnya Teh Christine Hakim. Sebab sang penjual begitu fasih berpromosi, bahwa aktris legendaris itu amat suka meminumnya selama shooting film Pasir Berbisik dulu. Dan tentunya, alam Indonesia selalu hadirkan senyum kirana di wajah saya.

Jelajahi negeri dengan tawa!

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

13 Januari 2012

Foto: Angga Pramono, Ikka Wuwiwa, Fajar NF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s