Tudung Seni

Teater Komedi “Catatan Si Boy”: Dari Suatu Perjalanan Menjadi Sebuah Catatan

Sebuah impresi. Bukan resensi.

Akhir pekan lalu, Jakarta kembali menjadi saksi lahirnya talenta segar dalam dunia seni peran. Kali ini giliran aksi atraktif dari Teater SMA Tarakanita 1, yang mengadopsi basis cerita dari film fenomenal “Catatan Si Boy”. Cerita lokal tahun 80-an dengan sepaket konflik anak muda, gaya hidup, banyolan kampus, sampai ikon yang menjadi trendsetter di zamannya. Bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, saya harus mengakui apiknya entitas komedi teatrikal siswi-siswi ini. Tidak ada siswa? Oh tentu saja, karena semua pemain dan tim produksinya adalah perempuan!

image

Outstanding Casts

Bukan Tarakanita namanya kalau tidak mampu menggali potensi remaja perempuan masa kini. Sejak babak pertama dimulai, peran-peran sentral tampil demikian berani, maksimal, dan percaya diri. Tokoh utama “Boy” diperankan oleh Nindy. Karakter Boy demikian pas ia mainkan. Perawakan necis, gaul, sopan, dan memegang teguh adat ketimuran. Nindy mampu membawakan sosok Boy, yang dulu diperankan oleh aktor Onky Alexander, ke dalam dimensi waktu sekarang.

image

image

Emon, salah satu sahabat yang akrab menyapa dengan suara sengau “Mas Boy”. Karakter ini dengan jenius dikemas ulang oleh Nadia. Mulai dari bahasa tubuh, cara berjalan, mimik wajah, latah, sampai deretan lelucon gila. Nindy sanggup mengadaptasi perilaku kemayu Didi Petet sekian puluh tahun lalu, menjadi begitu menggemaskan dengan kehebatannya sendiri.

Karib dan gadis-gadis primadona lainnya dalam hidup Boy juga tak kalah menarik. Tokoh Andi, Vera, Nuke, sampai cameo kecil sekalipun terasa menyentil tawa penonton. Naskah disampaikan dengan relevansi permasalahan remaja saat ini.

Plus Points

Tidak puas hanya bermodalkan pemain berkualitas. Pementasan ini juga matang mempersiapkan komponen panggung lainnya. Artistik properti panggung, lighting, snap video, kostum, koreografi, dan tentunya band pengiring. Semua bersinergi dalam kadar sesuai porsinya. Tidak berlebihan. Membuat penonton betah duduk dan terpingkal hingga akhir babak. Oia sang vokalis bandnya melantunkan lagu-lagu bernuansa old school rock, dengan suara khas ala rocker wanita Indonesia. Truly powerful.

Bukti nyata bahwa tipikal pertunjukkan postmodern seperti ini jelas tidak akan mati di negeri kita. Bukan hanya bagi para pelakunya, tetapi juga lingkungan penonton yang menikmatinya. Siapa bilang perempuan tidak bisa. Dan sebagai salah satu alumni Tarakanita, tentu saja saya bangga.

..Siapa tak kenal dia
Boy anak orang kaya
punya teman segudang
karena pergaulannya..

(Catatan Si Boy – Ikang Fawzi)

Andyna

18 Januari 2012

Foto: Teater Tarakanita 1, Okto Magazine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s