Binar Bervakansi · Layar Perak

Cara Memaksimalkan Trip Film Festival

Menyapa Desember selalu membuat saya riang. Seperti ada ritual kembali ke Jogja yang memanggil untuk diulang. Kalau kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah paham alasannya. Tak lain karena selebrasi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Bervakansi sinema dalam momen festival sejatinya memberi keleluasaan lebih bagi para film enthusiast, bahkan yang jauh-jauh terbang dari kota, negara, atau benua lain cuma buat nonton. Yaz! Kami menyebutnya trip film festival.

JAFF 11

JAFF 10

Karib saya, Iman Kurniadi, yang pertama kali mengenalkan tentang konsep trip film festival 3 tahun lalu. A journey which dedicated to find a global alternative screening. Dan ternyata, peminatnya kini terus berlipat ganda. Hal ini juga terjadi di Busan, Tokyo, Toronto, Melbourne, Johannesburg, Berlin, dan ratusan kota besar lainnya. But if you never done this before and wondering where to begin, here I am, kindly listing you some guides you need to prepare. Finger scrolling!

JAFF Jogja

1. Online RSVP

Waktu tahun pertama ikut film festival, saya kaget sejadi-jadinya melihat antusiasme pemutaran alternatif yang jauh berbeda dibandingkan bioskop reguler. Tiket on the spot dengan mudah ludes hanya dalam hitungan menit. Apalagi bagi deretan judul yang sudah wara-wiri di kompetisi mancanegara. Jadi, biasakan membeli tiket online sejak awal. Ini akan meminimalisir kemungkinan terjebak dalam antrian mengular!

JAFF 7

2. Festival Guide

Di Indonesia, belum ada film festival dengan persiapan program dan operasional sematang JAFF. Katalog jadwal yang dibagikan sangat detail. Website mereka pun sudah dilengkapi GPS pin point ke titik-titik tempat pemutaran. Nah dalam sehari, ada sekitar 15-20 film yang diputar. Maka, festival guide seperti ini wajib kalian pegang, agar mudah mencocokkan lompatan dari satu film ke film lain.

JAFF 12

JAFF 19
Satu film bisa jadi hanya diputar 1x. Tidak berulang seperti bioskop reguler.

3. Ikuti Regulasi Pemutaran

Saya selalu salut dengan mental penonton film festival. Sebab mayoritas sudah lebih beradab. Jarang sekali ada penonton yang datang terlambat, sibuk merekam gambar, buka aplikasi chat, apalagi berisik ngobrol. Pun semua tidak beranjak sampai layar dimatikan. Kalau kata Ismail Basbeth, menaati aturan nonton bukan cuma menghargai filmmaker, tapi juga menghargai diri kalian sendiri.

JAFF 16

JAFF 13

4. Unlock Your Mind

Banyak yang bilang nonton film festival itu berat, sulit dimengerti, terlalu eksperimental, art-house banget, dsb. Percayalah saya pun mengenalnya benar-benar dari nol besar. Justru disinilah pintu interaksi langsung dengan para filmmaker terbuka lebar dan kita diberi akses untuk bertukar pikiran. Imagine if you can spend a morning with Garin Nugroho, Kamila Andini, Wregas Bhanuteja, or even Christine Hakim. Wouldn’t it be great?

JAFF 4

JAFF 18 - Marlina The Movie

5. Where to Stay?

Last tip! Instead of fancy hotel, imho, you should really consider to pick a modest homestay or dormitory. Why, you asked? Karena sebagian besar waktu kita toh akan dihabiskan untuk nonton, lalu pulang hampir tengah malam. Rugi kan kalau bayar mahal-mahal. Sisa uangnya mendingan buat beli official merchandise dari film festival yang bakal jadi kenang-kenangan. :p

Film festival berskala international tak hanya menjawab salah satu kegelisahan industri layar lebar. Melainkan juga berpotensi menjadi pupuk segar bagi sektor pariwisata. Gimana? Tertarik mencoba? Atau ada yang minat bikin trip ke Busan International Film Festival? Saya mau ikut. Joss!

