Di Belakang Panggung

GLOBAL TV: Tabik Terakhir

”Kenapa menurut kamu bioskop kita malas beli film Indonesia, Andyna?

In English please.”

(Mas Lukman, HRD)

“Kalau lo jadi tim MTV Indonesia tapi harus masukin ST12 ke rundown apa rasanya?”

(Mas Victor, Executive Producer)

image

Sedikit kutipan wawancara saya 5 tahun lalu, ketika memasuki orbit kehidupan bernama Global TV. Sebuah inkubator ide tempat saya tumbuh dan belajar. Menjadi bagian dari gurita bisnis MNC Media Group. Disinilah saya dibesarkan, dididik, ditempa, dan diberi kepercayaan. Mulai dari mengerjakan kuis berdurasi hanya 3 menit, sampai konser tahunan berdurasi 3 jam. Menggodok naskah singkat tangga lagu, sampai dokumenter panjang tentang pariwisata (yang kalau sampai salah riset bisa dikeplak sama klien). Mewawancarai Weezer, Jason Mraz, Jay Park, The Kooks, sampai Jessie J. Merasakan shooting di lokasi paling nyaman, sampai tebing air terjun yang berbahaya. Berinteraksi dengan nelayan rumput laut, sampai budayawan. Shortly, doing those things I really wanted to do. Super-radiant feeling.

image
image
image
image
image
image

Di luar konteks pekerjaan, Global TV juga menjelma sebagai muara bahagia di hati saya. Kantor anti senioritas. Kantor penjunjung tinggi toleransi dan kekeluargaan. Kantor dengan geliat aktivitas sampai pagi buta. Kantor dimana penghuninya bebas pakai sneakers warna-warni. Kantor yang berkeliaran bos-bos pakai kaos Metallica. Kantor yang setiap ada kiriman makanan apapun niscaya tuntas seketika. Kantor yang meja kerjanya dihiasi poster Gugun Blues Shelter hingga Nike Ardilla. Kantor yang punya tradisi Jumat Ceria. Kantor yang orang-orangnya ketagihan main poker, playstation, futsal, ping pong, gitaran, nobar pertandingan Persib, gosokin cincin batu akik, atau bahkan pelihara Ikan Cupang dalam botol whiskey.

image
image
image
image

Then the cosmic keeps on marching. I just realized everything I have is someday gonna be gone. Dipikir, ditimbang, direnungi berminggu-minggu. Saya membulatkan tekat untuk kembali terbang menghinggapi pohon lain. Menelaah sudut pandang lebih luas. Menantang angin lebih kencang. Kenapa? Karena denyut nadi manusia amat ringkas untuk tidak disempatkan bebas berkelana. Dan ku beri tahu Kawan, kadang puncak dari rasa menyayangi sesuatu adalah dengan merelakannya pergi.

image
image
image

Namun sepatah-patahnya hati, ternyata BELUM ADA yang mengalahkan sedihnya meninggalkan stasiun televisi ini. Karena itulah, izinkan saya berterima kasih dan meminta maaf sedalam-dalamnya jika banyak kekurangan, kepada (tercantum dan terkirim sebagai email terakhir untuk Global TV):

1.   Bapak David F. Audy, Ibu Angela Tanoesoedibjo, Bapak Hary Martono, beserta barisan Board of Directors lainnya.

2.   Kang Benny Bahow. Lokomotif pembawa Pasukan Produksi sekaligus seniman sinting penggembleng mental saya. I love you more than words, Captain B!

3.   Mas Bungky, Om Rudi, Opah Andri, Umik Ninuk, Mas Victor, Bunda Anissa, Pak Haji Dada, Mas Koko. Untuk kesempatan, bimbingan, dan amanah yang kalian hadiahkan pada saya.

4.   Jajaran Producer, Associate Producer, sampai Production Assistant yang rutin pergi pagi pulang pagi. Naruto dan koalisinya takkan paham bahwa suka-duka program IN HOUSE bersama kalian adalah sebuah KEHORMATAN.

5.   Tim Creative, yang didalamnya bertabur heterogensi jiwa dan kecerdasan. Tanpa konten, media massa hanyalah zombie berjalan, jadi jangan biarkan 1 orang pun mengerdilkan IDE dan MIMPI kalian.

6.   Kerabat Program Director, Floor Director, Production Support, Production Service, Post Production, Programming. Betapa saya akan sangat merindu kebersamaan dan energi luar biasa yang kalian ajarkan.

7.   Rekan-rekan Talent Relations, Corporate Secretary, Marketing & Communication, Promo, Sales & Marketing, General Creative Solution, Finance, IT, HRD, dan departemen/divisi lain yang barangkali suka saya teror.

image
image
image
image
image
image

Katanya, ilmu adalah jenis amalan nomor 3 di muka bumi yang tidak akan habis pahalanya meski ajal tiba. Maka dengan segala kerendahan hati, saya mohon pamit untuk menimba ilmu lainnya. Atas nama pribadi dan dinamika dunia penyiaran yang amat saya cintai. Terima kasih tiada berujung, Global TV.

Andyna
31 Januari 2016

“Life sometimes separates people so that they can realize how much they mean to each other.” -Paulo Coelho

One thought on “GLOBAL TV: Tabik Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s