Sepotong Sastra

Bumi dan Jingga: Jilid 2

“Makasih ya rekomendasinya. Gila! Aku suka banget Istirahatlah Kata-Kata,” seloroh Jingga di ujung sambungan video call. Mata abu-abunya terjaga. Bibirnya merona tomat segar. Suaranya kian hangat. Helai rambutnya tak teratur menggemaskan. Seketika Bumi iri dengan piyama satin yang tampak lekat membungkus tubuh Jingga. Membayangkan betapa mencumbu setiap lekuk didalamnya adalah candu asmara. Mungkin benar kata orang, perempuan berkali lipat terlihat lebih menawan menjelang pagi tiba.

iamandyna-1

”Cuma ada satu yang kurang.”

”Eh… Ehmmm… Yaitu?”, Bumi kikuk meletupkan buih pikirannya.

”Film kritis kayak gini tuh mesti ditonton sama kamu. Biar diskusinya puas. Hahaha!”

Bumi tersenyum geliat tak karuan. Mereka melewati lagi satu petang khas nokturnal dengan percakapan jenaka. Orang normal mungkin akan berpikir obrolan mereka tak masuk akal dan sia-sia. Biarlah! Toh ini satu-satunya penawar jumpa selama mereka dipisah jarak Jakarta-Victoria.

”Flip Flop yuk! Kita sebutin scene favorit kita masing-masing barengan,” tantang Bumi. Hari gini mana ada yang masih main Flip Flop? Tapi denganmu, Jingga, ia seperti menelan kapsul optimisme yang membuat segalanya ada dan berguna.

Jingga bersemangat, ”Deal! Satu. Dua. Tiga…”

“Pas mati lampu!”, jerit mereka kompak.

”Wah kok sama?”

”Ya kan?! Di situ terasa banget kesendiriannya. Oh iya, closing scene juga dahsyat sih. Waktu Sipon selesai nangis, terus bangkit nyapu ruang tengah dengan latar lagu Fajar Merah. Mereka kayak teriak sekeluarga, tapi cuma dinding rumah yang bisa dengar”, Jingga terhanyut.

tumblr-skiphursh

Jingga. Namanya persis seperti irisan spektrum merah dan kuning dalam koordinat warna. Jenis manusia langka dengan rupa teramat kenes padahal ia tak menyadari itu semua. Berada disampingnya seperti menghisap gas tawa, meski tanpa sebab apa-apa. Bak tiket mesin waktu yang sanggup mengantar imaji impulsifmu pergi kemana saja. Pahamilah, bagi Bumi, Jingga ialah turbulensi paras, bahkan sukma. Ia hadir sebagai sosok yang membuat Bumi tak lagi meremehkan apalah arti sebuah nama.

Read More ➸ Bumi dan Jingga: Jilid 1

Diclaimer:
Ditulis untuk semangat #1Minggu1Cerita

logo

andyna-signature-2017-black

6 Maret 2017

Ilustrasi: Tumblr Non-sense Warehouse, Tumblr Skiphursh

Sepotong Sastra · Tudung Seni

Goenawan Mohamad: Pertalian Sajak dan Suasana

Mendengar nama besar Goenawan Mohamad dalam hingar-bingar jurnalistik Indonesia tentu lekat rasanya. Ia berada pada gardu depan pengkritik keras rezim orde baru lewat kolom politik majalah berita Tempo. Mulai dari didirikan, dibredel, sampai diterbitkan lagi. Ia menjadi penggerak kesadaran perlindungan kekerasan terhadap dunia pers. Ia bahkan melanggengkan kebebasan berekspresi dan berpendapat di negeri ini dengan menjadi pengurus Komunitas Salihara. Serta yang tak henti saya kagumi sejak dulu, ia bertahan teguh menentang pemikiran monodimensional.

