Binar Bervakansi · Layar Perak

Cara Memaksimalkan Trip Film Festival

Menyapa Desember selalu membuat saya riang. Seperti ada ritual kembali ke Jogja yang memanggil untuk diulang. Kalau kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah paham alasannya. Tak lain karena selebrasi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Bervakansi sinema dalam momen festival sejatinya memberi keleluasaan lebih bagi para film enthusiast, bahkan yang jauh-jauh terbang dari kota, negara, atau benua lain cuma buat nonton. Yaz! Kami menyebutnya trip film festival.

JAFF 11

JAFF 10

Karib saya, Iman Kurniadi, yang pertama kali mengenalkan tentang konsep trip film festival 3 tahun lalu. A journey which dedicated to find a global alternative screening. Dan ternyata, peminatnya kini terus berlipat ganda. Hal ini juga terjadi di Busan, Tokyo, Toronto, Melbourne, Johannesburg, Berlin, dan ratusan kota besar lainnya. But if you never done this before and wondering where to begin, here I am, kindly listing you some guides you need to prepare. Finger scrolling!

JAFF Jogja

1. Online RSVP

Waktu tahun pertama ikut film festival, saya kaget sejadi-jadinya melihat antusiasme pemutaran alternatif yang jauh berbeda dibandingkan bioskop reguler. Tiket on the spot dengan mudah ludes hanya dalam hitungan menit. Apalagi bagi deretan judul yang sudah wara-wiri di kompetisi mancanegara. Jadi, biasakan membeli tiket online sejak awal. Ini akan meminimalisir kemungkinan terjebak dalam antrian mengular!

JAFF 7

2. Festival Guide

Di Indonesia, belum ada film festival dengan persiapan program dan operasional sematang JAFF. Katalog jadwal yang dibagikan sangat detail. Website mereka pun sudah dilengkapi GPS pin point ke titik-titik tempat pemutaran. Nah dalam sehari, ada sekitar 15-20 film yang diputar. Maka, festival guide seperti ini wajib kalian pegang, agar mudah mencocokkan lompatan dari satu film ke film lain.

JAFF 12

JAFF 19
Satu film bisa jadi hanya diputar 1x. Tidak berulang seperti bioskop reguler.

3. Ikuti Regulasi Pemutaran

Saya selalu salut dengan mental penonton film festival. Sebab mayoritas sudah lebih beradab. Jarang sekali ada penonton yang datang terlambat, sibuk merekam gambar, buka aplikasi chat, apalagi berisik ngobrol. Pun semua tidak beranjak sampai layar dimatikan. Kalau kata Ismail Basbeth, menaati aturan nonton bukan cuma menghargai filmmaker, tapi juga menghargai diri kalian sendiri.

JAFF 16

JAFF 13

4. Unlock Your Mind

Banyak yang bilang nonton film festival itu berat, sulit dimengerti, terlalu eksperimental, art-house banget, dsb. Percayalah saya pun mengenalnya benar-benar dari nol besar. Justru disinilah pintu interaksi langsung dengan para filmmaker terbuka lebar dan kita diberi akses untuk bertukar pikiran. Imagine if you can spend a morning with Garin Nugroho, Kamila Andini, Wregas Bhanuteja, or even Christine Hakim. Wouldn’t it be great?

JAFF 4

JAFF 18 - Marlina The Movie

5. Where to Stay?

Last tip! Instead of fancy hotel, imho, you should really consider to pick a modest homestay or dormitory. Why, you asked? Karena sebagian besar waktu kita toh akan dihabiskan untuk nonton, lalu pulang hampir tengah malam. Rugi kan kalau bayar mahal-mahal. Sisa uangnya mendingan buat beli official merchandise dari film festival yang bakal jadi kenang-kenangan. :p

Film festival berskala international tak hanya menjawab salah satu kegelisahan industri layar lebar. Melainkan juga berpotensi menjadi pupuk segar bagi sektor pariwisata. Gimana? Tertarik mencoba? Atau ada yang minat bikin trip ke Busan International Film Festival? Saya mau ikut. Joss!

