Sepotong Sastra

THE ARCHITECTURE OF LOVE

Tidak sedikit orang skeptis yang bilang bahwa bermain linimasa Twitter itu ancaman bagi produktivitas kerja, cenderung buang-buang waktu. Padahal, ayolah ngaku, golongan skeptis tadi juga pasti pernah buka Twitter cuma buat berburu berita atau stalking. HA! Well, here is my thought, Indonesia itu salah satu negara dengan pengguna Twitter terbesar di dunia loh. Coba hitung berapa kali kita bikin gerakan sosial, diplomasi, survei, kampanye, bahkan sekedar berbagi pikiran positif yang terbukti menggerakkan massa lewat Twitter. Banyak banget. Kalau ada pengguna Twitter yang kualitas hidupnya jadi kedodoran, ya jangan salahkan sosial medianya dong. Balik ke mutu mental dan pribadi masing-masing. Kita yang kontrol kok. Contoh deh, saya menjadi pengguna Twitter sejak 2009. Apakah kualitas personal dan profesional saya berkurang? Sama sekali tidak. Malah saya bisa mendulang interaksi luar biasa didalamnya.

Buku yang baru selesai saya baca kali ini juga menjadi bukti nyata betapa bergunanya Twitter. The Architecture of Love adalah buku kedelapan dari penulis Ika Natassa, sekaligus buku pertama di dunia yang dibidani Poll Story via Twitter.

Pada pergantian tahun baru 2016, Twitter Indonesia dan Ika Natassa mulai menggulirkan cerita ini setiap 2 kali dalam seminggu. Unik? Sudah pasti. Kedua tokoh utama, Raia dan River, meniti konflik berlatar musim dingin di kota New York. Saya sih selalu geregetan menunggu kelanjutannya, “Duh River misterius banget sih?, “Kenapa Raia depresi amat jadi perempuan?”, “Tiba-tiba mau makan burger Shake Shack kayak mereka!”, dsb. Makin seru pula, karena kita sebagai pembaca bisa ikut menentukan kemana arah cerita berikutnya lewat Poll Story tadi.

Kini, Ika menambahkan beberapa bab untuk menggenapkan buku ini. Saya suka cara beliau membingkai sejarah, romansa, kuliner, psikologi traumatik, hingga travel tale dari isi kepala seorang arsitek. Sesekali kita juga disuguhkan halaman sketsa gedung-gedung pencakar langit yang digambar si Bapak Sungai (panggilan usil Raia untuk River). Kalau kamu penggemar prosa melankolis, then this is a page turner for you. Satu lagi, bagi yang sudah lebih dulu mengenal Antologi Rasa dan Critical Eleven, siap-siap ketemu Harris Risjad dan Aldebaran Risjad lagi. Oopsie!

★★★★✩

Andyna

13 Juni 2016

River, why did you let me follow you around? | Because you’re as lost as I am, Raia. And in a city this big, it hurts less when you’re not lost alone.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s