GOENAWAN MOHAMAD 20

Namun akhir pekan lalu, saya cukup terkejut mengetahui karya-karya beliau tak lagi hanya dituangkan dalam bentuk tulisan, melainkan juga dipamerkan melalui corat-coret sketsa. Sejurus pandang memasuki pintu depan Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, sebuah neon box putih menyala dengan label hitam bertuliskan Goenawan Mohamad. Kata, Gambar.

GOENAWAN MOHAMAD 19

GOENAWAN MOHAMAD 1

Sejak bertahun-tahun lalu, ternyata sastrawan kelahiran Batang, Jawa Tengah, ini suka menggambar sketsa dan tak pernah diperlihatkan pada orang lain. ”Saya mengikuti pedoman Pak Tino Sidin di acara televisi beberapa puluh tahun lalu; yang penting adalah gemar menggambar, bukan pintar menggambar. Dengan kata lain, tak perlu susah payah untuk hebat, asal senang, dan kalau salah gores, dimaafkan sebelum lebaran”, selorohnya.

GOENAWAN MOHAMAD 14

GOENAWAN MOHAMAD 15

Mas Goen, begitu ia akrab disapa, membagi eksibisi ini menjadi tiga partisi besar. Berseberangan dengan entrance wall, pertama saya menyimak bagian Gambar, Kata Yang Bisu di suatu pojokan. Kita diajak mencerna kumparan puisi sebagai penyempurna gambar. Namun terus terang, saya agak kesulitan mencerna dengan utuh beberapa puisi di ruangan ini. Sebab semua tulisan tangan Mas Goen ditampilkan dengan huruf sambung kecil yang tampak tipis sekali hingga sulit untuk dibaca.

GOENAWAN MOHAMAD 3

GOENAWAN MOHAMAD 11

goenawan-mohamad-18

Bagian kedua yaitu Yang Grotesk alias asal mula kemunculan wajah ganjil yang menakutkan. Jika dilihat dalam konteks budaya timur kita yang rentan dengan seribu satu takhayul, tentu tidaklah asing. Ia mewarnai beragam mitos, dongeng, bahkan percakapan sehari-hari. Tak percaya? Di tengah dinamika media massa secanggih sekarang ini, terbukti masih banyak radio anak muda yang menyiarkan program cerita mistis setiap malam Jumat. Jumlah pendengarnya? Jangan ditanya.

GOENAWAN MOHAMAD 13

“Beberapa jenis hantu diberi nama, muncul dalam teater dan seni rupa: para raksasa dan badut dalam Wayang Jawa dan Pasundan, Ogoh-Ogoh di Bali, Patung Asmat di Papua, Ondel-Ondel Betawi. Kemudian film-film horor dan erotik (Suster Ngesot Goyang Pinggul) yang ingin membuat bulu kuduk dan penis berdiri.” -GM

GOENAWAN MOHAMAD 12

Sedangkan yang terakhir adalah bagian kesukaan saya. Sebuah interpretasi Mas Goen yang ia tangkap dalam bentuk Wajah. Beberapa diantaranya seperti Slamet Rahardjo, W.S Rendra, Salvador Dali, Ana Akhmatova, sampai Fidel Castro. Nama-nama tersebut seakan terlahir kembali lewat wujud definisi baru yang lebih subjektif, tapi tetap bisa dipahami.

GOENAWAN MOHAMAD 8

GOENAWAN MOHAMAD 9

GOENAWAN MOHAMAD 7

Pameran yang dibuka langsung oleh Sri Mulyani ini masih bisa disambangi hingga 5 Maret 2017. Terbuka untuk publik umum tanpa dipungut biaya. Datang dan berkelilinglah perlahan. Resapi pertalian mesra antara goresan sajak dan suasana.

