Tudung Seni

PRESIDEN KITA TERCINTA: Tafsir Politik Lewat Sinden dan Seriosa

“Revolusi! Revolusi! Revolusi harga mati!”

Sebaris pekik yang menggema dalam pementasan program Indonesia Kita ke-23 dengan lakon Presiden Kita Tercinta. Syukur sembah nuwun, malam budaya ini masih lahir dari kreativitas tiga sejoli Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto.

PRESIDEN KITA TERCINTA - 9

Bercermin. Agus Noor selaku penulis dan sutradara hendak menggedor mata dan hati penonton, bukan hanya untuk cekikikan jumpalitan, tapi juga berpikir kritis atas refleksi bangsa kita sendiri saat ini. Bagaimana khalayak riuh dibetot isu-isu tumpul yang mengatasnamakan agama (duh!). Bahwa menjadi pemimpin yang baik saja ternyata tidak cukup, malah justru banyak musuhnya.

PRESIDEN KITA TERCINTA - 18
Agus Noor
PRESIDEN KITA TERCINTA - 13
Sang Istri Presiden
PRESIDEN KITA TERCINTA - 2
“Koe wae tsing nembak. Aku ra wani. Istriku baru hamil! Konon katanya kalau bunuh orang waktu istri hamil, nanti muka anaknya mirip tsing ditembak.”
PRESIDEN KITA TERCINTA - 16
Jenderal dan Istrinya

Seperti sudah menjadi identitas panggung yang dinanti-nanti pada setiap pertunjukan Indonesia Kita. Cuap-cuap khas rakyat jelata terdengar sangat menggelitik. Mulai dari pemberitaan korupsi blanko e-KTP, gelombang hoax dalam cyberspace, hingga tingkah sensional sejumlah selebriti yang tak punya karya tapi selalu wara-wiri menghias layar kaca. Ahem!

PRESIDEN KITA TERCINTA - 17
“Nanti kalau saya sudah mati, fotonya kirim ke WA ya!”
PRESIDEN KITA TERCINTA - 3
When You Loose Someone You Cannot Replace

Lakon Presiden Kita Tercinta juga bereksperimen memadukan seriosa dan sinden dalam satu ilustrasi musik. Kombinasi vokal nan prima dari Sruti Respati, Daniel Christianto, dan Netta Kusumah Dewi mutlak menggetarkan auditorium Teater Jakarta malam itu. Sejalan dengan visi mulia mereka yaitu “Lintas Benua, Silang Budaya”.

PRESIDEN KITA TERCINTA - 7
Sruti Respati
PRESIDEN KITA TERCINTA - 14
Netta Kusumah Dewi

Penyulut inti guyonan masih dipegang kuat oleh duet jenaka Cak Lontong dan Akbar. Beberapa fragmen yang terasa terlalu panjang juga tertolong berkat kelihaian Marwoto, Joind Bayuwinanda, dan Trio GAM (Guyonan Ala Mataraman) dalam menyulut tawa. 

PRESIDEN KITA TERCINTA - 6
Cak Lontong dan Akbar
PRESIDEN KITA TERCINTA - 10
Under The Moonlight
PRESIDEN KITA TERCINTA - 5
Hadirin
PRESIDEN KITA TERCINTA - 11
Closing Curtain

Mas Butet selalu Direktur Kreatif di balik pementasan, sejatinya mengajak kita memurnikan pikiran bersama-sama. Pun untuk waspada, mungkin saja ada kehadiran ‘penumpang gelap’ yang menyelip naik tiba-tiba atas nama ‘memulihkan situasi negara’. Wis ndak mau kembali ke zaman itu kan ya?

Read More of Butet Kartaredjasa’s Work ➸ Doea Tanda Tjinta

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

logo

andyna-signature-2017-black

13 Maret 2017

Lokasi: Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Indonesia

Foto: Katrina Ardiyani, Pio Kharisma, Kayan Production

16 thoughts on “PRESIDEN KITA TERCINTA: Tafsir Politik Lewat Sinden dan Seriosa

  1. “…..kehadiran ‘penumpang gelap’ yang menyelip naik tiba-tiba atas nama ‘memulihkan situasi negara’. Wis ndak mau kembali ke zaman itu kan ya?”

    Gamauu banget balik ke zaman itu 😲

    Ah..menarik nih. Kapan2 mau nonton ah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s