Binar Bervakansi

Kete Kesu: Tradisi Berbuah Atraksi

“Death is the best invention of life. It is the reason for changes. It clears out the old, to make a way for the new.”
–Steve Jobs

Jauh sebelum Steve Jobs punya pandangan begitu, kultur kita sudah lebih dulu mengapresiasi momen kematian dengan pola pikir divergen. Khususnya bagi masyarakat Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. “Prinsip orang sini, hidup itu sebaik-baiknya untuk persiapan mati,” tegas Pak Arman, pria asli Tana Toraja sekaligus pemandu yang lihai sekali menjawab rentetan pertanyaan saya. Pada suatu siang, ia membuka wisata budaya dan sejarah kali ini lewat kawasan cagar budaya bernama Kete Kesu. Sebuah taman kubur batu dengan payung keunikan tradisi turun-temurun. Emang seru jalan-jalan kayak ziarah gitu? Jangan salah. Ini dia 5 nilai atraksi Kete Kesu kesukaan saya.

kete-kesu-3
Toraja Utara
kete-kesu-2
Line Up

1. Budaya Bicara

Begitu masuk ke pelataran Kete Kesu, berbarislah sejumlah rumah tradisional Tongkonan di sisi kiri. Dulu saya pikir ini asalnya dari bahasa induk Tana Toraja. Eh, ternyata yang benar justru datang jauh-jauh dari kaum pendatang Tionghoa. Secara gramatikal, Tongkonan diartikan sebagai duduk (tempat duduk). Sedangkan dalam pengertian luas, Tongkonan adalah upaya duduk bersama dan bermusyawarah. Menyelesaikan masalah adat apapun dengan keterbukaan komunikasi, alias budaya bicara.

Tongkonan memiliki peran penting dalam rangkaian pembuka selebrasi kematian. Tubuh jenazah terlebih dulu disimpan didalamnya. Diantar sajian makan 3x sehari layaknya manusia hidup. Dirawat sebaik mungkin sambil menunggu persiapan pihak keluarga yang ditinggalkan untuk wajib melakukan upacara adat berkali-kali hingga mencapai kesempurnaan. Dan setiap jengkal keputusan dalam upacara adat tersebut, harus dibuat lagi-lagi melalui musyawarah mufakat. You know how much they cost a penny for this type of funeral? Billions. I repeat. Billions!

kete-kesu-15
Tukik-Tukik
KETE KESU 16
Front Look
kete-kesu-4
A Door Man

2. Arsitektur Syarat Makna

“Hiburan orang sini apa ya, Pak?”, tanya saya tiba-tiba. Pak Arman lekas menunjuk bagian atas Lumbung, “Tuh, Sabung Ayam! Hahaha,” jawabnya sambil terkekeh. Sisi kanan Kete Kesu dipadati dengan deretan Lumbung, tempat masyarakat Tana Toraja biasa menyimpan beras serta hasil panen lainnya. Keempat pilar penopang sengaja dibuat selicin mungkin agar tidak bisa dipanjat tikus. Meski tiap sudut bangunan selalu ada makna filosofisnya, saya paling tertarik simbol ayam pada atap Lumbung ini. Mengingat hiburan tulen penduduknya ya memang Sabung Ayam. Tak jarang pula, kompetisi mengadu ayam ini masih dijadikan jalan tengah jika timbul sengketa antar warga.

kete-kesu-14
Lumbung
kete-kesu-9
Local Joy
kete-kesu-5
Eksterior Tongkonan

3. Something Spooky Excites Me

Berjalan ke arah belakang Kete Kesu, selamat menikmati sajian tebing peti kubur batu. It seemed silently spoooky, but yet, made me excited at the same time. Rumah-rumah peristirahatan terakhir para bangsawan Tana Toraja saling berdampingan. Tumpukan tulang-belulang tersebar menghiasi tepian anak tangga tebing. Pernah loh ada seorang peneliti dari Jerman yang iseng membawa pulang salah satu tengkorak di sini. Setelah itu, ia mengaku hidupnya tidak tenang. Tidak bisa tidur. Sering mimpi buruk. Akhirnya, ia pun menulis surat permohonan maaf kepada tetua adat dan mengirimkan tengkorak curian tersebut kembali ke Kete Kesu. So yes, Blog Walkers, when it comes to a place like this, never cross on your mind to take anything. I mean it. Anything.

kete-kesu-7
Till the death do us apart. Oh, wait! We’re not even apart now.
kete-kesu-12
Sleeping Pills Overdose
kete-kesu-8
Need a lighter, Captain?

4. UNESCO Heritage

Masih berhubungan dengan poin ketiga. Kete Kesu sudah ditetapkan dan terdaftar sebagai cagar budaya UNESCO. Siapapun yang berbuat lancang seperti peneliti Jerman tadi diancam hukuman penjara maksimal 10 tahun, denda maksimal Rp 2,5 milyar, serta sanksi adat berdasarkan kesepakatan tokoh-tokoh setempat. Meski begitu, hingga tulisan ini dibuat, pencurian benda-benda berharga di Kete Kesu masih sering terjadi. Konon 1 ornamen kecil saja dari taman kubur batu ini bisa laku ratusan juta dan diburu oleh kolektor museum dunia.

kete-kesu-10
Boneka Tau-Tau. Butuh eksplanasi tersendiri tentang elemen kultural yang satu ini. Nanti akan saya tulis terpisah saja ya.
kete-kesu-1
Anak Tangga Menuju Tebing Batu
kete-kesu-13
Tradisi Melahirkan Kemolekan Instalasi

5. Pembelajaran Hidup

Banyak generasi penerus Tana Toraja yang jauh-jauh merantau demi mengumpulkan uang yang banyak. Kenapa? Bukan untuk perkara kesenangan hidup. Melainkan justru agar ketika meninggal nanti tidak menyusahkan keturunan atau keluarganya. Sebab di sini, kematian dipandang sebagai perayaan yang bahkan sepatutnya lebih meriah daripada pernikahan. Jangan heran kalau ada yang meninggal, siap-siaplah berpapasan dengan ibu-ibu berkain warna cerah, berdandan cantik, bersanggul menawan. Lalu saat ditanya, ”Mau kemana, Induk?”, ia akan menjawab, “Ke pesta!”

Read more about travel stories Palembang: Bumi Sriwijaya

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

logo

andyna-signature-2017-black

14 Februari 2017

Lokasi: Cagar Budaya Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia

Foto: Andyna, Husein Yunior, Ajeng Putriarni Syarasyalma

19 thoughts on “Kete Kesu: Tradisi Berbuah Atraksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s