Sepotong Sastra · Tudung Seni

Goenawan Mohamad: Pertalian Sajak dan Suasana

Mendengar nama besar Goenawan Mohamad dalam hingar-bingar jurnalistik Indonesia tentu lekat rasanya. Ia berada pada gardu depan pengkritik keras rezim orde baru lewat kolom politik majalah berita Tempo. Mulai dari didirikan, dibredel, sampai diterbitkan lagi. Ia menjadi penggerak kesadaran perlindungan kekerasan terhadap dunia pers. Ia bahkan melanggengkan kebebasan berekspresi dan berpendapat di negeri ini dengan menjadi pengurus Komunitas Salihara. Serta yang tak henti saya kagumi sejak dulu, ia bertahan teguh menentang pemikiran monodimensional.

GOENAWAN MOHAMAD 20

Namun akhir pekan lalu, saya cukup terkejut mengetahui karya-karya beliau tak lagi hanya dituangkan dalam bentuk tulisan, melainkan juga dipamerkan melalui corat-coret sketsa. Sejurus pandang memasuki pintu depan Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, sebuah neon box putih menyala dengan label hitam bertuliskan Goenawan Mohamad. Kata, Gambar.

GOENAWAN MOHAMAD 19

GOENAWAN MOHAMAD 1

Sejak bertahun-tahun lalu, ternyata sastrawan kelahiran Batang, Jawa Tengah, ini suka menggambar sketsa dan tak pernah diperlihatkan pada orang lain. ”Saya mengikuti pedoman Pak Tino Sidin di acara televisi beberapa puluh tahun lalu; yang penting adalah gemar menggambar, bukan pintar menggambar. Dengan kata lain, tak perlu susah payah untuk hebat, asal senang, dan kalau salah gores, dimaafkan sebelum lebaran”, selorohnya.

GOENAWAN MOHAMAD 14

GOENAWAN MOHAMAD 15

Mas Goen, begitu ia akrab disapa, membagi eksibisi ini menjadi tiga partisi besar. Berseberangan dengan entrance wall, pertama saya menyimak bagian Gambar, Kata Yang Bisu di suatu pojokan. Kita diajak mencerna kumparan puisi sebagai penyempurna gambar. Namun terus terang, saya agak kesulitan mencerna dengan utuh beberapa puisi di ruangan ini. Sebab semua tulisan tangan Mas Goen ditampilkan dengan huruf sambung kecil yang tampak tipis sekali hingga sulit untuk dibaca.

GOENAWAN MOHAMAD 3

GOENAWAN MOHAMAD 11

goenawan-mohamad-18

Bagian kedua yaitu Yang Grotesk alias asal mula kemunculan wajah ganjil yang menakutkan. Jika dilihat dalam konteks budaya timur kita yang rentan dengan seribu satu takhayul, tentu tidaklah asing. Ia mewarnai beragam mitos, dongeng, bahkan percakapan sehari-hari. Tak percaya? Di tengah dinamika media massa secanggih sekarang ini, terbukti masih banyak radio anak muda yang menyiarkan program cerita mistis setiap malam Jumat. Jumlah pendengarnya? Jangan ditanya.

GOENAWAN MOHAMAD 13

“Beberapa jenis hantu diberi nama, muncul dalam teater dan seni rupa: para raksasa dan badut dalam Wayang Jawa dan Pasundan, Ogoh-Ogoh di Bali, Patung Asmat di Papua, Ondel-Ondel Betawi. Kemudian film-film horor dan erotik (Suster Ngesot Goyang Pinggul) yang ingin membuat bulu kuduk dan penis berdiri.” -GM

GOENAWAN MOHAMAD 12

Sedangkan yang terakhir adalah bagian kesukaan saya. Sebuah interpretasi Mas Goen yang ia tangkap dalam bentuk Wajah. Beberapa diantaranya seperti Slamet Rahardjo, W.S Rendra, Salvador Dali, Ana Akhmatova, sampai Fidel Castro. Nama-nama tersebut seakan terlahir kembali lewat wujud definisi baru yang lebih subjektif, tapi tetap bisa dipahami.

GOENAWAN MOHAMAD 8

GOENAWAN MOHAMAD 9

GOENAWAN MOHAMAD 7

Pameran yang dibuka langsung oleh Sri Mulyani ini masih bisa disambangi hingga 5 Maret 2017. Terbuka untuk publik umum tanpa dipungut biaya. Datang dan berkelilinglah perlahan. Resapi pertalian mesra antara goresan sajak dan suasana.

Read more about literature INFATUATE – Cerita Pendek

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

logo

andyna-signature-2017-black

27 Februari 2017

Lokasi: Dia.Lo.Gue Art Space, Jakarta, Indonesia

Foto: Andyna, YouTube Edward Suhadi

23 thoughts on “Goenawan Mohamad: Pertalian Sajak dan Suasana

  1. pecinta seni dan sastra, keren, mbak.
    Pernah menyukai hal yang sama, sekarang ,melahap buku sastra sudah tak pernah.Ganti buku resep haha
    Salam kenal

    Like

  2. Hahahaha…suster ngesot goyang pinggul? Hihihi…bisa ajah
    Sebisa priceza.co.id munculin harga apa saja yang kita cari

    Suka quote:: yang penting gemar menggambar, bukan pintar menggambar
    Sebab biasanya kalau udah pintar, akan malas dan kurang semangat lagi untuk menggambar. Lain dengan gemar menggambar, suasana hati seperti apapun…pasti tetap suka menggambar. Itulah ciri seniman sejati

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s