Binar Bervakansi

TRAVEL 101: Disiplin Diri Saat Traveling

Hello there, Blog Walkers! How’s your weekend so far? Semoga sudah cukup memulihkan jiwa raga ya. Minggu ini ada tantangan tema dari #1Minggu1Cerita soal disiplin diri. Wah berat ya? Bahkan sampai sekarang pun, saya masih dalam proses pembelajaran menuju titik itu. Tak terkecuali dalam hal traveling. Ternyata, banyak loh travel habit yang bisa sangat relevan dengan kedisiplinan. Beberapa diantaranya ada di bawah ini!

FullSizeRender(12)

1. Terbiasa Membaca Peta

Saya suka sekali salah satu pesan seorang Tibetan Buddhist, Dalai Lama. Ia menyebutkan bahwa sekali dalam setahun,  pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Maka sungguh disayangkan kalau hari gini masih ada yang mengeluh takut nyasar. Living in a cyberspace era has changing the way we travel into simplicity. Termasuk memacu diri untuk terbiasa membaca peta. Kini sudah banyak aplikasi peta yang bahkan bisa kita simpan dalam menu offline, sehingga tanpa jaringan internet pun, peta tetap dapat diakses.

53a79b1180e1aaee94cf8849df5eaa2d

2. Jangan Tergantung Sama Orang Lain

Kalau sedang dalam perjalanan sama teman atau keluarga, kita punya kecenderungan buruk untuk jadi ignorant. Ngaku deh? Ya kan? Untuk sekedar menghapalkan posisi hotel atau bawa uang saku cadangan pun malasnya minta ampun. Masalahnya, gimana kalau tiba-tiba kita lepas dari rombongan? Atau yang lebih amsyong, ketinggalan pesawat kayak Macaulay Culkin di film Home Alone?

eb0f91d62a939618cdd179d46a85171c

3. Lebih Hati-Hati

Berapa kali saya sudah kecopetan gara-gara ceroboh pas lagi ngetrip? Tak terhingga! Percayalah, saya sama sekali tidak bangga. Hahaha! 😂😂😂 Until today that is, I am still trying so hard to be more careful with my belongings. Mulai dari memilih tote bag yang ada ritsleting, tidak asal meletakkan dompet di meja makan, sampai menyimpan kembali kamera ke tas saat naik-turun kendaraan umum.

64b4f3cfa58977083a96edf9247c9844

4. Beradaptasilah

Contoh paling gampang nih. Soal makanan. Pernah dong jalan sama orang yang, kapan pun, dimana pun, pasti pesan makannya nasi goreng atau pasta? Eternal template alias begitu melulu. Alasan klasiknya, play save, takut kalau menu lain tidak sesuai selera.

Coba pikir lagi deh. Bukankah berpergian justru momen yang baik untuk belajar beradaptasi? Alangkah sayang kalau pilihan lain tidak dicoba. Bagi saya sih, disiplin membuka diri lewat perbedaan sensasi kuliner tiap daerah itu meluaskan laci pikiran. Kenapa? Kalau kata film Tabula Rasa, karena tiap makanan adalah itikad baik untuk bertemu.

ffe115df0ebc2f2cb9fe2edf31a209c8

5. Waktu Tidur

Seringnya nih, anak gunung yang punya celotehan, “Tidur mah di rumah cuy. Masa di sini?”. Well, mari bicara secara logika. Kondisi fisik tiap orang kan beda-beda, karena itulah kebutuhan porsi istirahat kita pun tidak sama. Saya pribadi termasuk orang yang bakal cranky seharian kalau kurang tidur. Jadi buat apa memaksakan diri begadang? Doesn’t mean I would skip midnight madness tho. It’s just that after a glass of wine or two, I prefer to hit the bed on time. Jadi keesokan pagi, baterai tubuh sudah kembali penuh deh.

234468ec50a8ca954833c1dd566b7dfe

Gimana? Tidak susah kan mendisiplinkan diri tiap jalan-jalan? Ayo mulai pelan-pelan supaya petualanganmu jauh lebih menyenangkan. Kalian punya travel habit lainnya yang juga berhubungan dengan disiplin diri? Yuk selipin di kolom komen. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Also watch my travel vlog ➸ Rammang-Rammang Maros Sulawesi Selatan

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

6 Agustus 2017

Foto: Yan Bachtiar, Pinterest Bihance, Chance Eastham

Ilustrasi: Nicole Larnie

Binar Bervakansi

Dlingo dan Koleksi Komorebi

Siang itu, tepat hari Minggu. Baskara di bawah tataran langit kembali berdiri tegak tanpa ragu. Sinar kuningnya terasa hangat, namun tak menyengat. Sebuah scooter matic putih sewaan sudah menunggu di parkiran. Aplikasi Google Maps dan streaming radio Swaragama FM diaktifkan dengan bantuan earphone. Ah, Kawan, saya sedang rindu motoran sendirian di Jogja.

