Binar Bervakansi

House of Raminten: Kuliner Jogja Edisi Funky

“Woh ya jelas tahu toh!

Saya paling seneng nganter tamu ya makan di Raminten itu.

Soalnya pelayan-pelayannya pakai kemben semua hehe”,

ujar Pak Kelik terkekeh.

Begitulah jawaban tangkas seorang supir tua yang menjemput kami di salah satu sudut kota Jogja pekan lalu. Agenda makan siang sengaja kami tunda demi rasa penasaran. Ya. The House of Raminten sudah beberapa kali kami dengar dan direkomendasikan banyak teman. Namun untuk pertama kali akhirnya kami bisa merasakan sendiri sensasinya.

maxresdefault

image

The House of Raminten menjadi simbiosis menarik antara kuliner dan atmosfer. Terletak di pojokan jalan FM Noto area Kotabaru. Sekitar 15 menit saja dari pusat Malioboro. Kami melangkahkan kaki begitu ringan dan riang ke dalam sebuah halaman rumah tradisional Jawa, dengan suasana semi outdoor, serta beragam perintilan ‘gila’ di dalamnya. Dari saung pendopo sampai kandang kuda. Benar saja kata Pak Kelik tadi, deretan pelayan ‘dikemas’ demikian molek. Berbalut kemben, kain batik terlilit asimetris, sanggul khas dayang keraton, tata rias mengerling genit, hingga braided flip flop alias selop kaki beraneka detail. Folk fashionably!

8617e3_f89d455d686e4b659d79f865d4c7c9f9

Bagian depan terdapat deretan kursi biru bertitel “Area Sabar” sebagai ruang tunggu. Rupanya antrian panjang di sini adalah hal yang amat lumrah terjadi. Ramainya pengunjung tak kenal hari. Apalagi wisata kuliner yang satu ini memang dibuka nonstop 24 jam. Pelayan pun segera mengantar kami ke area teras lesehan, dengan senderan kursi rotan dan meja kayu cokelat. Mata saya tak berhenti menari dan menyapu interior padepokan dari segala penjuru. Aroma dupa segar menyeruak. Foto-foto Hamzah, “The Drag Queen of Raminten”, alias sang pemilik terpampang jelas dalam berbagai pose. Tepat bersebelahan dengan meja makan, gagah berdiri 1 sepeda onthel dan 2 buah kereta kencana keraton berwarna hijau dengan tulisan “Hanya boleh dinaiki pada hari Minggu Wage”.

Sembari menunggu pesanan, saya tak tahan untuk tidak masuk ke dalam ruang tamu, yang rupanya sudah disulap menjadi ruang kerja. Rasanya seperti memasuki sebuah museum antik. Paduan sofa kulit, cermin tua, gagang telepon berlapis kuningan, koleksi pipa cerutu, lukisan kuno, meja kerja raksasa, dan barang lainnya, bersinergi apik satu sama lain.

raminten

img02462-20120504-2050

Bicara soal makanan? Disini gudangnya angkringan versi repackage. Kenapa begitu? Karena basis menunya tetap sesederhana manu angkringan. Tapi dikemas ulang dengan tampilan yang jauh lebih ciamik. Sebut saja Nasi Kucing, Rawon Jumbo, Gudheg, Mie Goreng Jawa, Kupat Sayur, atau cicipi hot stone steak bernama Maheso Selo Gromo. Oh jangan lewatkan juga seruput macam-macam es racikan The House of Raminten. Mulai dari Es Teler Raminten, Susu Pawon Kebumen, Dawet Gladri, Gajah Ndekem (teh gelas jumbo dengan celupan apel kupas bulat di dalamnya), Es Ponconiti dengan gradasi ungu, Es Purworukmi, Bir Pletok, sampai Es Krim Bakar. Slurrrpp!

Rangkaian suguhan klasik sekaligus nyentrik di atas bisa dinikmati dengan kisaran harga bersahabat. Mulai dari Rp 1.000 – 25.000 saja. Backpackers really should come over here. And yes, Jogja made me bat my eyelashes one more time!

The House of Raminten

Jl. FM. Noto no. 7, Kotabaru Yogyakarta
Telp. +62-274-547315

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

14 Maret 2012

Foto: Gebrakers, Siwi Mars Wijayanti, Wixsite, Lumintu, Naciley

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s