Sepotong Sastra

Inteligensi Embun Pagi

Buka halaman pertama jam 8 malam. Selesai membaca halaman terakhir keesokannya jam 5 sore. You know you are reading an epic book when you pause and breathe too many times just to say, “F*CK!!”.

image

Seri pertama dan kedua yaitu Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001) dan Supernova: Akar (2002), saya temukan dan baca kala jam istirahat masa SMA. Yes I was that kind of geek, really. Perpustakaan sekolah yang zaman itu belum ada kecanggihan Free Wifi jauh lebih menarik ketimbang tebar pesona di depan tim basket seperti yang dilakukan murid perempuan kebanyakan. Seri ketiga berjudul Supernova: Petir (2004), dilahap saat kuliah. Dulu ada ruang baca asyik di sekitar Margonda Raya, Depok, bernama ZOE Library. Seri keempat, kelima, keenam, berturut-turut Supernova: Partikel (2012), Supernova: Gelombang (2014), dan pamungkasnya Supernova: Inteligensi Embun Pagi
(2016), saya nikmati ketika sudah berkarier. Jadi bisa dibilang, buku-buku ini ikut tumbuh dan membentuk frame of references saya.

Belum ada, saya ulangi, BELUM ADA penulis wanita Indonesia yang sanggup menuturkan narasi sains (bahkan metafisika) sebaik Dee Lestari. Perjalanan panjang 15 tahun, 6 serial, ditutup dengan sangat cemerlang. Beautiful goodbye.

★★★★★

Andyna

6 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s