FullSizeRender(9)

Setelah berkendara selama kurang lebih 1 jam, saya mendekati perbatasan Dlingo. Sebuah kecamatan paling timur dalam wilayah administrasi Kabupaten Bantul. Semakin ke dalam, gas motor semakin asyik saya tancap tanpa hambatan. Apalagi dengan keteduhan hutan padat kiri dan kanan.

FullSizeRender(7)

FullSizeRender(8)

Popularitas Dlingo memang semakin meroket 1 tahun terakhir. Salah satunya adalah Bukit Panguk yang saya singgahi ini.  Lokasinya berada dalam lingkar agrowisata berupa perkebunan buah. Hijau lekat sejauh mata memandang dari ketinggian. Jika sedang beruntung, kerapatan pohon seperti ini menghasilkan efek alam yang disebut sebagai Komorebi; istilah orang Jepang untuk menggambarkan sinar matahari yang menembus dedaunan. If I may suggest, better visit this place during sunrise moment. Karena menurut para penjaga di sana, kala itulah Dlingo akan menampilkan banyak koleksi Komorebi-nya.

beautiful-words-komorebi

FullSizeRender(5)

Selain Bukit Panguk, Dlingo masih punya deretan titik wisata serupa seperti Bukit Mojo, Tebing Watu Mabur, Tebing Menawa, hingga Puncak Becici yang sudah dikunjungi oleh Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama dan keluarganya Juni 2017 lalu. Nah giliran kalian kapan ke Dlingo? Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more mini travel stories ➸ Kopi & Toraja Utara

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

30 Juli 2017

Lokasi: Bukit Panguk, Dusun Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Foto: Andyna, Etsystatic

Di Belakang Panggung

Reblog: Sampai Nanti Andyna Sseori

◄ Beautifully written by Fara Gandi ►
◄ Sseori is an animation character in YouTube I’ve played in 2016 ►

Pada bulan kedua tahun lalu, sebuah nama diperkenalkan padaku.

fara gandi

Andyna.

Ia kerap memulai hari dengan secangkir kopi dan sepotong roti. Penampilannya mencolok dengan sentuhan warna-warna berani, khasnya pecinta seni. Terlihat seperti sosok yang keras hati, namun lambat laun, pribadinya membuatku jatuh hati.

Ia inspiratif, kreatif, dan imaginatif. Pintar, berpengalaman, dan tahu apa yang diinginkan. Meski kadang tertatih, ia selalu gigih dan semangatnya berapi-api. Intuisi dan kata hati menuntunnya menghidupi mimpi.

Bagiku, ia adalah tempat berbagi. Seorang pendengar ideal serta penasehat yang tepat dan akurat. Penyimpan rahasia yang setia. Pendidik yang cerdik. Pendukung dan pelindung ulung. Penyedia rasa aman dan nyaman. Seorang pecinta sejati, dimana romantisme disalurkannya melalui perlakuan atau dibekukan dalam tulisan.

Usai jam kerja, pada sebuah toko kue, di hadapan segelas latte. Disanalah berulang kali kami bertatap diantara asap, terkoneksi tanpa saling menghakimi, kemudian berdiskusi. Tentang segala hal, remeh-temeh problema kehidupan, pengalaman menyakitkan, hiburan atau kesenian, mimpi-mimpi masa depan dan yang paling kusuka, ketika agama dan cinta menjadi bahasan. Benar-benar mengasyikkan.

Dengannya, apapun selalu menarik diperbincangkan. Bukan karena topiknya, namun karena sosoknya. Sudut pandangnya dan pola pikirnya, terlalu unik membuat siapapun terpacu untuk mengulik. Sungguh, jika aku adalah lelaki, maka ia pasti kunikahi. Yang sepertinya amat sulit dicari!

954435WALLPAPER_4

Andyna.

Dibalik jiwanya yang perkasa, tutur kata yang tegas, sorot mata yang lugas, sosoknya yang kuat, serta tawa yang renyah dan keras. Aku tahu pasti ia banyak terluka. Tapi mungkin, sakitnya tak lagi terasa, karena sudah biasa. Atau ia telah lama berkawan dengan luka sehingga paham celah temukan suka cita.