Read more JAFF 2016: My Top 5 Highlights

Andyna

8 Desember 2017

Lokasi: Yogyakarta,Indonesia

Foto: Herenda G Dewa, Gunnar Unay Nimpuno, Ginanjar Teguh Iman, Andyna

Video Trailer: JAFF 2017

Layar Perak

Bioskop Sebagai Ruang Respek

Apa sih motivasi kalian setiap memutuskan pergi ke bioskop? Pasti macam-macam kan? Ada yang ingin sekedar menunggu macet usai jam pulang kantor, rutinitas kala akhir pekan, cari referensi tugas kuliah, penyegaran isi kepala, penangkal patah hati, tuntutan pergaulan, atau bahkan tanpa segan-segan cuma buat numpang tidur. Sah-sah saja kok. Tapi ketahuilah juga, bahwa bagi sebagian orang, termasuk saya, nonton film di bioskop adalah sebuah pengalaman spiritual.

BIOSKOP 21

Pengalaman spiritual yang kerap saya cari dengan nonton film di bioskop artinya melibatkan silang rasa. Menit demi menit durasi, saya senang sekali menenggelamkan diri dalam aliran dialog, friksi antar peran, jahitan visual, latar lokasi, ilustrasi musik, tata kostum, product placement, bahkan sampai perkara credit title. Duh segitunya? Tentu saja! Well I don’t mind watching movies purely for pleasure tho, but beyond that, I love to find something new to distract my thought and feeling.

BIOSKOP - 6

BIOSKOP - 9

Sayangnya, alih-alih menikmati momen berharga dalam bioskop, pasti kalian malah sering kan merasa terganggu luar biasa? Memang sih sudah ada beberapa peringatan aturan yang muncul di layar sebelum film dimulai. Namun sampai hari ini, nyatanya tidak sedikit penonton yang buta etika selama pemutaran berlangsung. Atas nama Ya-Suka-Suka-Gue-Dong-Kan-Gue-Beli-Tiket-Sendiri, kemudian muncul tindak-tanduk bebal yang jelas-jelas merugikan orang lain. On top of that, mereka justru keki kalau ditegur baik-baik. Gusti Pangeran, ampunilah golongan bebal ini!

Bisa, karena terbiasa. Tidak sulit kok. Di bawah ini, saya akan utarakan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk lebih menghargai dan menghormati kepentingan umum di dalam bioskop.

1. Masuklah Tepat Waktu

Sadar tidak? Ketika lampu teater sudah dipadamkan, sesungguhnya itu sinyal halus bahwa toleransi keterlambatan penonton selesai. Memang sih tidak ada larangan untuk tetap masuk. Tapi siluet kepala dan tubuh yang mondar-mandir mencari nomor kursi di kegelapan itu menghalangi scene yang sudah berjalan, dan rasanya menyebalkan bukan main. Karena itu, masuklah tepat waktu sesaat setelah pintu teater dibuka.

BIOSKOP 18

2. Komentator

Waktu nonton Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, saya duduk bersebelahan dengan sepasang muda-mudi. Hingga 20 menit film berlangsung, mereka sibuk mengomentari nyaris setiap adegan dengan volume suara yang merusak konsentrasi. “Mas, Mbak, kalau mau terus-terusan diskusi mending keluar saja,” tegur saya tegas. Mereka langsung terdiam sampai film selesai. And they probably mocked me as a spaz in their head. Coba pikir lagi deh, situ kritikus sinema?

BIOSKOP 17

3. Texting is Rude

Layar gawai yang menyala dalam gelap secara otomatis membuyarkan titik pandang disekitarnya. Bukan hanya tidak menghargai penonton, perilaku dungu ini juga sangat tidak menghargai karya sineas yang sedang diputar. Bapak Presiden Joko Widodo saja nonton di bioskop tidak sambil otak-atik smartphone. Nah situ siapa? FBI? Come on, it is an obnoxious behaviour. So if you can’t stand to be away from your precious gadget for 1,5-3 hours, then stay out of movie theaters.

gettyimages-163296573-1

4. Oh Dear Parents

Tak jarang saya merasa iba melihat bayi dan balita yang ‘terpaksa’ dibawa ke dalam bioskop karena mengikuti agenda orang tuanya. Especially when it comes to huge, violent, loud, even action-packed blockbuster movies. Then after half hour they started to cry, not to mention screaming out loud. My question is simple, seriously. Are you guys completely idiot? If you cannot afford babysitter or have some family you can leave them with, wait for the DVD. Deal with the parenthood living you have chosen.

BIOSKOP 14

5. Merekam Dengan Apapun Itu Ilegal

Berhentilah merekam dan menyebarkan isi film dengan InstaStories, InstaLive, Facebook Live, Snapchat, atau media apapun. Kata siapa tingkah begini dibilang gaul? Norak malah iya. Did you know? 15 detik, 30 detik, 1 menit, atau berapapun singkatnya potongan film yang kalian bagikan sembarangan itu, adalah hasil kru film begadang, kehujanan, nahan lapar, digangguin setan, lupa mandi, bahkan ninggalin keluarga mereka berminggu-minggu.

