Binar Bervakansi

Tanjung Puting: My Top 5 Highlight

Touch down, September! Kita sudah masuk bulan peralihan musim nih. Saya pun kembali iseng towel-towel Ibu Penyu. Kira-kira dia bakal main kemana ya? Lalu tersebutlah nama Taman Nasional Tanjung Puting di antara deretan destinasi mereka. Kawasan konservasi di tengah belantara Borneo ini ternyata sudah sangat mudah dan nyaman diakses loh. Wait! Memang apa serunya liburan ke tengah rimba tanpa sinyal 4G begitu? Nih, simak 5 alasan terbaik dari bingkai vakansi saya!

IMG_6987

IMG_6997

1. River Cruising

When was the last time you did something for the very first time? Well I just did. River Cruising smoothly on the deep, long, noiseless, crocodiles-invested water way of Kalimantan. Konsep trip ini sebenarnya mirip LOB (Living On Board). Klotok (kapal tradisional) bukan cuma jadi alat transportasi, tapi juga akomodasi, alias ya tidur, makan, bahkan mandi pun di situ. Terpikir bakal mati gaya, saya sampai bawa 2 buku dan obat penenang biar gampang ngantuk. But then I WAS WRONG! I did not touch them at all. Berlayar dengan Klotok ternyata rasanya sungguh wadidaaaw!

IMG_6980

IMG_6897

IMG_6964
Sepanjang jalur River Cruising, kita bakal sering banget dihampiri Bekantan, Kera, sampai Monyet liar di sisi kiri dan kanan.

2. Populasi Orang Utan Terbesar Dunia

Bagian menyenangkan berikutnya, tentu saja karena bisa ketemu langsung sama primata endemik yang tingkahnya super menggemaskan ini. Jadi, setiap pagi dan sore, kita singgah di beberapa camp bertepatan dengan jadwal feeding time. Saat itulah, mereka akan datang dengan lincah dari berbagai penjuru pohon. Terus rebutan pisang dan susu deh! Hihihi!

IMG_6988
He could eat at least 50 bananas in probably less than 5 minutes ya’ll. LOL!
IMG_6991
Rukun Tetangga.
IMG_6989
Kacong, alpha male pertama yang saya jumpai di Camp Tanjung Harapan.
IMG_6976
Tom (kanan), alpha male di Camp Tanggui.

Rasanya pengen banget saya pelukin Orang Utan di sana satu-satu. Tapi selain ranger dan peneliti, jarak aman bagi pengunjung yaitu minimal 5 meter dari Orang Utan. Makanya, ngaco banget kalau ada kebun binatang atau sirkus liar di luar sana yang memfasilitasi manusia buat gendong-gendong Orang Utan seenaknya. Ingat, jumlah mereka sudah nyaris punah. So it’s all nothing but animal abuse.

IMG_6977
Rawa, si kecil lincah di Camp Leakey.

IMG_6966

IMG_6986

3. Kok Bule Semua?

Serupa ketika saya berkunjung ke Taman Nasional Komodo, dimana 90% wisatawan justru datang dari Benua Eropa. Menurut cerita Pak Ponco Nugroho, pemandu kami selama di sana, ia sering sekali mendapat komentar dari para tamunya, “You, Indonesian people, are so lucky to have this kind of distinctive mother nature.” Bahkan tahun ini, jumlah turis asal Spanyol sedang meningkat pesat. “Nah mereka girang banget kalau saya fasih nyanyi lagu Despacito!”, sambung Pak Ponco terkekeh.

IMG_6978
Pak Ponco Nugroho hapal semua nama tanaman hutan dalam bahasa Latin. Jalan sama beliau kayak lagi jalan sama guru Biologi. Edyaaan!

4. Main Bareng Ibu Penyu

Banyak banget yang penasaran nanya, “Ndyn, asyik nggak sih main bareng Ibu Penyu?”. Dan tentu saja saya mengangguk dengan mata berbinar.Β Dari pemilihan pemandu, ranger, chef, sampai kru Klotok, semua kualitas yahud. They all became bubbly travelmates and storytellers at the same time.

IMG_6973
Ini dia kru yang selalu nanya, “Senang tak, Mbak Andyna?”

Soal makanan? Tidak usah ragu selera Ibu Penyu. Pagi hari, kami dibangunkan aroma setangkup roti bakar dan telur setengah matang. Tiap habis trekking, ada pisang goreng hangat atau mangga segar (yang baru keluar dari kulkas). Makan siang dan malam? Giliran aneka hidangan laut, sampai bebuahan segar dicocol sambal ebi siap disantap. Happy tummy is a guarantee.

IMG_6971

IMG_6975

5. Night Safari

Jelang petang, petualangan belum usai. Siapkan jaket, headlamp, dan mosquito repellent karena kita akan berjalan membelah kegelapan hutan untuk berburuΒ  Tarantula, Semut Rangrang, sampai Kelelawar.

IMG_6990

Right after night safari, a clean shower’s waiting. Yap! Jangan takut tidak bisa mandi. Setelah itu, area tengah Klotok ‘disulap’ jadi tempat tidur. Komplit dengan kasur empuk, bantal besar, selimut, dan kelambu. Tidur sepanjang malam ditemani kicau Burung Murai dan ratusan pendar Kunang-kunang. Kalian mesti coba!

IMG_6970
I-Woke-Up-Like this in my life will never be the same anymore.

Gimana? Tertarik liburan ke Tanjung Puting? Bulan Juli hingga September adalah musim kunjungan terbaik ke sini. Cuaca cerah, jalur trekking tidak becek. Volume air sungai pun normal, sehingga tanaman Bakung tidak menggenang menutupi akses Klotok. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

More travel stories from Kalimantan ➸ Danau Kakaban – Derawan

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

10 September 2017

Lokasi: Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Indonesia

Foto: Andyna, Atika Deviansi Wiguna, Ponco Nugroho

15 thoughts on “Tanjung Puting: My Top 5 Highlight

  1. Ibu penyu paketnya lebih mahal dari yg lain gak sih? Pengen nyobain gabung trip sama dia dari dulu tapi gak jadi2x. Baca postingan ini eh mupeng lagi. Kayaknya santai dan nyaman tripnya…

    Like

  2. destinasi kayak gini malah kalah populer sama gili atau bali yang begitu-begitu aja. gak heran isinya turis asing semua. mereka lebih appreciate keanekaragaman hayati kita bahkan di titik pelosok sekalipun. jalan terus, cerita terus ya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s