Itulah mengapa, jika didekatnya, hanya senang yang terasa. Bahkan di dalam keluh-kesah pun, kami selalu sempat tertawa.

Sungguh, aku tak pernah khawatir tentang tetek-bengek kebahagiaannya. Karena, ia telah miliki sendiri caranya.

tumblr_ofki3xLdcQ1tg2ipio1_1280

Andyna.

Satu hal yang selalu kunikmati, kebersamaan dengannya kala berbagi. Perjumpaan dengannya patut disyukuri.

“Badz, sini ada cemilan!”

“Badz, kita kesini yuk, kamu pasti suka.”

“Gue tahu nih, yang begini-gini Badz demen.”

“Kalau tua nanti, pengen punya rumah deket Badz ah. Kayaknya seru.”

“Kalau aku mati nanti, tolong ya Badz abunya disebar di lautan Mediterania.”

“Iya jadi rumah Badz yang hook itu.”

Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai. Terima kasih atas keriaan penyegar hati. Terima kasih atas pelajaran yang dibagi. Terima kasih sudah jadi bagian dari hari-hari. Sampai nanti, sampai berjumpa lagi ya, Andyna Sseori.

Remember: Pray hardest when it’s hardest to pray!  You deserve the best! I wish u gonna have a great new life. May Allah bless you, always!

FullSizeRender(3)

Ah, dan satu lagi, Andyna. Jika nanti, kau temukan lagi kilauan bintang di puncak semesta, atau padang bunga yang cantiknya luar biasa, atau mungkin, hamparan laut berlembayung senja. Tolong sampaikan saja pada mereka. Terima kasih sudah buat Andynaku bahagia.

Oh Moc – moooc,

Fara Gandi

Foto: Fara Gandi, Abby Subarkah

Ilustrasi: iWearUp, non-sense warehouse

Binar Bervakansi

VIETNAM: My Top 5 Highlight

Bagaimana jika 3 Aquarius dan 1 Taurus ngumpul dalam satu trip? Jawabnya, serba suka-suka! Hahaha! So just about last weekend, we delightfully spent 3 days sharp in the heat (and quickie rain) of Vietnam Rose. Negara dengan lekuk geografis membentuk huruf “S” ini sangat saya rekomendasikan dan patut masuk dalam destinasi liburan kalian. Kenapa begitu? Ini dia 5 alasan terbaik versi saya!

IMG_4021

img_3716-1

1. Intensely Cheap

Dalam waktu relatif terbatas, ada 2 kota yang jadi sasaran, yaitu Ho Chi Minh City dan Mui Ne. Selama berkeliling di sana, total sharing cost kami ternyata tidak sampai US$ 75 per orang (sekitar 1,700,000 Vietnamese Dong atau Rp 1,000,000). Meski ramai dipenuhi kawasan turistik, tapi semua harga akomodasi, transportasi, makanan, jajan, bahkan suvenir, dominan murah tak tercela.

IMG_4024
Saigon Hotel 237 di Ho Chi Minh City. Kamarnya selebar-lebar dosa, 3 superior bed, AC, LED TV, hot shower, Wi-Fi, window park view. Cuma Rp 90,000,- per orang per malam.
 

img_3883
Paket One Day Trip di Mui Ne hanya Rp 112,500,- per orang. Including jeep rental, driver, and gasoline. We went to 3 differents spots after lunch till sunset.

2. Top Notch Home Cooking

Dari restoran yang namanya ada di Trip Advisor, sampai rumah makan tradisional bersahaja pun, semua menu yang kami lahap tidak ada yang gagal. Vietnam punya daftar panjang cita rasa khas tradisional yang, saya jamin, bikin kalian tepuk tangan dan tepuk perut. Nyooos!

img_3959
Signature Pho

img_3568
Roasted Pork

img_3986
Vietnamese Ice Coffee with condensed milk is a pleasure guarantee!
3. Fairy Stream

Rasakan sensasi berjalan dengan kaki telanjang menyusuri aliran sungai dangkal. Tengok ke kiri, formasi tebing pasir berbanjar tegap, eksentrik seperti diukir manual satu demi satu. Tengok ke kanan, giliran rumpun hutan bambu menghimpit rapat. Seperti lorong surealis!

img_3893

img_3890

img_3898

img_3902

img_3705

4. White Sand Dunes

Berjarak tempuh sekitar 40 menit dari pusat kota Mui Ne. Jujur saya tidak berharap banyak saat mengintip informasi dari Google. “Ah halu nih! Masa ada modelan begini di Vietnam?!”, pikir saya. Then I was 100% wrong. This huge radiant desert got me so hypnotized for real. I repeat, for real.

