Binar Bervakansi

NEPAL: Pelesir Usil Negeri Seribu Kuil

“Hah? Liburan kok ke Nepal? Ngapain? Ada apa di sana?”

Hasil survei kecil-kecilan menyatakan 7 dari 10 orang terdekat melempar pertanyaan serupa. Nah biasanya jenis pertanyaan prematur begitu pasti saya tanggapi hanya dengan senyum dan melengos hahaha! Beruntung saya dipertemukan Auliya, Deasy, dan Zulfikra. Tiga rekan kerja yang langsung menjawab, “YUK!” dan seketika merencanakan segalanya. Oia jangan pernah berpikir menemukan itinerary apalagi rekomendasi di sini. Please! You can get those things easily in Lonely Planet. Ini hanya opini sebuah singgah di Negeri Seribu Kuil, dari yang menyebalkan sampai paling menyenangkan.

image

MENYEBALKAN 1: Transportasi

Ada relevansi antara tercatatnya Nepal sebagai negara miskin dan sistem transportasinya yang ternyata masih sangat brutal. Penerbangan kami sempat tertunda 3 hari gara-gara gangguan landasan pacu Tribuvan International Airport. Tiba di Kathmandu, dominasi bis tua berasap knalpot hitam hilir-mudik. Banyak simpang jalan besar tidak diatur lampu lalu-lintas. Belum lagi taksi ala kotak sabun. Keahlian bernegosiasi hukumnya wajib. Sebab semua pintu taksi harus dibuka dengan tawar-menawar Nepali Rupee. Waduh! Trans Jakarta dan Blue Bird menang telak deh.

image
Touch down!
image
Oplet edisi Kathmandu.
image
Yang bikin kapok hina-hina taksi Indonesia hahaha!

MENYEBALKAN 2: Keamanan

Pernah merasakan drama kehilangan bagasi plus uang saku hampir 300 dollar? Itulah yang dialami Auliya dan Deasy. A simple tip, do a light packing whenever you will visit this country. Hindari penggunaan bagasi apalagi bawa barang tidak penting lainnya, sebab nyaris semua tempat lemah sekuritas. Oh and about the money? A thief broke into our private room while we were sleeping. Holly! Molly!

image
No such thing as conveyor belt.
image
Nepali Rupees.

MENYENANGKAN 1: Alam

Rentetan drama tadi ternyata dibayar kontan oleh keunggulan buana. Nepal betul-betul layak menjadi markas besar bagi pendaki dunia. Gugusan Himalaya menjentik kenes dari kejauhan. Terbentang mencakar riak awan dengan lapisan putih es tebal. Andai kedua mata saya punya sistem capture otomatis, tiap berkedip sungguh sangat ingin saya abadikan. Semuanya.

image
Knock knock! | Who’s there? | It’s Will | Will who? | Will you go out and check out Annapurna with me?
image
Semacam ANTM! :p
image
Yang niat banget sebelum berangkat botakin rambut. Katanya biar kayak biksu.

Lansekap paling ulung bagi saya terdapat di wilayah Pokhara. Kota terbesar kedua Nepal dengan barikade alami berupa Danau Phewa. Kian menggairahkan sebab 3 dari 10 gunung tertinggi dunia berbaring ayu di sini, yaitu Dhaulagiri, Annapurna I, dan Manaslu. Utamanya, Pokhara menjadi basis awal sirkuit Annapurna. Karena waktu terbatas, kami hanya bisa menjajal jalur pendek (one day trekking) via Sarangkot. Sepanjang siang, suguhan ribu paralayang dan kepak elang bertebaran di angkasa. Serasa lagi shooting film The Bucket List bareng Morgan Freeman. Instant crush!

image
Mau balik lagi. Mau nyobain terbang di sini.
image
Stay with me.

MENYENANGKAN 2: Kultur dan Kearifan Lokal

Welcome to my most favorite part. Berinteraksi dengan lika-liku budaya baru selalu menggelitik. Posisi geografis Nepal di antara India dan China (Tibet) melahirkan turbulensi adat istimewa. Mulai dari seremonial para biksu, hingar-bingar Thamel, meditasi, nyanyian rakyat, kuliner penuh rempah, belajar bahasa Indo-Aryan, atau sekedar mengendus aroma dupa segar sembari menyeruput Masala Tea. Cukup tangkupkan kedua telapak tangan sambil berkata, “Namaste!”, maka sepaket kehangatan penduduk lokal akan terbuka lebar.

image
Nap time, anyone?
image
Wara-wiri sepanjang Thamel.
image
Boudhanath Stupa by the evening.
image
Rooftop breakfast.
image
After School
FUN FACT

Satu-satunya bendera di dunia yang tidak berbentuk persegi adalah bendera Nepal, 2 segitiga siku berarti 2 agama (Hindu-Buddha), serta simbol 2 puncak Himalaya.

image

Terus gimana? Kapok? Tentu tidak! Berpelesir ke destinasi populer memang menyenangkan. Tapi banting setir ke destinasi nyeleneh justru berlipat ganda lebih menantang. Kata Michener sih, “If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay home.”

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

14 April 2015

Foto: Andyna, Zulfikra

One thought on “NEPAL: Pelesir Usil Negeri Seribu Kuil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s