Layar Perak

Dilan 1990 (Fajar Bustomi, 2018)

Dilan 1990 - iamandyna 4

Couple weeks ago, as soon as I posted quick review in my Instagram Stories about this movie, I got the most viewed ever. Like ever, you guys. Dari sini saja, terbaca sekali ada antusiasme luar biasa dari kalian. Seperti yang sudah-sudah, saya akan berusaha jujur dalam setiap komentar. Kalau ada yang tidak suka, silakan loh. Kita tidak selalu harus sepakat dalam segala hal, bukan?

Satu hal yang pasti, saya tidak mau bersusah payah mencari kesamaan antara buku dan film adaptasi. Saya selalu bilang kan, itu perilaku DUNGU. Ruang imajinya saja jelas berbeda. Jadi, kalau banyak yang heboh ngomongin “Ini nih ekspektasi gue!”. Well, I would say, situ ketahuan nonton film Indonesia cuma hitungan jari dalam setahun.

Dilan 1990 - iamandyna 1

Film ini diselamatkan oleh dua pilar. Pertama, Pidi Baiq. Saya ulangi, Pidi Baiq. Bukan Fajar Bustomi selaku sutradara. Tiap detail diksi dalam dialog adalah signature Pidi Baiq yang ia pertahankan sebagai penulis novel aslinya. He made us fall over again to this whimsical-flirt-asshole; Dilan.

Tanpa ke-keras-kepala-an Pidi Baiq, mungkin nasib film ini akan sama seperti Critical Eleven. Lempem. Bikin nguap setengah durasi. Wait, hold on! Don’t get me wrong. I’m not hating Critical Eleven. Tapi terasa sekali ketika penulis mengendorkan watak-watak utamanya selama Produser bilang, “Ah sudahlah, yang penting kan penonton Indonesia gampang ngerti, gampang dibuat nangis”. Gigimu silau!

Dilan 1990 - iamandyna 3

Selain penulisan, imho, tidak ada yang istimewa dari besutan Fajar Bustomi. Sama seperti film-film dia sebelumnya. Winter in Tokyo, From Lonton to Bali, Remember When, Surat Kecil Untuk Tuhan, dll. You name it, I have watched it all. Somebody need to slap him, really. Hard. Ada yang doyan sama Cireng Cipaganti dekat Radio Ardan Bandung kayak saya? Yang pas digigit bakal lumer bumbu kacang pedas itu loh. Nah, Pidi Baiq ibarat bumbu kacang pedasnya. Tanpa itu, Fajar Bustomi hanya Cireng biasa.

Dilan 1990 - iamandyna 6

Pilar kedua yang menyelamatkan film ini, Fresh Ensamble Cast. Mungkin, saya adalah satu dari ribuan orang yang sempat underestimate dengan pemilihan Iqbaal Ramadhan. But OMFG, he nailed the interpretation of Panglima Tempur Geng Motor. Dan oh, terima kasih Vanesha Prescilla, sudah menjadi oase di tengah lipatan muka Tatyana, Chelsea, Prilly, Amanda… who?

Dilan 1990 - iamandyna 10
Perhatikan bendera Amerika terbalik di kanan jaket Dilan. Hal kecil, namun justru menguatkan arah penokohan. They injected statement into details. Suka banget!
Dilan 1990 - iamandyna 8
She was born to be Milea. End of story.

Lepas dari karakter. Mari bicara perspektif industrinya, harus diakui nama besar Iqbaal adalah sebuah janji box office. Mungkin buat kita aneh, tapi buat remaja-remaja di Pasuruan, Singkawang, Pare Pare, Sibolga, Wates, dan pelosok lainnya, he is truly an endearing figure. Ada magnet untuk kembali berbondong-bondong ke bioskop dan beli tiket film Indonesia di awal tahun 2018. Belum paham juga? Wis, jalan-jalan sana kenali negerimu sendiri. Coba sekali-kali rasain bioskop daerah.

Dalam 30 hari periode pemutaran publik. Film Dilan 1990 terbukti sudah mengantongi lebih dari 6,000,000 tiket penonton. Datang, tonton, apresiasi. It wasn’t something special. But it might leaves you smiling ear-to-ear right after credit title. Leaves you the butterflies in your stomach each time Dilan and Milea speaking over the 90’s payphone. Leaves you vaguely remembering your first love back in high school.

Read more Dilan & Milea: The Book

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

24 Februari 2018

Foto, Video: Falcon Pictures, Hai Magazine, Vanesha Prescilla

8 thoughts on “Dilan 1990 (Fajar Bustomi, 2018)

  1. Gue udah baca buku 33nya… dibikin mewek dooonk Ampun!
    Itu gak bisa apa dibikin hepi ending semua haahaaaa…

    Sundaaaal!!! Dari baca2x IG Story lo gue langsung penasaran nungguin filmnya. Mana gak masuk Malaysia pula, mesti nunggu sampe kapan ini?? T___T

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s