Binar Bervakansi

Memagut Papandayan Kala Ramadhan

 “Kalau aku jadi ke Papandayan hari Jumat ini, kamu masih tertarik ikut?”

Whatsapp left message: Jul 25 at 8:01 PM

Sender: Iman Kurniadi

Demikian pesan singkat dari seorang travel mate. Pertanyaan di atas lebih terbaca seperti sebuah tantangan bagi saya. Ini serius? Naik gunung sambil puasa? Pria asal Surabaya itu dengan antusias menjelaskan rencana trip impulsifnya. Seakan yakin saya tidak akan berkata tidak. Lalu atas nama gengsi setinggi langit, berangkatlah kami menuju bagian tenggara Jawa Barat; Garut.

image

Bersama komunitas Backpacker Indonesia (BPI), saya menjamah Gunung Papandayan untuk pertama kalinya. Gunung berapi semi-aktif yang pernah meluluhlantahkan 40 desa akibat letusannya ini memang tidak terlalu tinggi. Berada pada 2665 MDPL (Meter Di Atas Permukaan Laut). Tapi Kawan, coba rasakan pendakian di tengah dahaga dan audio perkusi perut kala puasa. Sensasional!

Jelang waktu sahur, kami tiba di Terminal Guntur. Hanya disambut hawa sejuk dan bunyi komuni jangkrik. Sepi sekali. Lepas subuh, 2 unit mobil sayur (pick up car) membawa rombongan kami sampai kaki gunung.

Baru fase pertama pendakian, saya sudah dikejutkan dengan moleknya lipatan tebing kapur. Sambung-menyambung dari satu sudut ke sudut lain. Menjuntai sedemikian apik. Sesekali menyembul warna kehijauan sebagai vegetasi yang merambat erat di sisi tebing. Rasanya seperti berada dalam sebuah cekungan cawan besar dengan dinding tertutup rapat. Tebing-tebing itulah dindingnya.

image

image

image

Topografi didominasi lintasan berbukit. Sepanjang penanjakan, kepungan asap belerang menguap tajam. Saya juga menemukan lubang-lubang magma panas. Beruntung sekali siang itu cuaca bersahabat. Meskipun terik, semilir bayu tetap terasa sejuk. Oh akibat ulah sok tahu, kami harus memanjat tebing 90 derajat batuan curam, lengkap dengan bantuan lilitan tali tubuh. Padahal ada jalur landai di bagian bawah yang jauh lebih bersahabat. Hell yeah navigation!

In my point of view, lansekap terbaik ada ketika saya memasuki kawasan Hutan Mati (The Dead Forest). Vegetasi pepohonan Cantigi berjejer hangus akibat erupsi. Ranting-ranting gosong menghitam. Nampak tersulam natural. Ironisnya, justru fenomena alam ini memberi nilai eksotis. Sudah pernah nonton film Snow White & The Huntsman ala si cantik Kristen Stewart? Bahkan The Dead Forest versi film ini masih kalah atraktif dengan versi Papandayan.

image

image

image

image

Pondok Saladah kami pilih sebagai lokasi berkemah. Selesai membuka tenda dan masak, saya melanjutkan penjelajahan ke beberapa titik menarik lainnya. Seperti Tegal Alun, hamparan padang bunga keabadian, Edelweiss, yang berbatasan dengan tepi jurang. Di malam hari, suhu udara berganti ekstrim membungkus tubuh. Lucunya, sholat berjamaah kali ini diiringi bunyi gemeletuk gigi dan gemetar kaki. Dingin mencapai minus lima derajat. Brrrr!

image

image

image

image

Sayangnya, saya tidak sempat melihat beberapa kawah dan fauna liar di sini. Anggap saja sebagai ’hutang’ yang harus dibayar. Artinya saya harus kembali ke sini suatu hari nanti.

Di luar dugaan, Ramadhan ini meninggalkan jejak manis adanya. Terima kasih untuk kebersamaan singkat nan hangat, sahur fetuccini dalam satu panci mungil, buka puasa rebutan cocktail jelly, sampai pesta ubi madu bakar dini hari. Sambil tersenyum dengan bibir pecah-pecah, Iman dan saya berseloroh ”This trip was beyond expectation!

image

Jelajahi negeri dengan tawa!

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

27 Agustus 2012

Lokasi: Garut, Jawa Barat, Indonesia

Foto: BPI, Andyna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s