Read more JAFF 2016: My Top 5 Highlights

Andyna

8 Desember 2017

Lokasi: Yogyakarta,Indonesia

Foto: Herenda G Dewa, Gunnar Unay Nimpuno, Ginanjar Teguh Iman, Andyna

Video Trailer: JAFF 2017

Binar Bervakansi · Tudung Seni

MUSEUM MACAN: Ruang Seni Alternatif Berstandar Internasional

Mari kita lupakan soal mana yang lebih disepakati banyak orang; apakah bervakansi ke museum itu kuno atau justru kekinian? Bagi saya, perdebatan itu sudah tidak menarik. Tak terkecuali dalam konteks Jakarta sebagai nadi Indonesia. Karena nyatanya, kota ini semakin piawai memoles bangunan biasa sekalipun, menjadi sentra koleksi karya yang atraktif, bahkan sayang jika dilewatkan Kids Zaman Now.

Satu lagi ruang seni alternatif yang baru saja diresmikan dan dibuka untuk publik tepat 4 November 2017 lalu. Namanya MACAN; Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Ketika bertandang, saya menemukan beberapa poin unggul yang bisa jadi alasan kenapa kalian patut memasukkannya ke dalam agenda akhir pekan. All curated and photographed by yours truly.

IMG_8587

1. Great Space

Museum Macam is setting the bar pretty high as the term of an artspace. Akhirnya Jakarta kembali melahirkan institusi tetap yang layak dijadikan standar internasional. Interiornya luas, minimalis, bersih, dengan jangkauan langit-langit memadai. Jarak antar karya juga tidak sesak. Dilengkapi partisi temporer yang bisa diadaptasikan sesuai sub-tema pameran.

IMG_8579
Sedikit masukan, menurut saya, pencahayaan masih lemah di beberapa titik. Akibatnya, tampilan karya sepintas justru seolah kusam.

2. Berbasis Edukasi

Mari menanamkan iklim keluarga bahwa ruang seni alternatif adalah alat edukasi yang menyenangkan bagi anak. Kita bisa mengenalkan ragam warna, bentuk, struktur, tempat, tokoh, atau apa saja. Sadar akan hal ini, Museum Macan juga sigap memfasilitasi area pendidikan khusus anak, serta bermitra dengan sekolah setempat.

IMG_8577
Tur keluarga dilakukan setiap hari Sabtu tepat jam 10 pagi.

IMG_8584

3. Painting Parade

If you do love walking slowly and staring quietly a painting parade, this should be your next stop. Museum Macan didominasi koleksi lukisan klasik hingga kontemporer dari belahan Asia, Eropa, hingga Amerika Utara. Syarat pesan satir, jenaka, tapi keras menampar. Kritis tanpa menggurui.

IMG_8583

IMG_8580

4. Helpful Volunteer

Punya teman bule? Jangan ragu ajak mereka ke sini. Sebab sejumlah volunteer siap memberi pendampingan dalam bahasa Inggris. Oia, mereka juga dengan senang hati membantu kalau kita butuh fotografer dadakan. 😉

IMG_8578

IMG_8589

5. Berbayar

Terus terang, saya sangat mengapresiasi adanya sejumlah harga tiket yang harus dibayar (Rp 50,000 untuk dewasa, Rp 40,000 untuk pelajar, Rp 30,000 untuk anak). Why, you ask? Karena dengan begitu, ada upaya seleksi pengunjung. Setidaknya, bukan gerombolan remaja alay yang suka norak foto-foto sampai menyentuh karya.

IMG_8585

Museum Macan terbuka setiap hari dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Selain booking via website, kalian juga bisa kok beli tiket on the spot. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about art TRAVEL 101: 10 Etika Bervakansi Seni

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

6 November 2017

Lokasi: AKR Tower Level MM, Jalan Panjang No. 5 Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Indonesia

Foto: Andyna

Binar Bervakansi · Di Belakang Panggung

Cara Menyeimbangkan Pekerjaan dan Traveling

IMG_7796[1]

Blame these constant rainy days in October which making me super skip just to have another blog post. Maaf sudah bolos terlalu lama ya. Jangan-jangan ini blog mulai dikelilingi sarang laba-laba. But the great thing is that, I’ve been so much happier lately. New job. New friends. New routines. New circumstances. New things to learn. And of course, new places to visit. Semua berjalan sangat menyenangkan.

