Binar Bervakansi

MALDIVES: The Misconception

Sampai saat buka laptop dan ngetik tulisan ini pun, saya masih cubit-cubit pipi sendiri. Bohong kalau saya bilang saya tidak pernah mimpi bisa menjejakkan kaki di Maldives. Truth is, I have tighten that dream probably since I was early 20s. Negara tropis maha mahsyur yang dikepung kumpulan atol ini memang telak membius para pecumbu segara dari berbagai belahan dunia. And now, I can say it out loud to myself and to you, Blog Walkers, careful what you wish for cause you just might get it!

Karena ada cukup banyak sisi cerita tentang perjalanan di sini, saya pun terpikir untuk membaginya ke beberapa judul. Hal menarik pertama adalah sejumlah kesalahpahaman orang yang saya dengar dan rasakan langsung tentang Maldives. Ini dia diantaranya.

IMG_5771

1. Affordable Flight

Dengan perencanaan waktu yang matang, sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan harga penerbangan yang relatif terjangkau. Serius! Saya membeli tiket pesawat bulan April 2017, untuk keberangkatan bulan Agustus 2017. Melalui rute PP Jakarta – Kuala Lumpur – Male, total harganya yaitu US$ 306 atau kurang dari Rp 4,100,000. Yes, it is even cheaper than Japan in their Cherry Blossom season.

2. Tidak Butuh Visa

Ini pertanyaan yang paling banyak masuk via DM Instagram saya. Berapakah Visa yang harus dibayar? Jawabannya, tidak ada. Maldives benar-benar memberikan VOA gratis untuk warga negara Indonesia. Setibanya di bandara, kita cukup mengisi Immigration Arrival Card secara manual. And voila! You’re ready to explore.

3. Punya Bahasa Sendiri

Salah besar kalau kalian pikir Maldivian (penduduk lokal) berbicara dalam bahasa yang sama dengan India, Srilanka, atau Bangladesh. Meski memiliki aksen yang terdengar serupa, tapi mereka punya bahasa ibu sendiri yang disebut Dhivehi.

IMG_5609

4. Dollar is Well Received

Tidak usah repot menukarkan mata uang Maldivian Rufiyaa (MVR). Sebab kita bisa dengan mudah bertransaksi memakai dollar. Termasuk kalau kalian doyan jajan es krim lokal di warung-warung kecil kayak saya hehe!

5. Sopan Santun

Poin ini saya tujukan khususnya untuk pria Maldivian yang ternyata berperilaku sangat sopan dan santun terhadap wanita. Maka keliru jika ada persepsi yang bilang bahwa mereka menakutkan. Even when we were all in swimsuit and stuff, no man is gonna cat-calling or wolf-whistling at you like any other tourism place. Respect!

6. High Risk Geography

Penampilan Maldives memang prestisius dan mempesona. Namun, sebagai negara dengan level dataran terendah dan paling rata di dunia, wilayah kepulauan ini sudah dinyatakan beresiko tinggi tenggelam dari permukaan bumi akibat dampak perubahan iklim. “Mungkin nggak ya 10 tahun lagi kita ke sini, but then we found nothing?”, tanya teman saya berkenyit pada suatu malam. And it got me paralyzed.

IMG_5687

7. Tanah Tropis Tapi Kurang Subur

Awalnya saya heran setiap kali mampir ke grocery store di sini. Sebagian besar produk makanan mereka merupakan hasil impor dari Turki, Malaysia, bahkan Indonesia. Tak disangka, kondisi tanah Maldives justru kurang subur. Hanya varian buah-buahan dan umbi-umbian yang kualitasnya baik.

8. Impressive International Service

Maldivian memiliki kesadaran pariwisata yang luar biasa tinggi. Mulai dari resepsionis, pemandu, boatman, resort chef, sampai penjual kue jalanan sekalipun. Semua memberikan kualitas pelayanan internasional mumpuni.

9. Langka Alkohol

Saya sudah membayangkan betapa nikmatnya menemukan cool box kapal berisi tumpukan bir dingin seperti di Flores atau Lombok. Apalagi usai aktivitas snorkeling. Eh, ternyata nihil loh! Alkohol dilarang keras beredar selain di area private resort. Bayangkan, Pina Colada mereka saja tetap 0% alkohol. Jedar! 😂💣🔫

10. Dampak Tsunami

The last but not least misconception about Maldives is when people thought that they easily survive after the great tsunami back in 2004. Well, in fact is, they’re definitely not. Hingga kini, tidak sedikit pulau kosong yang bangunan resort-nya habis disapu gelombang. Menyisakan dataran tak berpenghuni yang dijuluki The Ghost Island.

IMG_5772

Benar ya kata pujangga lama. Traveling is an endless university. You will never stop learning and figuring out. Minggu depan, saya lanjutkan cerita Maldives bagian lainnya ya. Semoga kalian suka. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel2017 Summer Camp Essentials

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

17 Agustus 2017

Lokasi: Maldives

Foto: Christy Stefany Sasauw, Ishan ‘See From The Sky’, Andyna

 

15 thoughts on “MALDIVES: The Misconception

  1. Waaauw dijadiin series nih Maldivesnya…. seru abiiiisss bacanya, berasa ikutan kesana padahal mah gigit guling dari kamar T_____T

    Like

  2. Subhanallah kak bening bener… Aku sempet denger Maldives katanya dominan muslim ya disana? Tapi gak nyangka kalo alkohol gak boleh krn mikirnya itu tempat wisatawan banyak dateng. Informatif! Selalu deh blogmu jempol!

    Like

  3. Sumpahnya ga nyampe 5 juta itu tiket pp??! I thought it’s gonna cost like shit 😱😱😱😱 Dyn demi apapun kasitau budgetnya, abis berapa, nuker dollar berapa, dll plisssssssssshhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s