Read more about literature INFATUATE – Cerita Pendek

Disclaimer:
Ditulis untuk semangat gerakan #1Minggu1Cerita

logo

andyna-signature-2017-black

27 Februari 2017

Lokasi: Dia.Lo.Gue Art Space, Jakarta, Indonesia

Foto: Andyna, YouTube Edward Suhadi

Sepotong Sastra · Tudung Seni

TELL TALE: Mengembalikan Ketakjuban

Waktu kecil, mungkin hampir setiap hari muncul letupan-letupan dalam wadah tanda tanya kita. Betapa mata ini takjub pada semesta dan seisinya. Kenapa bulan diam-diam mengikuti langkah manusia? Kenapa rambut nenek kian memutih? Kenapa es krim begitu cepat meleleh? Kenapa semut menempelkan kepalanya jika saling berpapasan? Kenapa orang-orangan sawah terlihat menyeramkan? Kenapa luka akibat jatuh dari sepeda terasa perih? Dan berjuta hal lain yang seringkali, setidaknya bagi saya, jawabannya tidak memuaskan. Kita cenderung dibesarkan dengan keteraturan logika. Dibentuk, dicetak, dipakemkan sesuai kaidah, katanya. Hingga sayang sekali, rasa takjub tadi terkikis, sedikit demi sedikit.

c3jqgtavuaakr9a

tell-tale-suar-art-space-5

Berangkat dari keresahan itulah, Margaret Yap (Reta) dan Addy Debil (Whop) berkolaborasi membuat pameran instalasi seni bertajuk Tell Tale. Reta ialah ilustrator dan penulis dengan latar belakang desain interior. Sementara Whop dikenal sebagai seniman mural yang cukup mudah ditemui karyanya pada dinding-dinding kafe ibukota.

tell-tale-suar-art-space-1

tell-tale-suar-art-space-2

Melalui Tell Tale, kita diajak memasuki lorong khayal berupa tata surya, dengan hiruk-pikuk beraneka monster didalamnya. Usut punya usut, penggarapan teknis materinya hanya dibuat dalam waktu 2 minggu.

tell-tale-suar-art-space-9

tell-tale-suar-art-space-3
tell-tale-suar-art-space-8
Tell Tale sebetulnya menjadi pembingkai inti karya Reta dan Whop berupa peluncuran 2 buah buku ilustrasi cerita. Yang satu ditargetkan untuk pembaca lintas usia. Satu lagi sengaja didedikasikan bagi anak-anak.

Buku pertama oleh Reta diberi judul Kemacetan di Bulan. Ini merupakan refleksi perjalanan tokoh Bayangan ke luar angkasa. Selain ilustrasi, Reta juga menggabungkan beberapa potongan foto selama ia takjub berkeliling Indonesia. Mulai dari Nusa Penida, Sumba, Taman Nasional Komodo, Gunung Papandayan, Belitung, dsb. Seperempat bagian pada tiap halaman lalu diberi rangkaian fiksi yang ia tulis sendiri.

tell-tale-suar-art-space-7

tell-tale-suar-art-space-11

Kemudian buku kedua, Monster’s Tale, adalah upaya Whop dalam mengeksplorasi sosok-sosok anomali, seperti monster. Ia mencoba memposisikan monster lewat kacamata masa kecil. Dengan harapan, anak-anak yang membaca nanti akan terstimulasi untuk melebarkan lorong khayal mereka. Kata siapa monster pasti jelek? Kata siapa monster nafasnya bau? Kata siapa monster tak bisa tersenyum?

tell-tale-suar-art-space-6

Pameran Tell Tale terbuka untuk umum sampai tanggal 25 Februari 2017. Datang, berkeliling, dan nikmatilah tanpa batasan logika. Sebab mengembalikan ketakjuban kita itu perlu adanya. Apalagi, kalau kalian sering bersungut-sungut tidak bahagia.

Read more about art Daft Punk feat. Pharrell Williams – Get Lucky

andyna-signature-2017-black

6 Februari 2017

Lokasi: Jalan Lebak Bulus I No. 55, Jakarta, Indonesia

Foto: Andyna