How do actually I manage to do it all at once? Especially to keep it balance between work and travel. One of the perks of being single is because I have an absolute freedom to choose my priority. Maka jika manusia perkotaan pada umumnya mengonsumsi sebagian besar waktu mereka untuk bekerja, saya tidak mau begitu. Saya ingin bertumbuh lebih dari itu.

UVPL7721[1]

1. Mengalami Adalah Investasi Diri

Dimulai dari pola pikir. Coba lihat sekitar kalian. Berapa banyak wajah kosong seperti tak bernyawa? Hidup macam robot dengan program rutinitas pagi hingga petang. Oh well, I get these kind of stories a lot. Fallen victims to the materialism trap. Rugi sekali bukan? Benar jika entitas fisik memenuhi kebutuhan raga, tapi tidak dengan mental dan jiwa kita. So invest your life with experiences, not things. Have stories to tell, not stuffs to show. Berkelanalah!

IMG_8272[1]

2. Kenapa Harus Ditunda?

Dibesarkan dengan metode pendidikan sekolah Katolik mempengaruhi kedisiplinan saya sampai sekarang. I know it’s impossible to be on track all the time. Tapi sebisa mungkin, saya berusaha untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Kalau bisa diselesaikan saat jam kerja, kenapa mesti lembur? Apalagi sampai mengganggu waktu istirahat dan  berlibur. Kecuali benar-benar gawat darurat loh ya. You wanna know what did my boss even told me so? “Andyna, let me know if you start getting home more than 8 PM. Embrace your life, really.”

QKNT3460[1]

3. A Proper Weekend

Setelah dihajar 5 hari kerja, tubuh pasti mengirimkan sinyal karena meminta jeda. Tidak sedikit orang yang suka mengeluh betapa akhir pekan mereka terlewat begitu saja. Undangan ini-itu lah. Arisan sana-sini lah. Sadar tidak? Kalau diikuti terus, tidak akan ada habisnya. So it’s okay if you feel like having quality time for your own sake. Menikmati teh pagi tanpa tergesa, mencium aroma buku baru, atau sekedar bermain roller blade di taman kota (yes, one of my officemates actually did this tho).

IMG_7578[1]

4. Cuti = Hak Segala Bangsa

Mari kuingatkan sejenak, Kawan. Tugasmu di bumi bukan cuma buat bayar tagihan lalu mati. Set your own calendar. Pick the best possible time you can leave the hustle bustle. Buang jauh-jauh alasan Habis-Gimana-Dong-Bingung-Ngomong-Sama-Bos. Yang penting, jangan sampai kewajiban kalian tercecer dan menyusahkan rekan kerja. Tapi, kalau sehabis liburan kalian malah tambah bersungut-sungut malas masuk kantor. Then there must be something wrong with your job. Quit, I suppose to say.

IMG_8174

5. Choose The Right Inner Circle

Apa hubungannya dengan pekerjaan dan traveling? Begini. Semakin dewasa, saya semakin realistis dan tidak mempan dengan istilah “Bergaulah Dengan Siapa Saja.” It’s a ridiculous thought, imho. Memangnya kalian mau digerogoti orang-orang yang berpengaruh negatif? Choosing the right inner circle helps you to find a strong supporting system. Terutama dalam menjalani hal-hal yang kalian suka. Saya paham ini merupakan proses panjang. But once you found them, trust me Blog Walkers, it’ll be much easier to keep everything in balance.

IMG_8265[1]

CZMQ0346[1]

Kalian punya pendapat lain? Atau justru ada yang mau cerita kesulitannya tentang bagaimana cara menyeimbangkan pekerjaan dan traveling? Saya akan senang sekali membacanya di kolom komen. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel Keberagaman Pontianak

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

22 Oktober 2017

Foto: Bintang Angkasa, Ikka Wuwiwa, Husein Yunior, Joze King, Andyna

 

Binar Bervakansi

5 Spot Instagrammable Sangiang

Menelisik daya pikat Taman Wisata Alam Pulau Sangiang kembali menjadi paruh akhir pekan saya. Dekat dan mudah dijangkau dari Jakarta, rasa-rasanya adalah dua alasan prioritas mengapa destinasi short trip ini selalu menggoda untuk didatangi berkali-kali. Saya sudah pernah menceritakan keistimewaan ekosistem Sangiang termasuk bukit bawah lautnya di sini. Sekarang, buat kalian yang suka jeprat-jepret, saya mau tunjukin nih beberapa spot Sangiang yang Instagrammable untuk dibidik. Uwooow!

