Binar Bervakansi

DANAU KAKABAN: Surga Evolusi Yang Disewakan

“Kamu pernah dengar tentang Suku Bajo, Andyna? Pelaut nomaden asal Filipina yang sudah tersebar banyak di Indonesia. Katanya sih, dalam bahasa mereka, Kakaban itu artinya memeluk.”

Monolog tersebut dipersembahkan oleh Danny Ramadhan, karib saya dari komunitas NEGERI (KITA) SENDIRI. Beliaulah yang berbaik hati mengantarkan saya pada sebuah keganjilan suaka bernama Danau Kakaban. Cerita singkat tadi menjadi intro penggoda tepat lima menit sebelum perahu kami mencapai dermaga. Apa kehebatan danau air asin ini? Mengapa pula terminologi ‘memeluk’ dipilih untuk penamaan? Deret tanya saya pun menemukan pelita jawabnya seiring penjelajahan.

image

Membedah jantung Danau Kakaban membuka kembali partisi otak saya tentang pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) semasa sekolah. Khususnya teori evolusi. Kini saya membuktikan langsung bahwa kepulauan kita pun mengalami evolusi ganjil. Siapa sangka proses geologis selama jutaan tahun justru menjadi jebakan unik. Air laut terperangkap, terisolasi, terkurung oleh pelukan pulaunya sendiri. Saya tak habis pikir menatap bentang laguna megah yang isinya air asin, bukan air tawar. Janggal namun mengesankan!

image

image

Mengamini rasa penasaran berikutnya. Konon, danau ini juga menyimpan ekosistem purba. Dengan gesit saya segera mengenakan masker selam, berenang menghampiri biota laut paling endemik yang pernah saya jumpai seumur hidup. Stingless Jellyfish namanya.

Stingless Jellyfish merupakan jenis ubur-ubur yang sudah kehilangan perisai pertahanan diri utama, yaitu sengat. Ukurannya bervariasi dari yang paling raksasa, sampai bayi ubur-ubur mungil yang begitu menggelitik kulit. Tekstur mereka lembut, kenyal, dan sangat menyenangkan untuk diajak bermain. Semakin semangat saya mengayuh tubuh ke bagian tengah danau, maka semakin tak terhitung pula jumlahnya. Saya menari berjam-jam bersama mereka tanpa satupun racun penyengat. Alam Indonesia memang gila!

image

image

image

image

Danau Kakaban dipayungi kerapatan hutan bakau. Diselimuti semburat telaga hijau-kebiruan. Dianugerahi kejernihan sebenar-benarnya. Disempurnakan keheningan segala sudut yang seolah menghayati kecupan semilir angin sendalu. Tak heran jika UNESCO mencatatnya sebagai situs warisan dunia. Saya juga menyampaikan tabik hormat atas dukungan masyarakat Derawan yang gigih menjaga kelestarian objek wisatanya.

Oh, satu lagi Kawan, hanya ada dua negara di dunia yang memiliki danau air asin berspesies Stingless Jellyfish. Republik Palau dan Indonesia. Betapa saya jatuh cinta berkali-kali dengan negeri kita. Sebuah evolusi telah menjelma menjadi surga.

DOs: aquapack | underwater gear | berenang berjemur

DON’Ts: memakai fin (kaki katak) | mengoleskan sunblock ke tubuh | mengangkat atau memindahkan ubur-ubur dan biota lainnya ke luar dari air

Andyna

17 Desember 2013

Lokasi: Kakaban, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Indonesia

Foto: FORGET JAKARTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s