Layar Perak

Bioskop Sebagai Ruang Respek

Apa sih motivasi kalian setiap memutuskan pergi ke bioskop? Pasti macam-macam kan? Ada yang ingin sekedar menunggu macet usai jam pulang kantor, rutinitas kala akhir pekan, cari referensi tugas kuliah, penyegaran isi kepala, penangkal patah hati, tuntutan pergaulan, atau bahkan tanpa segan-segan cuma buat numpang tidur. Sah-sah saja kok. Tapi ketahuilah juga, bahwa bagi sebagian orang, termasuk saya, nonton film di bioskop adalah sebuah pengalaman spiritual.

BIOSKOP 21

Pengalaman spiritual yang kerap saya cari dengan nonton film di bioskop artinya melibatkan silang rasa. Menit demi menit durasi, saya senang sekali menenggelamkan diri dalam aliran dialog, friksi antar peran, jahitan visual, latar lokasi, ilustrasi musik, tata kostum, product placement, bahkan sampai perkara credit title. Duh segitunya? Tentu saja! Well I don’t mind watching movies purely for pleasure tho, but beyond that, I love to find something new to distract my thought and feeling.

BIOSKOP - 6

BIOSKOP - 9

Sayangnya, alih-alih menikmati momen berharga dalam bioskop, pasti kalian malah sering kan merasa terganggu luar biasa? Memang sih sudah ada beberapa peringatan aturan yang muncul di layar sebelum film dimulai. Namun sampai hari ini, nyatanya tidak sedikit penonton yang buta etika selama pemutaran berlangsung. Atas nama Ya-Suka-Suka-Gue-Dong-Kan-Gue-Beli-Tiket-Sendiri, kemudian muncul tindak-tanduk bebal yang jelas-jelas merugikan orang lain. On top of that, mereka justru keki kalau ditegur baik-baik. Gusti Pangeran, ampunilah golongan bebal ini!

Bisa, karena terbiasa. Tidak sulit kok. Di bawah ini, saya akan utarakan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk lebih menghargai dan menghormati kepentingan umum di dalam bioskop.

1. Masuklah Tepat Waktu

Sadar tidak? Ketika lampu teater sudah dipadamkan, sesungguhnya itu sinyal halus bahwa toleransi keterlambatan penonton selesai. Memang sih tidak ada larangan untuk tetap masuk. Tapi siluet kepala dan tubuh yang mondar-mandir mencari nomor kursi di kegelapan itu menghalangi scene yang sudah berjalan, dan rasanya menyebalkan bukan main. Karena itu, masuklah tepat waktu sesaat setelah pintu teater dibuka.

BIOSKOP 18

2. Komentator

Waktu nonton Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, saya duduk bersebelahan dengan sepasang muda-mudi. Hingga 20 menit film berlangsung, mereka sibuk mengomentari nyaris setiap adegan dengan volume suara yang merusak konsentrasi. “Mas, Mbak, kalau mau terus-terusan diskusi mending keluar saja,” tegur saya tegas. Mereka langsung terdiam sampai film selesai. And they probably mocked me as a spaz in their head. Coba pikir lagi deh, situ kritikus sinema?

BIOSKOP 17

3. Texting is Rude

Layar gawai yang menyala dalam gelap secara otomatis membuyarkan titik pandang disekitarnya. Bukan hanya tidak menghargai penonton, perilaku dungu ini juga sangat tidak menghargai karya sineas yang sedang diputar. Bapak Presiden Joko Widodo saja nonton di bioskop tidak sambil otak-atik smartphone. Nah situ siapa? FBI? Come on, it is an obnoxious behaviour. So if you can’t stand to be away from your precious gadget for 1,5-3 hours, then stay out of movie theaters.

gettyimages-163296573-1

4. Oh Dear Parents

Tak jarang saya merasa iba melihat bayi dan balita yang ‘terpaksa’ dibawa ke dalam bioskop karena mengikuti agenda orang tuanya. Especially when it comes to huge, violent, loud, even action-packed blockbuster movies. Then after half hour they started to cry, not to mention screaming out loud. My question is simple, seriously. Are you guys completely idiot? If you cannot afford babysitter or have some family you can leave them with, wait for the DVD. Deal with the parenthood living you have chosen.

BIOSKOP 14

5. Merekam Dengan Apapun Itu Ilegal

Berhentilah merekam dan menyebarkan isi film dengan InstaStories, InstaLive, Facebook Live, Snapchat, atau media apapun. Kata siapa tingkah begini dibilang gaul? Norak malah iya. Did you know? 15 detik, 30 detik, 1 menit, atau berapapun singkatnya potongan film yang kalian bagikan sembarangan itu, adalah hasil kru film begadang, kehujanan, nahan lapar, digangguin setan, lupa mandi, bahkan ninggalin keluarga mereka berminggu-minggu.

Membuka ruang respek di dalam bioskop adalah upaya proses belajar bersama-sama. Not that I’m such an ethics maniac. But wouldn’t it be great if we all be able to feel comfortable and worth the penny we have spent? Yuk kita mulai hari ini!

Baca cerita Layar Perak lainnya  Galih & Ratna (Lucky Kuswandi, 2017)

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita dengan tema “Respek”.

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

7 April 2017

Foto, Gif, Video: Time, Cinemaxx Junior, Mumbai Gloss Movie Theater, Pinterest, thisisnotthatblog.com, Instagram Angga Sasongko

22 thoughts on “Bioskop Sebagai Ruang Respek

  1. Ih setuju sih ini semua poinnya. Bioskop mestinya jadi tempat publik yang nyaman buat dinikmati semua orang. Well written!

    Like

  2. gawat ngelilingin blog ini bisa scrolling lupa waktu. rapi mba. tulisannya juga enak dibaca.

    numpang share ya… salam kenal

    Like

  3. Setuju sama semua poinnya. Dulu pernah sekali ajak anak 1 tahun nonton The Lord of the Ring (obsesi ortu bgt ini..haha), untung anaknya ga ribut lalu malah tidur 😁. Pengalaman terakhir yang mengganggu banget waktu nonton “Bunga Penutup Abad.” Duduk di sebelah dua orang yg terus2an ngobrol. Akhirnya saya tegur deh 😒

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s