IMG_3873

img_3915

Bentang area White Sand Dunes sangat luas. Berdampingan dengan danau biru mungil. Tekstur pasirnya lembut memeluk jemari kaki. All you can mostly hear is nothing but the breeze running speed of sound. Dramatic!

img_3870

img_3990

5. Perfect for Lazy Travelers

Kalau kalian sedang ingin malas-malasan, impulsif dan serba suka-suka seperti kami, maka Vietnam adalah pilihan sempurna. Di Ho Chi Minh City, dalam satu persimpangan saja, ada beragam tempat atraktif bisa dengan mudah dicapai. Baik jalan kaki melintasi taman kota, atau diantar-jemput Uber. Tidak butuh itinerary rumit, apalagi travel agent.

IMG_3854
Ben Thanh Market

img_3912
Street Food Market

Sepanjang tahun 2017, Vietnam justru menjadi trip dengan stok foto paling sedikit di kamera saya. Mungkin akibat terlalu asyik cekikikan, memamah biak, memperhatikan sekitar, dan ah, tidur siang! Hahaha! Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Baca petualangan lainnya ➸ Bangka: My Top 5 Highlight

Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

19 Juli 2017

Lokasi: Ho Chi Minh City – Mui Ne, Vietnam

Foto: Andyna, Yan Bachtiar

Binar Bervakansi

2017 Summer Camp Essentials

Hey, Lemonades! Libur panjang Idul Fitri tahun ini akhirnya selesai. Semoga banyak momen berkualitas yang sudah kalian nikmati bersama para kesayangan. Kalau pun belum, tidak usah khawatir. Periode bulan Juli hingga Agustus ini justru waktu yang baik untuk menjalankan trip musim panas. Sebab tentunya, cuaca cenderung semakin hangat dan cerah.

FullSizeRender

FullSizeRender

Kebetulan nih, saya baru saja pulang berkemah alias camping bareng teman-teman Share Traveller. Bentuk alternatif rekreasi di alam terbuka yang sudah populer sejak abad 20 ini memang semakin digemari. Apalagi kini sudah cukup banyak area perkemahan bermunculan. Nah, biar aktivitas camping kalian tambah asyik, intip dulu rekomendasi berikut. Here I am happy to share you some of our 2017 summer camp essentials! Whoot!

FullSizeRender (12)

FullSizeRender (10)

1. Colorful Hammock

Life is just (damn it) too short to take a nap in your own bedroom. Ayo cobain rebahan manja sambil berayun santai dengan hammock. Pasti betah deh! Pilih hammock dengan warna terang yang sekiranya kontras dengan rona sekitar, supaya fotomu tampak lebih playful.

FullSizeRender (14)

FullSizeRender (4)

2. Ethnic Cape

Sekarang mah bukan cuma kain Bali yang bisa dibawa-bawa summer camp. Tapi segala jenis kain khas tradisional Indonesia. Contohnya, kain Batik Papua yang saya pakai ini. Bahannya ringan, tipis, dan lentur sekali. Selain keren buat dijadikan jubah atau selimut, waktu camping kemarin kain ini juga berguna jadi alas masak hahaha! 😬

FullSizeRender(3)

FullSizeRender (11)

3. Wardāh Hydrating Aloe Vera Gel

Kenalin! Ini dia salah satu daily skincare favorit saya selama 2 bulan terakhir. Sebegitu cintanya sampai saya bawa ikutan summer camp. Jadi, ini adalah gel multi fungsi yang punya kandungan Aloe Vera alami. Ampuh bikin kulit wajah kita lembab dan segar seharian. Apalagi habis dihajar sinar matahari, langsung terasa loh efek dinginnya.

FullSizeRender(4)
Gunakan rutin 2x sehari. Pagi sebelum berkegiatan dan malam sebelum tidur. Oh and make sure to clean up your face in the first place.

FullSizeRender (6)

4. Air Sofa Bed

God Bless Instagram feed for this travel trend. Meski cara isi anginnya lumayan bikin ngos-ngosan dan tak seindah tutorial YouTube, tapi air sofa bed ini nyaman banget dipakai. Bisa buat baca santai, minum teh, pacaran (wadidaaaw!) atau mengamati bintang malam. Harga via online variatif kok, mulai Rp 100,000 – 250,000 saja.

