Tudung Seni

Terbius Konser “I Slank U”

“Tatap matamu ingatkan aku pada bintang. Terang menyinari bumi di sudut malam. Lihat senyummu khayali aku akan sampah. Tumbuh di benak hitamku naluri arak.”

Bait pertama lantunan “Lorong Hitam” terbalut legit oleh duo gitar akustik Bimbim dan Kaka. Salah satu lagu yang sangat jarang dibawakan pada konser Slank umumnya. Ini hanya sebagian dari rangkaian kejutan manis dalam pagelaran masif konser “I Slank U – The Journey of The Blue Island” pekan lalu. Ballroom Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, menjadi saksi berlangsungnya satu lagi aksi musik anak negeri yang berkelas dan pantas dibanggakan.

Nilai nominal untuk mendarat di ‘Pulau Biru’ kali ini memang terbilang jetset. Inilah pertama kalinya sepanjang 28 tahun eksistensi Slank, penjualan payu mencapai angka lebih dari satu juta rupiah per tiket. Harga itu terbayar dengan optimalisasi konsep prestisius berdurasi 3,5 jam. Menghadirkan pilihan gita terbaik dari rangkuman 19 album yang mereka punya. Menyuguhkan impresi bersama 80 pemain orkestra dan paduan suara. Menggandeng 3 Music Director sekaligus untuk meramu aransemennya.

“Tribute to Slank” dipilih sebagai pemanasan di bagian awal. Deretan musisi muda Indonesia tampil mengemas ulang hits jagoan band Potlot ini dengan karakter musik mereka masing-masing. NAIF membuka dengan ciri khas vintage rhythm mereka lewat lagu “Memang” dan “I Miss You But I Hate You”. Alexa mempersembahkan “Mawar Merah” dengan sentuhan ballad. Rasanya, tidak ada satu pun penonton yang tahan untuk tidak ikut teriak “..ayaya..aaa..yayaya..” di bagian refrainnya. Selepas Sashi memilih “#1”, Kartika Jahja alias Tika pun meminta “Kirim Aku Bunga” dalam nuansa blues. Tak ketinggalan, band indie Pure Saturday turut mengepakkan “Koepoe Biru”. Namun favorit saya jatuh pada Dira Sugandi. Pernahkah Anda membayangkan “Fotoku Dalam Dompetmu” disajikan versi jazz? Yes. She did it brilliant that night.

image

Gebrakan Slank sendiri kali ini terasa powerful. Mereka muncul dalam tata kostum unik bergaya “Pretty Odd Rock ‘n Roll”. Penonton langsung diajak berjingkrak seketika dengan medley panjang “Pulau Biru”, “Bang Bang Tut”, dan bermain “Tong Kosong”. Deretan penyemangat nasionalis untuk generasi muda juga kental terasa saat “Mars Slankers”, “Lo Harus Grak”, “Jurus Tandur”, serta “Garuda Pancasila” berkumandang.

Istimewa bagi saya kala menyaksikan Bimbim bernyanyi solo memanggil “Bidadari Penyelamat”. Ia nanar menatap sebuah bola kristal gemerlap di atas kepalanya, yang tampak seolah seperti bintang. Terakhir kali melihat Bimbim membawakan lagu ini saya masih berumur 15 tahun. Malam itu, saya sudah 25 tahun. Namun sensasinya masih menggila.

Zona gundah. “Anyer 10 Maret” yang memang erat dengan suasana patah hati dirayakan dengan orkestrasi megah. Membaur bersama paduan suara di belakangnya. Hebatnya, denting melodi keyboard Ridho tetap berkarakter kuat. Merinding!

image

image

Berbagai kolaborasi apik juga memikat sekali. Vokal sopran Dira Sugandi, lengkingan tajam Kaka, dan brass section menjadikan “Ku Tak Bisa” terasa berbeda. Satu lagi lagu yang juga amat langka, “Reaksi Kimia”, meletup bersama Tika. Sedangkan kejadian lucu yaitu Kaka sengaja memakai lagi bajunya ketika hendak menjemput Eyang Titiek Puspa berdendang “Orkes Sakit Hati”. Katanya, duet sama orang tua mesti sopan. LOL!

image

Sebagai penutup, “Kamu Harus Pulang” dibawakan asyik dengan kocokan reggae. Plus Kaka mengantar “Terbunuh Sepi” dengan gimmick sayap kupu-kupu biru raksasa di punggungnya. Rasa-rasanya, sepanjang sejarah konser Slank, baru kali ini tidak muncul penampakan ‘bendera berkibar’ di tengah penonton festival. Oh ya, para Slankers Wangi yang datang bahkan didominasi gadis-gadis ranum dengan lipstick merah menyala. Hell to the yeah sexy.

Bagi saya pribadi, konser ini seperti napak tilas. Saya sudah jatuh cinta pada Slank sejak kelas 5 SD. Ada sebuah sudut dimana kumpulan Memorabilia Slank dipajang demikian elegan. Seperti penegasan betapa mereka telah menelan perjalanan panjang. Merekalah yang membuat saya melepaskan poster-poster boyband di masa puber (hehehe). Racikan “I Slank U” terasa seperti mengunyah red velvet cupcake. Manisnya pas, menggoda, bikin ketagihan, dan kenikmatannya sulit dilupakan. Seisi ballroom terbius mesra dan bernyanyi ceria. Angkat topimu dan katakan “I Slank U!!!!”

 

Andyna

16 Mei 2012

Lokasi: Pasific Place, Jakarta, Indonesia

Foto: Ria Tanisa, Maria Cicilia Galuh, Slank.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s