Layar Perak

Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015: Berpesta Dalam Sinema

Kalender meja kerja saya sekonyong-konyong sudah berganti bulan Desember. Terpikirlah untuk menghabiskan sisa jatah cuti tahunan. Sayang kan kalau tidak terpakai? Itu hak kita loh. Tapi anehnya, kok kali ini saya tidak mau sekedar traveling. Semacam sedang ingin belajar dan menggali energi baru. Kemudian tiba-tiba datanglah godaan lewat sebuah digital poster yang hinggap di linimasa Twitter.

image

Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015 (JAFF) merupakan pekan sinema berskala internasional yang ternyata sudah eksis selama 10 tahun di Jogja. Selama 6 hari berturut-turut, peserta digempur pemutaran film-film Asia terbaik, kuliah umum, diskusi forum komunitas, bahkan disadari atau tidak, menurut saya inilah arena pertukaran identitas individu, seni, budaya, dan pariwisata. JAFF bersimbiosis erat dengan Netpac (Network for the Promotion of Asian Cinema), sebuah organisasi film dan budaya dunia yang berbasis di Srilanka. Setelah melakukan riset singkat, saya tercengang. Ya ampun! Selama ini tiap akhir tahun kemana saja sih, Andyna?! Betapa bodohnya melewatkan perhelatan semenggairahkan ini. Puluhan negara, ratusan karya. Wadah jumpa bagi deretan filmmaker, pengamat, kritikus, akademisi, dan tentu saja penonton. Berbondong-bondong kumpul dan merayakan kenikmatan menimba ilmu bersama.

image
image

Katanya, segala sesuatu yang serba pertama kali itu selalu bikin menggebu-gebu. So does my debut movie-trip. Sengaja saya buka dengan film penyabet 7 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini; A Copy of My Mind. Idenya? Turbulensi politik tahi kucing. Bingkainya? Perspektif 2 rakyat jelata dimabuk asmara. Seperti diajak buka surat cinta Joko Anwar buat bangsa kita. Film ini siap beredar 11 Februari 2016. Tonton di bioskop ya. Jangan tunggu dibeli televisi atau gratisan via YouTube. Jangan bunuh karya segila ini.

image
image

Menu primadona selanjutnya terbukti selalu memiliki penonton setia dan ‘ganas’. Apalagi kalau bukan film pendek. Selain memamerkan tematikal menggigit, kategori ini kerap menghidangkan punchline yang membuat seisi teater bergemuruh tepuk tangan panjang. Saya mesti rela antri lebih awal jika tidak ingin kehabisan tiket. To be honest with you, nonton film-film pendek itu sungguh nagih. Tenan dhab!

image
image
image

Sementara ada pula kubu-kubu dari sudut pandang Asia dengan daya pikat begitu sengit. Sungguh saya tertegun menikmati komposisi pemilihan film-filmnya dari pagi hingga malam hari. Contoh, Jalal’s Story, mengedepankan sisi konservatif desa pedalaman Bangladesh lewat tradisi klenik, mitos-mitos sungai, bentang hijau sawah, sampai makan nasi pakai tangan. Betapa banyak sekali kesamaan sub-kultur mereka dengan Indonesia. Lain lagi misalkan, Midnight Diner, adaptasi komik dan sinetron Jepang yang sukses bikin saya cekikikan sampai credit title. Akar-akar budaya Jepang berhasil diolah begitu humoris. Oia, saat penukaran tiket online, uang saya dikembalikan oleh panitia loh. “Japan Foundition-nya bilang ini gratis, Mbak.”

image
image

My most favorite part was Public Lecture. Salah satu ciri khas JAFF sebagai ajang edukasi dan apresiasi sinema terhadap masyarakat dalam konteks luas. Kelas ini mengkritisi kenapa festival menjadi jalur distribusi alternatif bagi pecinta film? Kok bisa energi penonton festival terasa sedemikian hangat dan bergejolak daripada bioskop reguler? Apa saja sih institusi asing yang membuka peluang film-funding? Bagaimana naskah itu mesti ‘diperkosa’ bolak-balik sebelum akhirnya siap shooting? Dan sumpah saya baru tahu, ternyata banyak produser di belahan bumi lain yang tertarik ikut menaungi ide-ide beringas filmmaker Indonesia!

Kapan lagi belajar seluk-beluk film festival dengan dosen Nan Achnas, Christine Hakim, Kamila Andini, atau Produser Isabelle Glachant yang diimpor langsung dari Perancis? Gladfulness!

image
image

Wait, here comes the overjoyed moment for me on the fourth day. Terakhir kali saya gemetar setengah mati kenalan sama orang tahun 2013. Tepatnya Andrea Hirata di Belitung. Kenapa? Karena dialah sastrawan kesayangan saya. Tahun ini kejadian lagi gara-gara JAFF. Saya diperkenalkan pada Ismail Basbeth. Sutradara “Mencari Hilal” yang ampun-ampunan karyanya bikin saya jatuh hati. I have watched some of his shorts previously also, but never get the chance to meet him personally. Beliau sangat cerdas, hangat, dan membumi. What a day to remember.

image

Jogja memang tak pernah sungkan menuai cerita. Di sela-sela film, sesekali hujan bertandang, kami duduk memenuhi bangku taman, membakar rokok, menyantap angkringan, menyapa para sineas, meneruskan diskusi film dari utara timur barat selatan. Pokoknya kalau kata mas Basbeth, “Joss!!

image
image
image

Terakhir, lagi-lagi menurut saya, apa yang disuguhkan JAFF, jauh lebih ‘bajingan’ ketimbang Jakarta International Film Festival (JIFFEST), Festival Sinema Perancis, Europe on Screen (EoS), atau German Cinema. Baik dari segi variasi film, rangkaian program, kecakapan panitia, pemilihan venue, serta atmosfer Jogja yang begitu homie. Kota ini benar-benar paham bagaimana berpesta dalam sinema.

Andyna

9 Desember 2015

Foto: Andyna, Iman Kurniadi, Dokumentasi JAFF

Lokasi: Yogyakarta, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s