Membuka ruang respek di dalam bioskop adalah upaya proses belajar bersama-sama. Not that I’m such an ethics maniac. But wouldn’t it be great if we all be able to feel comfortable and worth the penny we have spent? Yuk kita mulai hari ini!

Baca cerita Layar Perak lainnya  Galih & Ratna (Lucky Kuswandi, 2017)

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita dengan tema “Respek”.

LOGO

ANDYNA SIGNATURE 2017 - Black

7 April 2017

Foto, Gif, Video: Time, Cinemaxx Junior, Mumbai Gloss Movie Theater, Pinterest, thisisnotthatblog.com, Instagram Angga Sasongko

Layar Perak

Galih & Ratna (Lucky Kuswandi, 2017)

► NO SPOILER ◄

“Mixtape itu artinya adalah SURAT CINTA!” -Tante Tantri (Marissa Anita)

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 4

Sepenggal lini yang sangat saya suka dari film panjang ketiga karya sutradara Lucky Kuswandi berjudul Galih & Ratna. Gubahan segar dari novel dan film Gita Cinta Dari SMA (1979) yang kini disampul dengan latar kehidupan generasi millennial. Yaz! At some points, it’s basically like slapping our face. Bertumbuh pada periode pergantian abad, menjadikan mereka anak-anak muda yang mengalami transformasi gaya hidup secara drastis, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi. Menghadirkan sosok Galih (Refal Hady) dan Ratna (Sheryl Sheinafia) yang, di luar dugaan saya, tampil solid mengisi karakter satu sama lain. So, here comes my top 5 highlights of the movie.

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 1

1. Musik Sebagai Ruang Bicara

Saya sangat tidak menyangka Lucky mengetengahkan sebuah kisah cinta lewat selebrasi dan idealisme musik. Sentilan-sentilan realistis hadir seputar selit-belit zaman dimana album fisik harus tertatih melawan album digital. Satu-persatu sentilan tersebut bermunculan rapi untuk menjahit kepentingan para tokoh didalamnya. Musik justru menjadi lapisan atas poros cerita. Terlebih lagi, soundtrack terasa digarap dengan sangat teliti oleh Ivan Gojaya (Music Composer). Deret nama musisi muda kekinian disuguhkan seperti GAC, White Shoes and The Couples Company, hingga Koil. But my most favorite goes to Rendy Pandugo with his beautiful ballad called Hampir Sempurna. Nonton deh, nanti kalian pasti paham apa alasannya. 💌

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 3

2. Well Written Dialogue (Plus Monologue)

Dalam kesederhanaan cerita, nyatanya cukup banyak dialog menggigit yang bertebaran. Semakin unggul pula karena dialog-dialog tersebut tidak keluar dalam konteks cinta antara 2 tokoh utama saja. Tetapi justru ketika mereka berinteraksi dengan keluarga, teman, atau gurunya. Entah itu tutur secara verbal, maupun non-verbal. Oh iya, saya suka sekali scene terakhir Galih di penghujung film. It was a heartwarming and poetic ending! Hayo penasaran kan?

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 7

3. Bertabur Kejutan Bintang

Buat yang lahir di era 1980 hingga 1990, mungkin akan tersenyum sejak 1 menit pertama film dimulai. Belum lagi kalau sudah lihat jadi siapakah Joko Anwar, Marissa Anita, atau Indra Birowo di sini? Porsi peran mereka mungkin tidak banyak, tapi sangat mengesankan. You’ll love them.

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 5

4. Sidekick Figure

Terus terang, barangkali ini satu-satunya bagian yang tidak saya suka. Teman-teman sekolah Ratna, khususnya Erlin (Stella Lee). Don’t get me wrong. Not that I’m such a hater. Nope. Tapi akuilah, ini adalah bukti konkret bahwa tidak semua YouTuber bisa semudah itu dijebloskan ke layar lebar. We might put attention to so-called-current-influencer, I know. But please pick and prepare them right.

