Tudung Seni

DOEA TANDA TJINTA: Keroncong Sebagai Persembahan Kehidupan

“Tolong selama pertunjukan berlangsung, ndak usah merekam video ya. Nanti yo ganggu penonton lainnya. Wis, selamat menunaikan ibadah budaya!”

Akhir sambutan Butet Kertaredjasa malam itu adalah pemantik riuh tepuk tangan. Tirai merah delima perlahan bergeser. Lagu khas Perancis La Vie en Rose versi keroncong menggema sebagai pembuka. Mengantar imaji saya dan ratusan hadirin yang duduk di bangku tribun Graha Bhakti Budaya terpental ke era Indonesia Tempo Doeloe. Melalui konsep pemanggungan opera keroncong dalam lakon Doea Tanda Tjinta.

image
image

Akulturasi. Doea Tanda Tjinta mengetengahkan gejolak masa perjuangan. Ketika bangsa Eropa datang berbondong-bondong dan tidak berhenti pada perkara penjajahan. Namun menyisakan domino effect yang melekat lewat kesenian, pergerakan pemuda, dan tentu saja konflik cinta (uhuk!).

image
image
image

Jujur, saya tertipu oleh desain poster Doea Tanda Tjinta. Sebuah arloji emas tua ditempatkan sebagai ikon utama. Wah, saya sempat berpikir naskahnya akan padat historis. Ternyata, ya ampun, selama 2,5 jam penonton dibuat mules ketawa. Rentetan guyonan berkelas dan segar meluncur nyaris tiap menit, tanpa slapstick murahan. Sentilan sejarah, politik, dan cinta, amat piawai dituturkan Agus Noor selaku penulis naskah. Digawangi pula oleh barisan dedengkot seni pertunjukan seperti Marwoto, Susilo Nugroho, hingga Cak Lontong. Menurut saya, mereka itu jenis pelawak yang belum ngomong saja mukanya sudah bikin nyengir.

image
image
image

Bicara ilustrasi musik? Serahkan pada Djaduk Ferianto. Beliau lah alasan nomor satu mengapa saya rela menembus rinai hujan ibukota demi nonton Doea Tanda Tjinta. Djaduk menjadikan keroncong sebagai ruh pementasan. Kalau diingat-ingat, keroncong sudah mengalami metamorfosa panjang. Pendamping petang, pemicu nostalgia, pengiring lantai dansa, sampai objek industri rekaman (Andjar Any, Gesang, Koes Plus, Didi Kempot, Waldjinah, Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black, hmmm siapa lagi ya?). Tapi malam itu, Djaduk mengemas keroncong menjadi jauh lebih bergairah. Ada irisan seriosa, jazz, swing, campur sari, bahkan beragam beat kekinian. Hebatnya, terasa tetap kental keroncong. Saya spontan ikut bergoyang ketika melihat Djaduk turun gunung dari singasana konduktornya alias NJOGET! Wuuuaaapik tenan, dhab!

image
image
image

Terakhir, mari mengapreasiasi Bakti Budaya Djarum Foundition selaku penyelenggara untuk kesekian kalinya. Bagi kalian yang hobi hina-hina industri rokok, mbok ya ngaca. Sejak 3 dekade silam sampai sekarang, nyatanya mereka loh yang konkret peduli dan aktif bikin pagelaran. Mikir!

Salam Budaya,

Andyna

31 Juli 2016

Lokasi: Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia

Foto: Yose Riandi, Satriya Mudha, Erwin Octavianto, Yudika Nababan, Pamikatsih Niken

One thought on “DOEA TANDA TJINTA: Keroncong Sebagai Persembahan Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s