SANGIANG 13

1. Rawa Hutan Bakau

Hutan Bakau Sangiang tidak kalah menawan dibanding Hutan Bakau Bali sekalipun. Ia tumbuh sehat menggenang sepanjang rawa berwarna hijau, bukan cokelat. If you do love playing with 360° camera, this might be your next favorite landscape to seize. Oh iya, jangan kaget kalau tiba-tiba ada ular hijau mampir ke perahu ya. Hihihi!

SANGIANG 10

SANGIANG 11

2. Pantai Panjang

I was there the entire afternoon. Soaking up the sun like it’s therapeutic. Selain cocok bagi kalian yang hobi berkubang seperti saya, Pantai Panjang juga menyajikan panorama kenes untuk diabadikan. Terutama mulai jam 5 sore ketika arus sedang surut. Hamparan karang pada bagian tubir sesekali membentuk celah bebiruan jernih yang sayang jika dilewatkan.

SANGIANG 4

SANGIANG 8

3. Camp Area

Sangiang masih sangat terjaga dari komersialisasi hotel berbintang. Selain guest house sederhana yang masih dikelola penduduk lokal, ada pula opsi kemah seperti yang saya lakukan bersama teman-teman Happy Camp. Nikmati visual memikat persis berhadapan dengan Pantai Panjang, sembari menunggu matahari bertukar siaga dengan bulan.

SANGIANG 12

SANGIANG 7

4. Tropical Sense

Jalan setapak penghubung antar rumah penduduk di Sangiang juga tidak pernah membosankan. Pepohonan khas pesisir menjulang tinggi dan solid berbaris dari ujung ke ujung. Tidak perlu khawatir foto kalian akan ‘bocor’ akibat lalu-lalang pengunjung, sebab bagian tengah pulau ini memang cenderung sepi.

SANGIANG 2

SANGIANG 3

SANGIANG 9

5. Bukit Arjuna

Selain Puncak Harapan yang menjadi titik trekking populer. Personally, I lay my eyes on the other one too. Bukit Arjuna namanya. Cukup berjalan kaki santai 15 menit dari camp area. Jika cuaca cerah, selayang-pandang dari atas bukit ini seringkali mengetengahkan irisan rona manis pada lensa kamera. Mampirlah ke sini seusai sarapan, atau lebih baik lagi, menjelang fajar tiba.

SANGIANG 6

SANGIANG 5

Kunjungan saya ke Pulau Sangiang tahun ini semakin terasa hangat pula bersama teman-teman Happy Camp. Duh! Main sama mereka selalu tokcer bikin perut mules cekikikan. They’re the realest! Go follow and have no hesitate to join them for your weekend escape. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel KOMODO: Primadona Laut Sumbawa

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

1 Oktober 2017

Lokasi: Pulau Sangiang, Banten, Indonesia

Foto: Andyna, Olla Karaleina Nindya, Abdillah Ramdhani

 

Binar Bervakansi

10 Tips Nonton Formula 1 Singapore GP

Ada yang tergila-gila sama fiksi Antologi Rasa (Ika Natassa, 2011)? Dulu gara-gara baca buku itu, mulailah menari-nari khayalan bisa merasakan langsung perjalanan sensasional ala tokoh Harris dan Keara. Ain’t no other but the annual Formula 1 Singapore Grand Prix. And it finally happened!

Must say, this world wide racing festivity is enormously full of surprise. Niat awal mah cuma jejingkrakan buat Ariana Grande. Eh tapi ternyata, begitu masuk arena sirkuit, sinting banget ya atmosfernya! Terutama buat para adrenaline junkie, pastikan kalian datang ke sini suatu hari nanti. Bingung gimana persiapannya?  No worries, Birds and Bees! I won’t leave you clueless.

