Di Belakang Panggung

Cetak Biru

Suka tidak suka, kita tinggal di sebuah negara dengan latar high context culture. Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan tipe komunikasi yang gemar sekali berbasa-basi. “Eh sibuk apa sekarang? Tinggal dimana sih? Naik jabatan dong? Kok si anu belum hamil-hamil juga? Oh ini gaun bikin sendiri ya? Kamu datang sama siapa? Mau traveling kemana lagi?”, dan sejenisnya. Kuberi tahu, Kawan, 95% pertanyaan tersebut hanya berakhir di meja gosip, 3% sekedar memecah rasa kikuk, dan 2% yang benar-benar menanyakan keadaan kita.

let-me-grow

Ketika mengambil keputusan besar untuk meninggalkan Global TV tahun 2016 lalu, hanya ada 3 karib yang spontan tersenyum mendukung dan tidak memburu saya dengan pertanyaan “Kenapa?”. Inez Gummay, Fajar NF, dan Ikka Wuwiwa. Sementara yang lain komat-kamit menakut-nakuti saya dengan seribu satu probabilita resiko. Dan sore ini, dengan secangkir Es Jeruk Kietna serta bunyi ketak-ketik laptop, saya mengucap syukur. Betapa saya senang telah melompat keluar dari tempurung kenyamanan. Betapa banyak ilmu yang saya pelajari di tempat baru. Betapa pola hidup saya setahun belakangan membaik. Betapa saya punya kesempatan lebih banyak berkelana dan menulis. Betapa tidak secuil pun saya menyesal. Lalu apakah saya harus menangkis omongan kiri-kanan tadi? Ah, tentu tidak. Why do I have to find approval for what I have built? From those who didn’t even help me built. Ha!

kinda-happy

Cara Tuhan sayang sama makhluknya itu beda-beda. Dan saya percaya, TIDAK ADA CETAK BIRU (blueprint) hidup itu mesti A, B, atau Z. Some of us will make a lot of money, others won’t. Some will get married early (not to mention worldwide statistic said there are at least 40 cases of divorce per hour, yes per hour), others not even think about it and running for their higher education instead. Some will have 5 legitimate children, others will enjoy to have none. Some will find happiness living in a fancy mansion, others might be happy just hugging their best friends. Got my point?

Contoh lain. Almarhum kakak kandung saya, Alphanindra Venaria, tutup usia ketika baru menginjak 22 tahun. Apakah hidupnya sia-sia? Bagi saya, tidak. Saya ingat betapa ia sedang sangat bergairah menjalani masa kuliah, dan saya masih pakai seragam putih abu-abu. Oh ya, waktu itu, SMA Negeri 1 Serpong Tangerang adalah sekolah pilihan Alpha spesial untuk saya. “Biar lo nggak macet-macetan, Dek. Lagian kalau ke arah kota, bakal panas dan banyak tawuran. Ini sekolahnya adem. Enak buat belajar. Percaya sama gue,” begitu pesannya. Sebagai sulung, ia kerap mengalah dalam banyak hal. Termasuk perkara remeh memilih kamar tidur atau rebutan gitar. He would do anything as long as I’m happy. I think God had loved and given him a piece of genuine heart. Dan ketika ia pergi selamanya, saya serasa ditampar keras. Siapa lagi saudara sedarah yang menyayangi saya tulus tanpa syarat seperti itu? Hence, his life was irreplaceable to me.

get-rid-of-worries

unnamed-1

Jadi, kembali pada ketiadaan cetak biru dalam hidup manusia. Coba pikir lagi. Buat apa kerepotan menentukan satuan poin bagi apa yang dijalani orang lain? Let’s embrace what we have and stop telling people what they should have.

Selamat Tahun Baru.

Selamat berbahagia dengan CARA kita masing-masing.

andyna-signature-2017-black

2 Januari 2017

Ilustrasi: nonsense-warehouse

 

One thought on “Cetak Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s