FullSizeRender (2)

FullSizeRender (5)

5. Fresh Breakfast

Bikin makanan serba instan saat summer camp memang menggoda. Tapi sarapan dengan menu berprotein juga enak dan praktis kok. Saya sih doyan banget sajian telur di pagi hari. Dari Skinny Omlette, Scramble Egg, Baked Egg, Poached Egg, etc. Tell me what’s yours?

FullSizeRender (17)

FullSizeRender (9)

Thus our 2017 summer camp essentials. Siapa tahu kalian juga suka. Pernah punya pengalaman summer camp? Atau bahkan masih bingung persiapannya gimana? Put it down on the comment section below. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

GIVEAWAY ALERT

FullSizeRender(1)

Ada 1 lagi oleh-oleh kain Batik Papua kayak gini buat 1 orang yang beruntung. Caranya gampang! Cukup kasih komen paling cihuy di bawah post ini. Will announce the winner on Sunday (9/7/17). Good luck, Boogies!

[PENGUMUMAN PEMENANG]

Terima kasih tak terhingga buat kalian yang sudah membaca dan meramaikan tulisan ini. Komen yang terpilih dan berhak mendapatkan giveaway adalah Cahya Trijadi. I will contact you through email and send the package right away. Congrats! Buat yang lain, jangan kapok tungguin giveaway berikutnya ya.

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

5 Juni 2017

Lokasi: Bumi Perkemahan Ciputri, Desa Tenjolaya, Jawa Barat, Indonesia

Foto: Andyna, Ikka Wuwiwa

 

 

Binar Bervakansi

Keberagaman Pontianak

Selamat Idul Fitri dengan suhu udara sehangat-hangatnya dari Kota Khatulistiwa! Libur panjang berkat hari raya saya habiskan sebagian di jantung Kalimantan Barat, Pontianak. Bosan dengan menu Lebaran yang itu-itu saja, saya pun tergiur mendengar alternatif wisata kuliner di sini. But once I started the trip, I found more excitement than just a food festive. It is called unity in diversity.

FullSizeRender(1)
Tugu Nol Kilometer Khatulistiwa

Nilai keberagaman dengan mudah saya temukan pertama kali di Istana Kadriyah Kesultanan Pontianak. Gerbang utama sengaja dibentuk serupa Joglo khas Jawa. Selasar dan tangga depan istana dipengaruhi sentuhan Tionghoa. Sementara interior dalam tampak megah diselimuti rona kuning lambang kejayaan Melayu.

“Kenapa suasana istana dibuat campur-campur kayak gini?”, tanya saya pada seorang Teuku yang memandu. “Hahaha! Tentu saja,” ia terkekeh, “Sebab Sultan sangat mencintai kebhinnekaan.” Oh kalian tahu? Dulu Sultan pernah mendapat tawaran dari Kerajaan Malaysia untuk bergabung dengan wilayah administratif mereka. Tapi Sultan menolak, ia ingin tetap menjadi bagian dari Indonesia.

IMG_2406
Istana Kadriyah

Tak jauh dari sentralismo kota, saya menjumpai keberagaman berikutnya bernama Gereja Katolik Santo Yoseph, Katedral Pontianak. Kita bisa berkeliling mengamati eksterior bangunan Romawi yang bersimbiosis kuat dengan sentuhan seni ukir khas Dayak. Gereja yang juga sudah diresmikan oleh Presiden Jokowi ini terbuka bagi siapa saja. Bahkan waktu saya isi buku tamu, pengunjung yang datang kebanyakan justru umat Islam dan Buddha.

IMG_2691
Katedral
FullSizeRender(2)
Street Stopper

Keberagaman lain yang tak habis saya syukuri adalah menggenapkan misi semula. Beruntung sekali tahun ini saya dihadiahi menu Lebaran istimewa. Pontianak amat lihai menawarkan keberagaman lewat petualangan perut. Mulai dari aneka Mie Tiaw, Nasi Kari, Bubur Pesawat, Bakmi Kepiting, Es Lidah Buaya, Kue Bulan, Yue Ping, Es Krim Kopi, sampai Pisang Goreng Srikaya yang tidak masuk akal enaknya. Kenyang bahagia! Hahaha! 😝

IMG_2805
Menurut saya, sejauh ini, Pontianak menjadi peta kuliner Indonesia terbaik ketiga setelah Palembang dan Aceh. Catatan, saya belum pernah ke Padang (yang katanya juga dahsyat).