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 17

5. Promo Lebih Variatif

Tim Publisis Galih & Ratna layak mendapat apresiasi khusus. Menurut saya, bentuk-bentuk promosi filmnya jauh lebih variatif dan menjangkau usia muda. Saya sempat mewawancarai beberapa cast & crew untuk program streaming JOOX LIVE NOW. Salah satu strategi mereka, adalah pertunjukan konser musik Galih & Ratna di The Hall Kota Kasablanka. Hasilnya? Sejumlah musisi yang mengisi soundtrack sukses bikin ‘pemanasan’ tepat 2 minggu sebelum film diluncurkan.

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 15

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 13

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 14

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 12

GALIH DAN RATNA The Movie 2017 - 10

Atas nama bulan apresiasi musik nasional, mari beramai-ramai datang dan tontonlah selagi tayang di bioskop terdekat. Dukung film Indonesia berkualitas. Happy weekend!

Read more about movies Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016: My Top 5 Highlight

andyna-signature-2017-black

10 Maret 2017

Foto: Film Galih & Ratna

Layar Perak

Quick Change

Banyak cerita menggelitik di balik layar film Quick Change (Eduardo Roy Jr, 2013). Yang paling saya suka, ketika tahu bahwa dewan juri Cinemalaya Philippine Independent Film Festival 2013 sempat berdebat dan bingung memasukkan pemeran utama Mimi Juarez dalam kategori Best Actor atau Best Actress? Oh yes, dear Blog Walkers,  Mimi is a transgender.

Film ini meruncing pada konflik krisis identitas komunitas transgender di tengah kota Manila. How do they survive? How painful they have to pay for an implant? How they might fall in love? And even so much more. Waktu saya nonton filmnya lewat sebuah program pemutaran alternatif di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, forum diskusi dimoderatori oleh Nan Achnas (Kuldesak, 1998; Pasir Berbisik, 2001; Bendera, 2003; The Photograph, 2007). Sementara untuk sesi tanya jawab sang sutradara dilakukan melalui video call interaktif Jakarta-Manila.

Catatan: Mimi Juarez akhirnya melenggang cantik dalam gaun panjang berwarna biru dan dinyatakan menang sebagai Best Actress pada malam penghargaan tersebut.

andyna-signature-2017-black

11 Januari 2017

Video Trailer: Bonfire Productions

Layar Perak

Cek Toko Sebelah

Dari kacamata saya, Ernest Prakasa adalah figur segar yang makin patut disegani dalam industri perfilman Indonesia. Setelah tampil prima bahkan jauh dari kata gagap pada debut pertamanya, Ngenest (2015). Kali ini ia kembali bersinar lewat komedi-drama berjudul Cek Toko Sebelah. Tentu saja dengan tugas rangkap 3 sebagai aktor, penulis, sekaligus sutradara. Sebelum turun layar, izinkan saya mengutarakan 5 alasan mengapa kalian harus segera nonton film ini di bioskop terdekat.

1. Film Keluarga

Ernest semacam bikin signature family portrait dari 2 filmnya. Di sela-sela tawa, kita diajak menyelami permasalahan khas keluarga, namun berfokus pada sudut pandang laki-laki dewasa. Kalau kalian masih punya ayah atau saudara kandung, duduk dan nikmatilah cerita ini bersama mereka.

2. Bhinneka Tunggal Ika

Ada formasi ciamik di balik watak semprul para pemain. Mulai dari para karyawan dan pelanggan Toko Jaya Baru, bos wanita di kantor Koh Erwin, sampai geng main kartu capsa Koh Yohan. Judulnya memang kental beraroma Tionghoa, tapi ternyata isinya justru sangat lekat dengan Indonesia.

3. Comedy in Details

Saya mau salaman sama Artwork Team yang bikin parodi teks pada brand dan tagline semua barang, kaos, sampai flyer di Toko Jaya Baru. Bayangin kalian lagi belanja sembako, terus nemu botol tulisannya “Kecap Manis Banget Ada Lesung Pipi”. Sabi!!

4. GAC & The Overtunes

Di bawah bendera Sony Music, kedua grup musik yang sedang mewarnai tangga lagu radio-radio anak muda ini, ikut ambil bagian dalam mengisi soundtrack. Tuh, film apik bukan berarti lagu temanya mesti sidestream kok. Mainstream juga bisa.

5. IMHO

Well, to be honest with you, tanpa bermaksud menjelekkan. Meskipun sudah tertinggal jauh, saya tetap tidak rela jika jumlah angka penonton Cek Toko Sebelah berada di bawah Hangout milik Raditya Dika yang justru digarap ala kadarnya. Hahaha! Terlalu jujur, Icuk!

andyna-signature-2017-black

6 Januari 2017

Video Trailer: Starvision Plus