Also read ➸ Ariana Grande: The Honeymoon Tour: Jakarta 2015

SINGAPORE GP 13

SINGAPORE GP 18

1. Beli Tiket Sesuai Kebutuhan

Coba tanya dulu ke diri kalian masing-masing. What would you prefer to see the most? Kalau kalian segitu tergila-gilanya sama racing dan relatif jompo (LOL!), maka sila duduk manis di Paddock Club dan Grand Stand. Nah berhubung incaran utama saya lebih dominan nonton konser, maka pilihan saya jatuh antara Premier Walkabout dan Zone 4 Walkabout. Kita tetap bisa nonton racing kok, malahan dengan sudut pandang eye-level dan tidak usah nunduk-nunduk pakai binocular.

2. Masuk Sejak Sore

Diintip dari rundown, segmen-segmen inti memang cenderung disuguhkan pada malam hari. Namun jangan lupa mengestimasi waktu untuk proses penukaran tiket, hingga berjalan kaki menuju pintu masuk. Saran saya, usahakan maksimal jam 5 sore kalian sudah tiba di dalam. Selain mengantisipasi antrian yang panjang, berkeliling area Grand Prix selagi langit terang rasanya lebih memuaskan.

SINGAPORE GP 19

3. Ready to Walk Whole Day

Siapkan kaki untuk banyak berjalan sepanjang perhelatan. Pakailah running shoes, slippers, atau sneakers senyaman mungkin. Jika ingin membawa anak kecil, pastikan mereka sudah tidak memiliki ketergantungan dengan stroller sama sekali. Soalnya, perpindahan dari satu titik ke titik lain tidak selalu dilengkapi jalur mulus dan rata.

SINGAPORE GP 4

4. Download Singapore Grand Prix Mobile App

Manfaatkan kemudahan akses informasi berbasis digital. Dengan satu aplikasi ini, tidak perlu lagi repot mencari papan navigasi, bolak-balik bertanya jadwal acara, kebingungan mencari toilet, atau bahkan tersesat sekalipun.

SINGAPORE GP 1

5. Entertainment Highlight

Ini poin yang sempat bikin saya ngedumel. Padang Stage yang semestinya menjadi poros utama hiburan malam malah agak mengecewakan secara layout. Menurut saya, posisi barikade depan cukup jauh dari penonton. Jangan harap deh ada kesempatan high five. Moreover, if you’re planning to have some good pictures, try to stay as close as possible to the front.

SINGAPORE GP 9

SINGAPORE GP 8

6. The Night Race

At first I thought I would skip the race. But then I changed my mind. Ayo jadi saksi raung mesin mobil yang menggelegar dari segala penjuru. Bahkan di beberapa sudut, posisi penonton bisa sangat dekat dengan pagar pembatas lintasan. It was so intense. Pun ketika malam final, lintasan kontan diguyur hujan. Ngilu sih nontonnya, tapi sukaaaaaa! 😭😂😭😂

SINGAPORE GP 17

SINGAPORE GP 15

7. Alternatif F&B Yang Lebih Murah

Coba jalan santai ke arah Esplanade Waterfront. Di sana banyak alternatif food stall dengan harga yang lebih masuk akal. Pilihan menunya juga lebih variatif dibandingkan sekitar Market Street Global Cuisine atau Dockside-Portside Hawkers.

SINGAPORE GP 10

8. Free Flow Beer

Yap! Setelah jam 10 malam, mendekatlah sesekali ke arah Gate 3. Saya baru tahu di sana ada bule-bule berseragam yang suka nenteng cup holder berisi flavour beer dingin. Dan semua dibagikan secara gratis!

SINGAPORE GP 16

9. Tepat Memilih Akomodasi

Ada dua titik yang sangat saya rekomendasikan dalam hal akomodasi, yaitu kawasan Beach Road dan Bugis Street. Alasan pertama, karena faktor kedekatan jarak dengan Marina Bay Street Circuit. Saya hanya butuh waktu berjalan kaki 10 menit untuk pulang ke hotel. Second of all, these two will offer you more affordable but still a comfort place to stay.

9

10. Akses MRT

Daripada naik taksi atau bis, gunakan MRT sebagai prioritas transportasi. Selama 3 hari penuh, MRT akan menambah jam operasional hingga pukul 12:30 tengah malam. Praktis, cepat, hemat.