Terakhir, sempatkan diri menjajal kapal kayu menyebrangi Sungai Kapuas. Jelang akhir Ramadhan, sepanjang petang, bukan petasan pasar yang dibakar untuk mengiringi kumandang takbir. Melainkan Meriam Kelapa. Ditembak bersahut-sahutan dari segala sisi sungai terpanjang di Indonesia ini. Sorak-sorai orang dalam logat Melayu, Khek, Bugis, Madura, Arab, dan lainnya, padat memenuhi benam senja. Hangat, hangat tak terperi, Kawan.

IMG_2718

Saya selalu percaya, hakikat multi kultur dan kepercayaan itu memang sudah takdir bangsa kita. Pontianak adalah salah satu bukti konkretnya. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel ➸ BANGKA: 5 Hal Yang Wajib Dicoba

Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

30 Juni 2017

Lokasi: Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia

Foto: Andyna

Binar Bervakansi

YATS Colony Yogyakarta

Masih ada oleh-oleh nih dari wisata seni ART|JOG 2017 minggu lalu. Banyak sekali yang tanya via IG Stories, gara-gara tiap pagi saya suka share video dari tempat saya menginap. “Kok lucu banget sih, Dyn? Itu dimana deh? Serius ada hotel kayak gitu di Jogja?”, dsb. Nah biar komplit, jawabnya borongan di sini saja ya. 😌

img_2218

No matter how many times I have visited this calming city, I always find a new angle to explore Jogja. Termasuk perkara pilihan akomodasinya. Lemme take you to this eccentric boutique hotel named YATS Colony.

img_2138

Hakikat ide yang paling mencuri perhatian saya dari YATS Colony adalah konsep co-living space mereka. Hotel ini dihidupkan oleh hasil ekstensi sejumlah proyek kreatif yang sangat mutualis. Hingga muncul kepastian kesan bahwa tiap sudut ruang benar-benar diciptakan secara matang. Tak percaya? Scroll down!

img_2206

Begitu buka pintu kamar, bersiaplah terbengong-bengong dengan desain interiornya. Pack and proportional. Dari pemilihan bed cover, wall art, amenities basket, door signage, cushion, lampu tidur, sampai cermin sekalipun. Semua diperhatikan terinci. Kayak kamar khas Tumblr gitu. LAFF!

img_2214
No ordinary wall art.
img_2213
Bump the bed!
img_2205
Designed by Ayang Cempaka.
img_2204
Door signage.
img_2202
Switch off when you no longer need it, please.
img_2215
Tell me who’s the fairest?

Sekarang, jalan-jalan yok keliling area luar YATS Colony. Dijamin, gawai dan kamera kalian bakal penuh dengan ratusan foto menggemaskan. Soalnya, ada begitu banyak titik atraktif yang sayang jika dilewatkan.

img_2203
Swimming pool bergaya khas alam tropis. Disempurnakan dengan circular pool lounge untuk aktivitas BBQ yang bisa disiapkan.
img_2210
Stone slider.
img_2208
Penempatan tanaman hijau yang sangat artistik.
img_2209
You don’t wanna miss the frontyard.
img_2207
Urban vibe, I must say.
img_2212
Mr. and Mrs. Deer McCheer.

 

Poin minusnya cuma dua kok. Menurut saya, pertama, sajian makanannya masih belum memuaskan. Beberapa hari sarapan, saya mencoba Egg Bennedict, Omlette, Smooties, Butter Croissant, sampai Bubur Ayam. Semua rasanya hambar. Including their coffee, not quite close to my taste. Kedua, YATS Colony juga belum memiliki sistem room service agar kita bisa memesan dan menikmati makanan dari kamar.

img_2216

img_2201

After all, saya merekomendasikan YATS Colony untuk dikunjungi bersama teman dan keluarga kecil. Selain nyaman, kru mereka benar-benar helpful dan cekatan. Posisi hotelnya pun hanya 35 menit dari Bandara Internasional Adisutjipto. So yes, put this on your list whenever you’re about to visit Jogja. Stay. And make the most of it.

YATS Colony Room Rate ➸ click here

Read more hotel recommendation ➸ The 101 Hotel Bogor Suryakancana

Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

logo

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

22 Juni 2017

Lokasi: Jalan Patangpuluhan No. 23, Wirobrajan, Yogyakarta, Indonesia

Foto: Andyna