Sepotong Sastra

TUAH PEREMPUAN MALANG

Cerita Pendek Dari Pertiwi Seberang

Semesta pagi. Sudah tak serupa kini. Ada pejantan mendengkur di sebelah kiri. Ranjang pun harus berbagi. Uh rasanya sempit sekali. Tapi ya sudah mau bilang apa lagi. Kata orang tua sudah semestinya begini.

image

Perempuan. Lena, itu nama panggilan. Sulung dari keluarga Haji Sulaiman. Paras menawan. Konon melebihi rata-rata perempuan kebanyakan. Tubuh semampai kian menggetarkan. Pantas jika jadi idaman. Dari anak tetangga, sampai cicit kepala Kampung Parakan. Setiap saat kerap jadi omongan. Sering dipuji, namun tak jarang datang gunjingan. Tetap saja kumbang berdatangan tak menghiraukan. Oh, Lena, demikian TUAH sang pujaan.

Lena tak pernah mengerti atau setidaknya diajarkan untuk mengerti. Betapa kirana rasanya menjadi perempuan. Menghisap madu raga seutuhnya untuk dirinya sendiri. Ia justru terlalu banyak menerima warisan tentang abstraksi perempuan yang seharusnya ia miliki. Turun dari satu generasi ke generasi. Di tanah adat yang kental dicekoki topeng patriarki.

image

“Jadi perempuan harus pintar-pintar ngurus badan. Dari gadis sampai kau tumbuh uban… pssshh.. pssshh,” tegur Amak dengan logat khas Melayu. Matanya sejurus tajam seiring kunyahan sirihnya mengganjal.

“Harus, Mak?”

“Iya lah. Bagaimana pun caranya. Jaman sekarang ni sudah lah banyak pilihan. Kau tenggak itu jamu ramuanku tiap lepas Isya. Sudah pasti manjur benar.”

“Buat apa tah, Mak?”

“Buat apa?! Ya buat kau punya suami. Kau camkan pesan Amak,“ sambungnya sembari mendekat. “Lelaki pinginnya selalu begitu. Nah! Tak ada ceritanya kalau badan istri sudah tak sedap. Mereka bisa cari ganti sesuka hati. Sampai turun hujan batu manapun takkan rela kau, Nak. Perempuan macam kita tak dapat kuasa mengumpat, memaki, apalagi menyumpahi.”

“…Ha…???”

“Heh! Kau dengar ucapanku tadi, Lena?”

“I..ii….ii.. iyaa Mak,” ujar Lena bergidik.

image

Itu baru satu babak dari sekian panjang lakon keperempuanan yang harus ia pahami. Lena juga mesti menelan bulat-bulat beragam ajaran keterampilan domestik, yang katanya jadi senjata ampuh untuk menundukkan makhluk pejantan. Mulai dari memasak, menjahit, mencuci, mengurus bayi, mengatur keuangan dengan jeli, sampai memuaskan tiap inci kulit suami hingga peroleh klimaks dalam gelap di malam hari. Tidak boleh ada yang tidak bisa. Hukumnya wajib bagi perempuan di sana. Termasuk Lena. Lena menerima saja.

Ada lagi yang lebih menjijikan. Perempuan di ranah itu tidak perlu mendapat pendidikan. Orang bilang menyekolahkan perempuan hanya wujud pemborosan. Mereduksi jumlah kekayaan. Ilmu dalam otak perempuan hanya jadi kudapan. Manfaatnya tidak kelihatan. Belum lagi kalau besar diambil orang. Rugi bandar kantong jadi pas-pasan.

Jadilah Lena sebagai dara seperti yang orang-orang inginkan. Bukan Lena impikan. Dituntut matang sebelum saatnya datang. Diminta mengerti yang sebenarnya tidak ia pahami. Mendapat dorongan tapi tidak dalam hal yang dielukan.

Lena tumbuh. Lena meranum. Lena dicintai atau sekedar ingin ditiduri. Entahlah. Yang jelas sang wali begitu pasrah ketika putrinya dinikahi. Pilihan tepat atau tidak, siapa peduli. Yang penting laku sedari dini. Lena pun menjalani walau belum memahami.

image

“Bang, sudah tengah hari. Bangun lah, bang. Ayo.. lekas bangun..”

“Haah! Baru lelap Abang ini subuh tadi. Berat mata kurasa!!”

“Baaaaaang… Bangun lah! Harusnya Abang narik sejak subuh. Bisa dapat uang lebih. Banyak orang kampung perlu angkutan sejak pagi buta!”

“….hhmmm….rrrffff…..”, dengkuran mengeras.

“Pukimak!!! Banguuuunnnnn, bang!”

“Aaaaarrgggghhh! Istri dungu! Kau kan sudah buka warung dari pagi. Belum cukup? Kau ingin uang lebih hah?!”

“Laa illa hailla Allah… Aaammpuuuuuuuun, baaaaang!”

Lena menjerit tertahan karena dahsyatnya tendangan. Hatinya tentu jauh lebih sakit dibanding keras telapak kaki yang melayang.

“Kalau kau ingin uang lebih, jual sana kau punya badan! Kawanku banyak yang penasaran cicipi kau, Lena. Gampang kan? Dapat segera kau uang ekstra!”

Suami membalikkan badan. Kembali membuat dengkuran. Tiada secuil penyesalan. Hanya umpatan. Sungguh MALANG. Dasar suami sialan!

Lena  beranjak pergi tinggalkan ruang tanpa jawaban. Apalagi kepastian. Jauh dalam relungnya menggantung angan. Semoga ia tak diceraikan. Persetan jiwa mungil yang remuk redam karena dilecehkan. Yang penting nama baik keluarga dijamin aman. Tak malu memangku hinaan.

Andyna 

6 September 2012

Ilustrasi: Kersos Fisip UI, Ericalangsam, Roronoakatie, Hungeercluod

Untuk para perempuan negeri yang menjadi korban kepandiran KDRT berkedok budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s