SINGAPORE GP 7

Dengar-dengar nih, Formula 1 Singapore Grand Prix diramalkan berakhir pada tahun 2021 loh. Yang artinya, sisa 4 tahun lagi. Oh no! Make sure you don’t wanna miss this one. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

Read more about travel ARTJOG 2017: 10 Etika Bervakansi Seni

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

24 September 2017

Lokasi: Marina Bay Street Circuit, Singapore

Foto: Andyna, Kevin Lim, Singapore GP

Binar Bervakansi

Beach Trash Wear

The more I go travel around Indonesia, the more I fell head over heels with this giant archipelago. In case you haven’t notice, our shoreline reached more than 59,000 miles, equals to 95,181 kilometers. If this was measured in Europe, our sea territorial would have covered England to Caspian Sea, next to Iran. Yeap! THAT HUGE, Blog Walkers!

tumblr_nrp9d60mGN1tg2ipio1_1280

We serve plentiful of the world’s finest beaches across the country. From Lonely Planet to National Geographic, they all worship it. Beach has always become one of the most irresistable tourism spots. But unfortunately, beach pollution also has turned into a crucial issue in Indonesia. In fact, tons of trashes have been thrown and stranded on the beach every single day.

IMG_7374

As a domino effect, it is so devastating knowing that many of valuable sea animals had killed because of trash. Sea Turtle, for instance, which always been mistaken to identify trash as a swimming Jellyfish (their favorite food obviously). Imagine when these endangered species have to digest a chemical and toxicity stuff into their stomach. No wonder it has lead us to 30% decline of underwater population for the past 10 years. If this terrible issue still on repeat, our grandchild might probably can figure out the existence of Sea Turtle only by the book or movie.

Crush

CleanAction, as one of the NGO that has a mandate for environmental protection, is having concern on a mission to bring cleaner beaches back to us. First, they have collected 2000 different trashes. Second, they pass the trash to a group of Volunteer Artists. Then these Volunteer Artists try to put an ink to the trash, and use it as a printmaking tool on a t-shirt. Henceforth, it simply became 2000 pieces of Beach Trash Wear. Guess what happened? All of them were sold in just one day.

IMG_7377

IMG_7376

IMG_7372

Each piece of Beach Trash Wear will be stamped with certain location where the trash was found, including the profound environmental impact to the beach pollution. Signed off with a plea for real action and build a momentum to stop this bad habbit of trash, once and for all. Talkin’ bout preservation in style? I’m so into it! Wanna get yours? Oh you can easily check out their website at www.beachtrashwear.com or come visit their offline store. Let’s save our beaches!

Read more about beaches ➸ MALDIVES: The Misconception

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

September 18, 2017

Illustration: Non-Sense Warehouse

Photo: Beach Trash Wear, Disney Pixar

Binar Bervakansi

Tanjung Puting: My Top 5 Highlight

Touch down, September! Kita sudah masuk bulan peralihan musim nih. Saya pun kembali iseng towel-towel Ibu Penyu. Kira-kira dia bakal main kemana ya? Lalu tersebutlah nama Taman Nasional Tanjung Puting di antara deretan destinasi mereka. Kawasan konservasi di tengah belantara Borneo ini ternyata sudah sangat mudah dan nyaman diakses loh. Wait! Memang apa serunya liburan ke tengah rimba tanpa sinyal 4G begitu? Nih, simak 5 alasan terbaik dari bingkai vakansi saya!

IMG_6987

IMG_6997

1. River Cruising

When was the last time you did something for the very first time? Well I just did. River Cruising smoothly on the deep, long, noiseless, crocodiles-invested water way of Kalimantan. Konsep trip ini sebenarnya mirip LOB (Living On Board). Klotok (kapal tradisional) bukan cuma jadi alat transportasi, tapi juga akomodasi, alias ya tidur, makan, bahkan mandi pun di situ. Terpikir bakal mati gaya, saya sampai bawa 2 buku dan obat penenang biar gampang ngantuk. But then I WAS WRONG! I did not touch them at all. Berlayar dengan Klotok ternyata rasanya sungguh wadidaaaw!

IMG_6980

IMG_6897

IMG_6964
Sepanjang jalur River Cruising, kita bakal sering banget dihampiri Bekantan, Kera, sampai Monyet liar di sisi kiri dan kanan.

2. Populasi Orang Utan Terbesar Dunia

Bagian menyenangkan berikutnya, tentu saja karena bisa ketemu langsung sama primata endemik yang tingkahnya super menggemaskan ini. Jadi, setiap pagi dan sore, kita singgah di beberapa camp bertepatan dengan jadwal feeding time. Saat itulah, mereka akan datang dengan lincah dari berbagai penjuru pohon. Terus rebutan pisang dan susu deh! Hihihi!

IMG_6988
He could eat at least 50 bananas in probably less than 5 minutes ya’ll. LOL!
IMG_6991
Rukun Tetangga.
IMG_6989
Kacong, alpha male pertama yang saya jumpai di Camp Tanjung Harapan.
IMG_6976
Tom (kanan), alpha male di Camp Tanggui.

Rasanya pengen banget saya pelukin Orang Utan di sana satu-satu. Tapi selain ranger dan peneliti, jarak aman bagi pengunjung yaitu minimal 5 meter dari Orang Utan. Makanya, ngaco banget kalau ada kebun binatang atau sirkus liar di luar sana yang memfasilitasi manusia buat gendong-gendong Orang Utan seenaknya. Ingat, jumlah mereka sudah nyaris punah. So it’s all nothing but animal abuse.

IMG_6977
Rawa, si kecil lincah di Camp Leakey.

IMG_6966

IMG_6986

3. Kok Bule Semua?

Serupa ketika saya berkunjung ke Taman Nasional Komodo, dimana 90% wisatawan justru datang dari Benua Eropa. Menurut cerita Pak Ponco Nugroho, pemandu kami selama di sana, ia sering sekali mendapat komentar dari para tamunya, “You, Indonesian people, are so lucky to have this kind of distinctive mother nature.” Bahkan tahun ini, jumlah turis asal Spanyol sedang meningkat pesat. “Nah mereka girang banget kalau saya fasih nyanyi lagu Despacito!”, sambung Pak Ponco terkekeh.

IMG_6978
Pak Ponco Nugroho hapal semua nama tanaman hutan dalam bahasa Latin. Jalan sama beliau kayak lagi jalan sama guru Biologi. Edyaaan!

4. Main Bareng Ibu Penyu

Banyak banget yang penasaran nanya, “Ndyn, asyik nggak sih main bareng Ibu Penyu?”. Dan tentu saja saya mengangguk dengan mata berbinar. Dari pemilihan pemandu, ranger, chef, sampai kru Klotok, semua kualitas yahud. They all became bubbly travelmates and storytellers at the same time.

IMG_6973
Ini dia kru yang selalu nanya, “Senang tak, Mbak Andyna?”

Soal makanan? Tidak usah ragu selera Ibu Penyu. Pagi hari, kami dibangunkan aroma setangkup roti bakar dan telur setengah matang. Tiap habis trekking, ada pisang goreng hangat atau mangga segar (yang baru keluar dari kulkas). Makan siang dan malam? Giliran aneka hidangan laut, sampai bebuahan segar dicocol sambal ebi siap disantap. Happy tummy is a guarantee.

IMG_6971

IMG_6975

5. Night Safari

Jelang petang, petualangan belum usai. Siapkan jaket, headlamp, dan mosquito repellent karena kita akan berjalan membelah kegelapan hutan untuk berburu  Tarantula, Semut Rangrang, sampai Kelelawar.

IMG_6990

Right after night safari, a clean shower’s waiting. Yap! Jangan takut tidak bisa mandi. Setelah itu, area tengah Klotok ‘disulap’ jadi tempat tidur. Komplit dengan kasur empuk, bantal besar, selimut, dan kelambu. Tidur sepanjang malam ditemani kicau Burung Murai dan ratusan pendar Kunang-kunang. Kalian mesti coba!

IMG_6970
I-Woke-Up-Like this in my life will never be the same anymore.

Gimana? Tertarik liburan ke Tanjung Puting? Bulan Juli hingga September adalah musim kunjungan terbaik ke sini. Cuaca cerah, jalur trekking tidak becek. Volume air sungai pun normal, sehingga tanaman Bakung tidak menggenang menutupi akses Klotok. Selamat mencoba. Jelajahi negeri dengan tawa.

More travel stories from Kalimantan ➸ Danau Kakaban – Derawan

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

10 September 2017

Lokasi: Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Indonesia

Foto: Andyna, Atika Deviansi Wiguna, Ponco Nugroho